Minggu, Juli 26, 2026
spot_img

Demo Tak Ditanggapi, Dedi Mulyadi Malah Sebar Konten Framing Mahasiswa

KOTA BEKASI – Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Rafi Priyatna kecewa terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam menanggapi aksi mahasiswa saat momen perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Kota Bekasi di Gedung DPRD Kota Bekasi, Selasa (10/3/2026).

Rafi menilai, respons Dedi tidak menjawab persoalan yang disampaikan mahasiswa dalam aksi tersebut.

“Beliau langsung pergi meninggalkan massa aksi. Tapi langsung menyebar konten yang menurut kami mem-framing aksi yang kami lakukan,” ujar Rafi saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (11/3/2026).

Rafi menjelaskan, dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kota Bekasi, terutama terkait penanganan banjir.

Ia juga menyoroti pembangunan polder di sejumlah kecamatan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu solusi penanggulangan banjir.

Namun, menurutnya, banjir masih terjadi secara masif di sejumlah wilayah, termasuk di daerah yang berada di sekitar fasilitas tersebut.

“Hal ini kami duga terjadi karena pemerintah kurang mengkaji terkait bagaimana polder ini berfungsi secara maksimal,” kata dia.

Berita Lainnya  Korupsi Batu Bara PLN, Polisi Bongkar Brankas Emas Batangan hingga Dollar Senilai Ratusan Miliar

Mahasiswa juga menuntut normalisasi aliran sungai yang dinilai belum merata di Kota Bekasi. Rafi menyebut masih terdapat bangunan komersial yang berdiri di bantaran sungai dan dinilai mengganggu aliran air.

“Hari ini kami masih menemui beberapa titik bangunan komersial yang masih berdiri dan mengganggu aliran sungai,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan kinerja anggota DPRD Kota Bekasi terkait penyertaan modal kepada sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Rafi menyebut nilai penyertaan modal tersebut mencapai sekitar Rp 48 miliar dan diduga belum memiliki dasar peraturan daerah (Perda), sebagaimana tercantum dalam hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2024.

“Dalam hal ini juga kami melihat tidak terjadinya asas-asas umum pemerintahan yang berpotensi menimbulkan dugaan korupsi secara massal di Kota Bekasi,” kata dia.

Rafi mengatakan, mahasiswa sempat berupaya menyampaikan sejumlah tuntutan langsung kepada Dedi Mulyadi. Namun, percakapan yang terjadi disebut hanya berlangsung singkat sebelum gubernur meninggalkan lokasi.

Berita Lainnya  KPK Dalami Aliran Dana Rp100 juta ke Gus Miftah dalam Kasus Korupsi Proyek JGSS

“Dia hanya menyampaikan bahwa ‘iya akan ditindaklanjuti’. Tentu kami selaku massa aksi itu kecewa,” ujar Rafi.

Ia menambahkan, mahasiswa sebenarnya tidak mengetahui bahwa Dedi Mulyadi menghadiri rapat paripurna tersebut.

“Kami baru mengetahui itu di lapangan, sehingga kami cukup antusias karena bisa bertemu langsung dengan beliau,” kata Rafi.

Menurut dia, sebagai kepala daerah di tingkat provinsi, Dedi seharusnya dapat memberikan penjelasan yang lebih komprehensif terhadap persoalan yang disampaikan mahasiswa.

“Ini kan gubernur, pejabat yang kita pilih untuk menyerap aspirasi masyarakat se-Jawa Barat. Tapi kenapa hanya fokus melakukan konten saja?” kata dia.

Penjelasan Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi kemudian mengunggah momen tersebut lewat video di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71.

Dalam video itu, Dedi mengatakan akan mengevaluasi fungsi polder air yang disebut belum optimal dalam menangani banjir di Kota Bekasi.

Berita Lainnya  Dualisme KADIN Karawang Buat Dunia Usaha dan Industri Jadi Bingung

Menurut dia, pemerintah perlu melihat lebih jauh persoalan teknis di lapangan sebelum menentukan langkah perbaikan.

“Polder air mana yang belum berfungsi? Kalau belum optimal nanti saya evaluasi. Problem-problemnya akan diselesaikan,” ujar Dedi, dikutip dari akun Instagram pribadinya.

Ia menambahkan, evaluasi tersebut akan melibatkan tim dan para ahli di bidang pengairan agar dapat mengetahui penyebab teknis dari persoalan banjir yang terjadi.

“Nanti problemnya di mana saja secara teknis harus dilihat bersama ahli pengairan agar bisa dicari solusinya,” kata dia.

Dedi juga menilai upaya penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan proses bertahap.

“Saya balik nanya, banjir tahun ini dengan tahun lalu tinggi mana? Tinggi tahun kemarin. Kita kan evaluasi tidak bisa sekaligus, kita lakukan secara bertahap,” ujar dia.***

Sumber : Kompas.com

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Kebakaran Hebat Hanguskan 70 Rumah Adat di Sukabumi

SUKABUMI - Kebakaran meratakan permukiman di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi. Total 70 rumah di lokasi ludes terbakar. Laporan kebakaran itu terjadi...

Febri Diansyah Jadi Pengacara Febrie Adriansyah

JAKARTA - Eks Juru Bicara KPK, Febri Diansyah bertindak sebagai Kuasa Hukum mantan Jampidsus Febrie Adriansyah pada kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian...

Blunder Pernyataan Sudaryono: “Makan Bergizi Adalah Tender Politiknya Presiden Prabowo”

JAKARTA - Baru saja dilantik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN),  Sudaryono sudah mengeluarkan pernyataan yang dinilai 'blunder', karena menyebut program Makan Bergizi Gratis...

Yusril Minta Dedi Mulyadi Hentikan Sayembara Buru Begal: “Beresiko Warga Main Hakim Sendiri”

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, mengaku tidak setuju dengan keputusan Gubernur...

Resmi Ditahan, Febrie: “Saya Merasa ini Kriminalisasi”

JAKARTA - Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah resmi ditahan usai menjalani pemeriksaan maraton oleh Tim 9 Kejaksaan Agung,...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan