Minggu, Agustus 16, 2026
spot_img

Praktik Pungli dan ‘Perbudakan Modern’ Bayangi Para Pencaker di Purwakarta

PURWAKARTA – Keberadaan kawasan industri yang menjadi tulang punggung ekonomi di Purwakarta seharusnya menjadi harapan bagi ribuan pencari kerja. Namun, di balik gemerlap pembangunan tersebut, tersimpan realitas pahit yang masih membayangi nasib para pekerja. Praktik pungutan liar (pungli) hingga indikasi “perbudakan modern” masih menjadi ancaman nyata yang merampas hak dan martabat masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Ketua PC SPAMK FSPMI Purwakarta, Wahyu Hidayat. Menurutnya, tingginya angka pengangguran justru dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk membentuk lingkaran setan eksploitasi yang sulit diputus.

“Masih terlalu banyak pekerjaan rumah terkait ketenagakerjaan. Tingginya angka pengangguran yang belum ditunjang dengan link and match serta etos kerja mumpuni, apalagi masih ditemukannya pungli yang membayangi para pencari kerja. Sayangnya, belum ada shock therapy untuk menghentikannya,” ujar Wahyu kepada awak media, Senin (27/4/2026).

Berita Lainnya  Bobby Nasution Jenguk Siswa Korban Keracunan MBG yang Kondisinya Parah

Investigasi di lapangan menemukan pola praktik pungli yang sudah berjalan sistematis. Mulai dari pungutan “uang admin” untuk sekadar mendapatkan informasi lowongan, biaya administrasi fiktif, hingga potongan wajib yang dikenakan kepada pekerja yang baru saja diterima bekerja.

Yang mengkhawatirkan, modus operandi ini tidak hanya dilakukan oleh calo independen, tetapi juga disinyalir melibatkan oknum internal perusahaan maupun agensi penyalur tenaga kerja yang seharusnya menjaga amanah.

Lebih dari sekadar pungutan, Wahyu juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “perbudakan modern”. Istilah ini bukan sekadar kiasan, melainkan gambaran nyata kondisi kerja yang tidak manusiawi.

Banyak pekerja yang terjebak dalam sistem kontrak yang tidak jelas, praktik easy hiring easy firing, keterlambatan pembayaran upah, hingga jam kerja yang sangat panjang dan melelahkan. Tidak hanya secara ekonomi, kebebasan individu pun sering kali dibatasi, sehingga pekerja merasa terperangkap dan tidak berdaya untuk keluar.

Berita Lainnya  Menag Ajak Masyarakat Bersyukur Atas Kepemimpinan Prabowo karena Berada di Jalur yang Tepat

“Pekerja outsourcing dengan status tidak jelas, upah di bawah standar, minim jaminan sosial, hingga pembatasan gerak. Ini adalah bentuk eksploitasi fisik dan ekonomi yang nyata,” ujarnya.

Menanggapi kondisi ini, Wahyu menekankan bahwa permasalahan ini bersifat sistemik dan memerlukan intervensi kebijakan yang kuat. Pihaknya menunggu penyelesaian pembentukan Undang-Undang baru sebagaimana amanat Putusan MK Nomor 168/PUU-XXI/2023 yang diharapkan bisa rampung sebelum Oktober 2026.

Ketiadaan regulasi yang kuat dan penegakan hukum yang dirasa masih tumpul menjadi celah bagi kejahatan ini terus tumbuh. Efektivitas peran Dinas Ketenagakerjaan maupun aparat penegak hukum pun turut dipertanyakan, mengingat minimnya data transparan dan lambannya penindakan terhadap pelaku.

Berita Lainnya  Polisi Tangkap 2 Orang Dalam Kasus Challenge Hafalan Al-Quran Berhadiah Miras

Meskipun masa depan industri di Purwakarta diprediksi terus bertumbuh, Wahyu memberikan peringatan keras agar semua pihak tidak tinggal diam.

“Kita tidak boleh membiarkan masyarakat Purwakarta hanya menjadi penonton, apalagi terpuruk dalam jeratan perbudakan modern yang masih saja marak. Ini butuh kerja sama semua pihak,” kata Wahyu.

Diperlukan tindakan nyata dan terpadu dari pemerintah daerah, kepolisian, dunia usaha, dan serikat pekerja untuk membersihkan dunia ketenagakerjaan dari praktik kotor ini. Jika dibiarkan, bukan hanya citra daerah yang akan ternoda, tetapi nasib ribuan keluarga yang bergantung pada sektor industri akan terus terancam ketidakpastian dan ketidakadilan.***

Sumber : rmoljabar.id

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Peringatan Hari Damai Aceh Berujung Ricuh, Massa Kibarkan Bendera Bulan Bintang, Polisi Tembakan Gas Air Mata

ACEH - Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berakhir ricuh. Agenda doa tolak bala dan zikir akbar yang...

Bobby Nasution Jenguk Siswa Korban Keracunan MBG yang Kondisinya Parah

MEDAN - Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menjenguk salah seorang siswa SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, yang menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi...

Bukan Hanya 269 Siswa di Karo, 45 Siswa di Kota Dumai juga Keracunan MBG

RIAU - Bukan hanya 269 siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dugaan keracunan menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terjadi di Kota Dumai...

Banyak Kasus Keracunan MBG, DPD RI : Anggaran Bahan Makanan Perlu Ditambah Jadi Rp 15-20 Ribu

SEMARANG - Anggota DPD RI Abdul Kholik mengungkapkan, masih banyak aspek yang perlu ditinjau dan dievaluasi dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal...

Kawal Program Presiden Prabowo, PKB Deklarasi ‘Satgas Prabowonomics’

JAKARTA - PKB melalui organisasi sayapnya, Panji Bangsa, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Prabowonomics Panji Bangsa. Satgas tersebut didirikan Panji Bangsa sebagai tindak lanjut dari...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan