Selasa, September 15, 2026
spot_img

Sebut Pemerintah dan Rakyat Sama-sama Koruptif, Pernyataan KDM Kembali Jadi Kontroversi

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini soal pernyataan kontroversialnya yang menyebut jika pemerintah dan rakyat sama-sama memiliki sifat koruptif.

Pernyataan tersebut disampaikan KDM saat menjadi pembicara di kegiatan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Dalam potongan video yang beredar di media sosial, KDM menekankan bahwa rakyat masa kini berbeda dengan rakyat era 1960-an atau 1970-an.

Menurut Dedi Mulyadi, karakter masyarakat sekarang sama dengan pemimpin, yakni mempunyai potensi serakah.

“Rakyat hari ini adalah rakyat tahun ini yang karakternya sama dengan kita. Sama buasnya, kadang sama serakahnya. Cuma beda tingkatan kekuasaannya,” ujarnya.

“Ini rakyat, Pak. Jadi, sifat koruptif, sifat nepotisme bukan hanya milik politisi kayak Dedi Mulyadi. Enggak usah menunggu orang lain, tetapi juga yang lain juga punya karakter itu, punya karakter serakah,” lanjutnya.

Berita Lainnya  BRI Cabang Karawang Disomasi Pengusaha, Gegara Diduga Salah Menjual Objek Lelang

Sebagai konteks, dalam kesempatan tersebut Dedi Mulyadi menjelaskan tentang program perhutanan sosial yang menurutnya sering disalahgunakan.

Namun, menurut dia, lahan garapan justru dijual dan dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman.

Potongan video ucapan Dedi Mulyadi yang menyebut pemerintah dan rakyat sama-sama koruptif itu pun viral di media sosial.

Ucapan Dedi Mulyadi pun menimbulkan pro dan kontra di kalangan warganet.

Tak sedikit warganet yang tidak setuju dan pernyataan tersebut karena pemerintah dan rakyat memiliki kedudukan yang berbeda.

Lantas, apa kata Dedi Mulyadi soal viralnya ucapan tersebut?

Dedi Mulyadi mengatakan bahwa ucapan menyamakan pemerintah dan rakyat memiliki sifat koruptif datang dari pengalamannya.

“Sama, ya sama, saya kan punya pengalaman. Dikasih kios satu, ingin adiknya masuk, pengen saudaranya masuk, ingin menguasai seluruh kios gratis. Kan ada pengalaman,” kata Dedi Mulyadi, dikutip dari Kompas.com, Selasa (26/8/2025).

Berita Lainnya  Siswi Berprestasi di Karo yang Keracunan MBG Alami Gangguan Ingatan hingga 70 Persen

Menurut Dedi Mulyadi, pengalaman tersebut terjadi saat ia menjadi warga di kampung maupun menjabat di Purwakarta.

Dedi menuturkan, ada warga yang diberi fasilitas tempat usaha secara gratis, tetapi justru disewakan kepada orang lain dengan harga tinggi.

“Pengalaman saya dulu di Pasar Rebo Purwakarta. Video YouTube-nya ada, lapak disewakan Rp11 juta, padahal itu gratis disediakan bagi pedagang,” ungkapnya.

Dedi Mulyadi menilai bahwa perilaku tersebut menunjukkan adanya potensi koruptif yang bukan hanya melekat pada pejabat, tetapi juga pada masyarakat.

“Jadi, ya potensi koruptif itu bukan hanya pada kita ini, para politisi, termasuk diri saya, masyarakat juga sama punya sifat koruptif,” ucapnya.

Menurutnya, karena sifat serakah adalah bagian dari fitrah manusia, negara memiliki fungsi penting untuk mengatur agar tidak terjadi penyalahgunaan.

Berita Lainnya  PMI Icih Dipulangkan ke Karawang, JABIS Dorong Pengusutan Sponsor Ilegal

“Itu fitrah manusia. Setiap manusia itu punya potensi dalam dirinya serakah,” tutur Dedi Mulyadi.

“Makanya, fungsi negara itu mengatur agar kebuasan itu tunduk pada undang-undang. Intinya kan itu,” jelas Dedi.

Ia menekankan, baik pemimpin maupun rakyat sama-sama harus memperbaiki diri dan taat pada aturan.

“Bagi saya, mau pemimpin, mau rakyat, ya dua-duanya harus bener, gitu lho,” kata Dedi.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Viral Dedi Mulyadi Samakan Pemerintah dan Rakyat Punya Sifat Koruptif, Gubernur Jabar Klarifikasi, https://jabar.tribunnews.com/jabar-istimewa/1144304/viral-dedi-mulyadi-samakan-pemerintah-dan-rakyat-punya-sifat-koruptif-gubernur-jabar-klarifikasi?page=2.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Berawal dari ‘Heureuy’, Pejabat Dishub Sukabumi Lecehkan Siswi PKL, Berakhir Dijemput Polisi

SUKABUMI - Seorang oknum pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sukabumi berinisial TIP yang diduga melakukan pelecehan terhadap siswi Praktik Kerja Lapangan (PKL) telah dijemput...

Tegas! Pemprov Jabar Tutup Aktivitas Pertambangan PT. MPB di Karawang Selatan

KARAWANG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menutup aktivitas pertambangan PT. Mas Putih Belitung  (anak perusahaan PT. Jui Shin Indonesia), yang tidak mematuhi ketentuan...

Singgung Soal ‘Ideologi Politik’, Kepala BGN Malah Salahkan Guru, Orang Tua Siswa, Wartawan hingga LSM yang ‘Ngeramein’ Keracunan MBG

JAKARTA - Meski total korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mencapai hampir 50 ribu orang yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia,...

KDM Nyatakan Tidak Ada Pelecehan di Kasus Wabup Sumedang dengan Sekprinya, Netizen Tak Percaya : “Ekspresi Tidak Bisa Berbohong”

BANDUNG - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Wakil Bupati Sumedang, Muhammad Fajar Aldila terhadap sekretaris pribadinya berinisial RY dinyatakan 'clear' oleh Gubernur Jawa...

Disuruh Beli Mi Goreng Malah Mi Kuah, Prajurit TNI AU Meninggal Dianiaya Senior

JAKARTA - Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF), prajurit TNI AU di Magetan, Jawa Timur (Jatim), meninggal secara tak wajar setelah diduga dianiaya seniornya di...

Hukum

KPK Tangkap 17 Orang Terkait Pengurusan HGB di Kabupaten Bogor

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap 17 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Jabodetabek, pada Senin (14/9/2026). Beberapa di antaranya ada Direktur...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan