Selasa, November 3, 2026
Google search engine

Langkah Bupati Aep yang akan Gratiskan LKS Patut Diapresiasi

KARAWANG – Pendidikan yang inklusif dan ramah anak seharusnya menjadi fondasi utama pembangunan daerah. Sayangnya, realitas di lapangan kerap kali memperlihatkan bahwa fokus institusi pendidikan kita masih terjebak pada aspek kosmetik visual dan tata kelola administrasi yang belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan orang tua murid.

Salah satu potret yang paling jelas terlihat adalah keberagaman seragam sekolah yang kian kompleks. Saat ini, setiap sekolah seolah berlomba menampilkan identitas visual yang unik, mulai dari penggunaan rompi, baju olah raga yang pastinya berbeda model,  batik khusus, hingga busana adat seperti kebaya dan baju pangsi.

Secara estetika dan pelestarian budaya, langkah ini tentu memiliki nilai positif. Namun, jika dilihat dari esensi dasar seragam sebagai alat pemersatu dan penekan kesenjangan sosial, tren ini justru berisiko menjadi bumerang.

Berita Lainnya  Mulai 2027, Sekolah di Karawang Bakal Ada Ekstrakurikuler Baca Tulis Qur'an

Model baju yang terlalu spesifik memaksa orang tua membeli dari vendor tunggal yang ditunjuk oleh sekolah dengan harga yang relatif tinggi, sehingga membatasi pilihan mereka untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau di pasar publik.

Beban psikologis dan finansial keluarga murid kian diperparah oleh sengkarut pengadaan Lembar Kerja Siswa (LKS). Padahal, instrumen hukum seperti Pasal 181 PP No. 17 Tahun 2010 serta Permendikbud No. 75 Tahun 2016 telah memberikan batasan yang sangat ketat yang melarang pendidik, komite, maupun tenaga kependidikan melakukan jual beli bahan ajar di lingkungan sekolah.

Langkah Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, yang menginisiasi program LKS gratis melalui modul pembelajaran mandiri sebenarnya patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya sebagai solusi nyata memotong rantai pungutan.

Sayangnya, niat baik ini menyisakan keluhan mendalam di kalangan warga karena momentum eksekusinya dinilai terlambat. Di media sosial, banyak orang tua mengeluhkan bahwa mereka sudah terlanjur mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk membeli paket LKS sebelum program gratis tersebut resmi berjalan.

Berita Lainnya  Aliansi Mahasiswa UBP Karawang Desak Rektorat Penuhi 8 Tuntutan, dari UKT hingga Batalkan Pembekuan Ormawa

Hal ini memicu sebuah ironi besar: sekolah yang jargonnya “gratis” ternyata masih menyisakan banyak variabel pengeluaran tidak terduga yang harus dipikul secara mandiri oleh masyarakat.
Di tengah beban biaya pelengkap yang menjerat tersebut, perhatian kita juga terdistraksi oleh kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan.

Sungguh sebuah pemandangan yang kontradiktif ketika siswa dituntut tampil rapi dengan atribut seragam yang elok, tetapi mereka harus mengikuti proses belajar di bawah plafon kelas yang kumuh dan rawan ambruk, kusen jendela yang sudah lapuk, serta fasilitas gedung yang tidak lagi layak huni.

Berita Lainnya  Mulai 2027, Sekolah di Karawang Bakal Ada Ekstrakurikuler Baca Tulis Qur'an

Ketidaknyamanan infrastruktur ini jelas mengancam keselamatan dan mengganggu konsentrasi belajar anak didik.

Pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada isi tas atau pakaian luar siswa, melainkan juga harus memastikan keamanan atap yang menaungi kepala mereka.

Ke depan, program LKS gratis di Kabupaten Karawang perlu dibarengi dengan akselerasi perbaikan gedung-gedung sekolah yang rusak secara masif dan transparan.

Pendidikan yang bermartabat akan terwujud apabila ada keselarasan antara kebijakan yang cekatan, lingkungan belajar yang aman, serta pembebasan biaya sekolah yang benar-benar bersih dari segala bentuk pembiayaan yang dibebankan kepada orang tua siswa.***

Penulis ;

Joko Sugiono (Ono Sutajaya)
Wasekjend Paguyuban Dawuan Cikampek Bersatu

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Hashim Sebut Seharusnya Tukang Cukur hingga Warteg Dikenai Pajak untuk Biayai MBG dan Kopdes

JAKARTA - Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia sekaligus Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo (adik Presiden Prabowo Subianto), memberikan pernyataan terkait potensi ekonomi informal dalam...

Heboh Jasad Bayi Berubah Jadi Bantal Guling Saat akan Dimakamkan

BONTANG - Kasus menghebohkan terjadi di Kelurahan Loktuan, Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur. Yaitu dimana jasad seorang bayi berubah menjadi bantal guling saat...

Polda Metro Jaya Sampaikan Permohonan Maaf, Sebut akan Selidiki ‘Mahasiswa Gadungan’

JAKARTA - Polda Metro Jaya menyampaikan permohonan maaf soal polemik 'Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026' yang digelar di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Polda Metro...

PNS di Bandung Meninggal Dunia, Setelah Pergoki Pencurian Ayam Bangkok

BANDUNG - Seorang warga berinisial DYZ (64 tahun) yang merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) meninggal dunia, setelah memergoki pencurian ayam bangkok di kediamannya...

Warga Lagi Asik Ngopi Tiba-tiba Ditampar, Kapolres Kapuas Hulu Sampaikan Permohonan Maaf

KAPUAS HULU - Setelah videonya viral di media sosial, Kapolres Kapuas Hulu, AKBP Wisnu Perdana Putra, menyampaikan permohonan maaf setelah menampar seorang warga bernama...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan