Selasa, Juli 21, 2026
spot_img

Langkah Bupati Aep yang akan Gratiskan LKS Patut Diapresiasi

KARAWANG – Pendidikan yang inklusif dan ramah anak seharusnya menjadi fondasi utama pembangunan daerah. Sayangnya, realitas di lapangan kerap kali memperlihatkan bahwa fokus institusi pendidikan kita masih terjebak pada aspek kosmetik visual dan tata kelola administrasi yang belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan orang tua murid.

Salah satu potret yang paling jelas terlihat adalah keberagaman seragam sekolah yang kian kompleks. Saat ini, setiap sekolah seolah berlomba menampilkan identitas visual yang unik, mulai dari penggunaan rompi, baju olah raga yang pastinya berbeda model,  batik khusus, hingga busana adat seperti kebaya dan baju pangsi.

Secara estetika dan pelestarian budaya, langkah ini tentu memiliki nilai positif. Namun, jika dilihat dari esensi dasar seragam sebagai alat pemersatu dan penekan kesenjangan sosial, tren ini justru berisiko menjadi bumerang.

Berita Lainnya  Saat KSP Dudung Suapkan Langsung MBG ke Siswa SDN 3 Ciseureuh - Purwakarta

Model baju yang terlalu spesifik memaksa orang tua membeli dari vendor tunggal yang ditunjuk oleh sekolah dengan harga yang relatif tinggi, sehingga membatasi pilihan mereka untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau di pasar publik.

Beban psikologis dan finansial keluarga murid kian diperparah oleh sengkarut pengadaan Lembar Kerja Siswa (LKS). Padahal, instrumen hukum seperti Pasal 181 PP No. 17 Tahun 2010 serta Permendikbud No. 75 Tahun 2016 telah memberikan batasan yang sangat ketat yang melarang pendidik, komite, maupun tenaga kependidikan melakukan jual beli bahan ajar di lingkungan sekolah.

Langkah Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, yang menginisiasi program LKS gratis melalui modul pembelajaran mandiri sebenarnya patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya sebagai solusi nyata memotong rantai pungutan.

Sayangnya, niat baik ini menyisakan keluhan mendalam di kalangan warga karena momentum eksekusinya dinilai terlambat. Di media sosial, banyak orang tua mengeluhkan bahwa mereka sudah terlanjur mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk membeli paket LKS sebelum program gratis tersebut resmi berjalan.

Berita Lainnya  Tuai Banyak Pujian, Luna Maya Bangun Gedung Taman Kanak-kanak di NTT

Hal ini memicu sebuah ironi besar: sekolah yang jargonnya “gratis” ternyata masih menyisakan banyak variabel pengeluaran tidak terduga yang harus dipikul secara mandiri oleh masyarakat.
Di tengah beban biaya pelengkap yang menjerat tersebut, perhatian kita juga terdistraksi oleh kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan.

Sungguh sebuah pemandangan yang kontradiktif ketika siswa dituntut tampil rapi dengan atribut seragam yang elok, tetapi mereka harus mengikuti proses belajar di bawah plafon kelas yang kumuh dan rawan ambruk, kusen jendela yang sudah lapuk, serta fasilitas gedung yang tidak lagi layak huni.

Berita Lainnya  Dedi Mulyadi Siapkan Beasiswa Pelatihan ke Inggris bagi Siswa dan Guru Berprestasi di 'Sekolah Maung'

Ketidaknyamanan infrastruktur ini jelas mengancam keselamatan dan mengganggu konsentrasi belajar anak didik.

Pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada isi tas atau pakaian luar siswa, melainkan juga harus memastikan keamanan atap yang menaungi kepala mereka.

Ke depan, program LKS gratis di Kabupaten Karawang perlu dibarengi dengan akselerasi perbaikan gedung-gedung sekolah yang rusak secara masif dan transparan.

Pendidikan yang bermartabat akan terwujud apabila ada keselarasan antara kebijakan yang cekatan, lingkungan belajar yang aman, serta pembebasan biaya sekolah yang benar-benar bersih dari segala bentuk pembiayaan yang dibebankan kepada orang tua siswa.***

Penulis ;

Joko Sugiono (Ono Sutajaya)
Wasekjend Paguyuban Dawuan Cikampek Bersatu

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Ade Kunang Akui Terima Rp8,5 Miliar dari Sarjan, ‘Katanya’ Duit Pinjaman Pribadi, Bukan Gratifikasi

BANDUNG - Sidang suap ijon proyek Bekasi mengungkap dua fakta penting yang menjadi inti pembelaan terdakwa Ade Kuswara Kunang. Selain mengakui menerima uang Rp8,5...

Diduga Soal Perbuatan Asusila, Kadishub Karawang Dilaporkan ke BKN

KARAWANG - Diduga soal kasus asusila yang menjerat Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Karawang, Muhana, Sekjen LSM Kompak Reformasi, Pancajihadi Al Panji membuat laporan ke...

Demo di Kejagung Nyaris Ricuh, Polisi Hampir Adu Fisik dengan Mahasiswa

JAKARTA - Aksi demonstrasi mahasiswa di Gedung Bundar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, nyaris ricuh. Polisi hampir...

19 Orang Diamankan, KPK OTT Bupati Lombok Barat

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap 19 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di wilayah Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Senin...

Pernyataan ‘Menyesatkan’, Kantor Hukum Hotman Paris Didemo

JAKARTA - Massa yang mengatasnamakan Aktivis Connection melakukan aksi demonstrasi di depan kantor firma hukum Hotman Paris & Partner, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan