Rabu, April 22, 2026
spot_img

Viral Siswa Olok-olok Guru, KDM akan Kirim 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta ke Barak Militer

PURWAKARTA – Alih-alih mendapatkan sanksi skorsing, pihak SMAN 1 Purwakarta akhirnya memilih pendekatan pembinaan dengan memberikan sanksi berupa kegiatan sosial dan penguatan karakter, terhadap 9 siswanya yang viral di media sosial karena mengolok-olok salah seorang gurunya.

Hal ini diketahui, saat Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) berkunjung laangsung ke SMAN 1 Purwakarta pada Selasa (21/4/2026).

KDM memantau langsung kegiatan pembinaan terhadap 9 siswa tersebut. Mereka mengikuti kegiatan refleksi diri berbasis keagamaan di lingkungan sekolah.

“Ini anak-anaknya mereka lagi refleksi. Jadi dari sembilan orang itu ada non-muslim satu orang, delapannya muslim,” ungkap guru Bimbingan Konseling (BK) kepada KDM, dilansir dari tvonenews.com.

Disampaikannya, program pembinaan tersebut dijalankan selama tiga bulan. Setiap hari, para siswa diwajibkan membersihkan area sekolah sebelum mengikuti kegiatan keagamaan.

Untuk siswa muslim, kegiatan diisi dengan tadarus Alquran, sementara siswa non-muslim menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

“Tadi mereka datang pagi bersih-bersih dulu, setelah bersih-bersih mereka ngaji bareng temannya, mereka tadarus satu hari satu juz dibagi bersembilan. Yang satu Kristen, dia bawa Al Kitab sendiri,” lanjut guru BK tersebut.

Berita Lainnya  PHRI Dorong Pemkab Tertibkan THM Tak Berizin, 'Awas! Ada Upeti Masuk Kantong'

Dalam kesempatan itu, KDM juga menggali kondisi keluarga para siswa. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, mayoritas siswa berasal dari keluarga yang cukup dan tidak memiliki persoalan serius di rumah.

“Enggak ada pak, sebagian besar orangtuanya mampu, orangtuanya juga menyesali perbuatan anaknya,” ujar guru BK.

Pihak sekolah menyebut para siswa sempat mengalami tekanan mental usai kasus mereka menjadi perhatian publik. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi psikologis mereka mulai membaik.

“Awalnya syok sekali kayak terpuruk kembali. Sekarang sudah kuat, hadapi kembali,” jelas guru BK.

Respons dari orangtua siswa pun disebut positif. Mereka mendukung langkah sekolah yang dinilai lebih membangun dibandingkan hukuman konvensional seperti skorsing.

“Sama sekali tidak (komplain). (Orangtua) sangat bersyukur dengan aturan yang ada di sini,” kata guru BK.

Berita Lainnya  KDM Minta Samsat Tiru Perbankan, Bayar Pajak Jangan Dibuat Berbelit

Sebagai tindak lanjut, KDM menyiapkan program tambahan untuk memperkuat kedisiplinan para siswa. Mereka dijadwalkan mengikuti pelatihan karakter di barak militer pada Juni mendatang.

“Nanti bulan Juni mereka ikut program barak militer, nanti bareng ketua OSIS yang sekarang,” tegas Dedi.

Bu Syamsiah Sudah Memaafkan Para Siswanya

Sebelumnya diberitakan, Syamsiah, guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMAN 1 Purwakarta, menunjukkan kebesaran hati yang jarang ditemui di tengah derasnya arus viral di media sosial.

Meski menjadi korban olok-olok oleh sembilan siswa hingga videonya tersebar luas, guru yang akrab disapa Bu Atun ini memilih untuk memaafkan sepenuhnya.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Syamsiah meyakini bahwa peran seorang pendidik tidak berhenti pada pemberian sanksi, melainkan membentuk karakter dan akhlak peserta didik agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Syamsiah menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Baginya, penyesalan yang ditunjukkan para siswa sudah menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Berita Lainnya  Dalih Ade Kunang : itu Uang Pinjaman Pribadi untuk Lunasi Utang Biaya Pilkada

“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujar Syamsiah, Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan bahwa tujuan utamanya sebagai guru adalah membimbing, bukan menghukum secara berlebihan.

“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat. Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” tuturnya.

Bagi Syamsiah, perilaku menyimpang siswa merupakan fase yang bisa dilalui dengan pendekatan pendidikan yang tepat.***

Ket foto : Dedi Mulyadi – Bu Syamsiah

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Pengeroyokan Bobotoh di Purwakarta, Polisi Amankan 14 Terduga Pelaku

PURWAKARTA - Peristiwa pengeroyokan brutal terjadi di wilayah Sadang, Kabupaten Purwakarta, Senin (20/4/2026) malam. Dua warga yang diduga Bobotoh menjadi korban kekerasan oleh sekelompok orang...

Masalah Parkir Merembet ke Pokir, Gaya Komunikasi Pimpinan DPRD Karawang Buruk!

Satir Askun : "Keur can jadi mah nu gelo ge ditanya. Pas jadi mah ditanya ge jiga nu gelo" KARAWANG - Praktisi Hukum dan Pengamat...

Mediasi Buntu, Orang Tua Siswa SMAN 2 Kota Bekasi Saling Lapor Polisi

KOTA BEKASI - Perselisihan antara dua siswa SMAN 2 Kota Bekasi berinisial EQ dan ANF berlanjut ke ranah hukum setelah upaya mediasi sekolah belum...

Debt Collector Bentrok dengan Warga di Cakung – Jaktim

JAKARTA - Debt collector bentrok dengan warga di Cakung, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026) sore. Dalam video yang diunggah akun Instagram @warungjurnalis, memperlihatkan sejumlah polisi...

Demo Berlangsung Singkat, GMPI Desak Kejaksaan Selidiki Dugaan Ijon Pokir Dewan

KARAWANG - Tiba sekitar pukul 10.30 WIB, aksi demonstrasi Ormas Gerakan Militansi Perjuang Indonesia (GMPI) di depan gerbang  kantor DPRD Karawang berlangsung singkat, Rabu...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan