Minggu, Oktober 25, 2026
Google search engine

Demo Tak Ditanggapi, Dedi Mulyadi Malah Sebar Konten Framing Mahasiswa

KOTA BEKASI – Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Rafi Priyatna kecewa terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam menanggapi aksi mahasiswa saat momen perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Kota Bekasi di Gedung DPRD Kota Bekasi, Selasa (10/3/2026).

Rafi menilai, respons Dedi tidak menjawab persoalan yang disampaikan mahasiswa dalam aksi tersebut.

“Beliau langsung pergi meninggalkan massa aksi. Tapi langsung menyebar konten yang menurut kami mem-framing aksi yang kami lakukan,” ujar Rafi saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (11/3/2026).

Rafi menjelaskan, dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kota Bekasi, terutama terkait penanganan banjir.

Ia juga menyoroti pembangunan polder di sejumlah kecamatan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu solusi penanggulangan banjir.

Namun, menurutnya, banjir masih terjadi secara masif di sejumlah wilayah, termasuk di daerah yang berada di sekitar fasilitas tersebut.

“Hal ini kami duga terjadi karena pemerintah kurang mengkaji terkait bagaimana polder ini berfungsi secara maksimal,” kata dia.

Berita Lainnya  Wapres Gibran : "Kalau Saya Gak Lulus SMA, Gak Mungkin Saya Bisa Kuliah"

Mahasiswa juga menuntut normalisasi aliran sungai yang dinilai belum merata di Kota Bekasi. Rafi menyebut masih terdapat bangunan komersial yang berdiri di bantaran sungai dan dinilai mengganggu aliran air.

“Hari ini kami masih menemui beberapa titik bangunan komersial yang masih berdiri dan mengganggu aliran sungai,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan kinerja anggota DPRD Kota Bekasi terkait penyertaan modal kepada sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Rafi menyebut nilai penyertaan modal tersebut mencapai sekitar Rp 48 miliar dan diduga belum memiliki dasar peraturan daerah (Perda), sebagaimana tercantum dalam hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2024.

“Dalam hal ini juga kami melihat tidak terjadinya asas-asas umum pemerintahan yang berpotensi menimbulkan dugaan korupsi secara massal di Kota Bekasi,” kata dia.

Rafi mengatakan, mahasiswa sempat berupaya menyampaikan sejumlah tuntutan langsung kepada Dedi Mulyadi. Namun, percakapan yang terjadi disebut hanya berlangsung singkat sebelum gubernur meninggalkan lokasi.

Berita Lainnya  Liput Demo Karhutla, 2 Wartawan Jadi Korban Pengeroyokan Massa Berbaju Hitam

“Dia hanya menyampaikan bahwa ‘iya akan ditindaklanjuti’. Tentu kami selaku massa aksi itu kecewa,” ujar Rafi.

Ia menambahkan, mahasiswa sebenarnya tidak mengetahui bahwa Dedi Mulyadi menghadiri rapat paripurna tersebut.

“Kami baru mengetahui itu di lapangan, sehingga kami cukup antusias karena bisa bertemu langsung dengan beliau,” kata Rafi.

Menurut dia, sebagai kepala daerah di tingkat provinsi, Dedi seharusnya dapat memberikan penjelasan yang lebih komprehensif terhadap persoalan yang disampaikan mahasiswa.

“Ini kan gubernur, pejabat yang kita pilih untuk menyerap aspirasi masyarakat se-Jawa Barat. Tapi kenapa hanya fokus melakukan konten saja?” kata dia.

Penjelasan Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi kemudian mengunggah momen tersebut lewat video di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71.

Dalam video itu, Dedi mengatakan akan mengevaluasi fungsi polder air yang disebut belum optimal dalam menangani banjir di Kota Bekasi.

Berita Lainnya  Cuma Sakit Perut Dibilang Kerasukan Jin, Dukun Palsu di Lebak Cabuli Pasien Gadis 16 Tahun hingga Hamil

Menurut dia, pemerintah perlu melihat lebih jauh persoalan teknis di lapangan sebelum menentukan langkah perbaikan.

“Polder air mana yang belum berfungsi? Kalau belum optimal nanti saya evaluasi. Problem-problemnya akan diselesaikan,” ujar Dedi, dikutip dari akun Instagram pribadinya.

Ia menambahkan, evaluasi tersebut akan melibatkan tim dan para ahli di bidang pengairan agar dapat mengetahui penyebab teknis dari persoalan banjir yang terjadi.

“Nanti problemnya di mana saja secara teknis harus dilihat bersama ahli pengairan agar bisa dicari solusinya,” kata dia.

Dedi juga menilai upaya penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan proses bertahap.

“Saya balik nanya, banjir tahun ini dengan tahun lalu tinggi mana? Tinggi tahun kemarin. Kita kan evaluasi tidak bisa sekaligus, kita lakukan secara bertahap,” ujar dia.***

Sumber : Kompas.com

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Prabowo : “Saya Tidak Mau Jadi Presiden, Rakyat Saya Miskin Terus, Malu Saya”

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyatakan lebih baik tidak menjabat sebagai presiden, jika rakyat Indonesia terus hidup dalam kemiskinan. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Rapat...

Ruko Gudang Makanan Ringan Terbakar, 1 Orang Tewas, Warga Malah Jarah Logistik

BENGKULU - Polresta Bengkulu langsung bergerak cepat mengamankan 12 warga yang diduga kuat melakukan penjarahan barang pascakebakaran maut. Aksi penjarahan logistik makanan ringan ini terjadi...

Kyai Kampung Demo Desak KPK Segera Tangkap Nusron Wahid

JAKARTA - Massa yang menamakan diri sebagai Kader dan Elemen KPK Nahdlatul Ulama (KPK NU) menggelar aksi unjuk rasa serta Istigasah Kubro di depan...

Anak Durhaka Aniaya Ibu Kandung Berakhir Diciduk Polisi, Menangis Saat Ditangkap di Kandang Ayam

PADANG - Tim Klewang Satreskrim Polresta Padang telah menangkap seorang pemuda berinisial L (24 tahun) atau LN di kawasan Arai Pinang, Kecamatan Lubuk Begalung,...

Anggota TNI ini Meminta Maaf Sambil Menangis Setelah Pukul Kepsek Kiyai Kultural NU

LAMONGAN - Sebuah video memperlihatkan seorang Anggota TNI aktif/Babinsa Koramil Glagah, Serma Mamat Syaifudin (MS), sedang bersimpuh dan menangis sambil memeluk M. Munir Thowil...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan