Kamis, Mei 14, 2026
spot_img

Jerit Petani di Kota Lumbung Padi, PBB Membengkak Meski Sudah Bayar

KARAWANG – Tangis tak selalu datang dari ladang yang kering. Kadang, ia mengalir di ruang-ruang rapat yang dingin. Di salah satu bilik rapat DPRD Karawang, Jumat (3/10/2025) siang itu, suara jeritan hati para petani menggema. Bukan karena gagal panen, atau bukan pula soal harga pupuk yang meroket.

Kedatangan para petani dibawah komando Deden Sofian-Ketua STAKAR (Serikat Tani Karawang) ini adalah untuk mengadukan persoalan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang tiba-tiba membengkak, meski mereka merasa sudah membayar.

Salah satu suara paling pilu datang dari Narmi, seorang petani perempuan asal Rawamerta. Ia berdiri di hadapan anggota Komisi II DPRD Karawang dan perwakilan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) dengan mata berkaca-kaca.

“Mungkin bukan saya doang, tapi hampir semua yang bernasib sama. Kami sudah bayar lewat desa, tapi sekarang katanya harus bayar lagi,” keluhnya getir.

Keluhan Narmi ternyata bukan kasus tunggal. Sejumlah petani dari berbagai kecamatan di Karawang mengalami hal serupa. Mereka terkejut ketika ingin mengurus balik nama atau mencetak ulang SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang), dan mendapati tunggakan PBB yang nilainya jutaan rupiah. Padahal, tahun demi tahun mereka merasa telah melunasi kewajiban itu seperti biasa melalui perangkat desa.

Masalah ini berakar dari sebuah kebiasaan yang telah berlangsung puluhan tahun, membayar PBB melalui RT, RW, atau aparat desa. Dulu, ini adalah cara yang paling mudah dan dipercaya masyarakat desa. Mereka menyerahkan uang, mendapatkan kuitansi manual, lalu merasa tenang. Pajak dianggap lunas.

Berita Lainnya  Pemkab Bekasi Tandatangani PKS dengan PT. Asiana untuk Olah Sampah TPA Burangkeng

Sejak tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Karawang mengubah sistem pembayaran PBB secara menyeluruh. Demi meningkatkan akurasi data dan mencegah kebocoran, pembayaran kini hanya diakui jika dilakukan melalui kanal resmi yang terintegrasi langsung dengan kas daerah.

“Warga sekarang harus membayar lewat Bank BJB, kantor pos, Indomaret, Alfamart, Tokopedia, Bukalapak, atau kanal digital lain yang sudah bekerja sama dengan pemerintah,” tegas Sahali Kartawijaya, Kepala Bapenda Karawang.

Ia menambahkan, kuitansi dari aparat desa meskipun ada dan terlihat sah tidak akan tercatat jika tidak masuk ke sistem perbankan. Akibatnya, meski warga merasa sudah bayar, dalam sistem, tagihan tetap muncul.

Para petani saat audiensi dengan DPRD Karawang.

Uang Melayang, Pajak Menggantung

Yang membuat situasi makin menyakitkan adalah kenyataan bahwa pembayaran yang sudah dilakukan melalui desa tidak bisa diklaim ulang jika tidak ada bukti pembayaran resmi. Bapenda menegaskan, hanya struk bank atau mitra digital yang dianggap sah.

“Kami memahami keresahan warga, tapi kami tidak bisa mengakui pembayaran yang tidak masuk ke sistem resmi. Sistem kami berbasis digital dan terhubung langsung dengan kas daerah. Kalau tidak terekam di sana, secara hukum itu dianggap belum bayar,” lanjut Sahali.

Berita Lainnya  Jadi Sorotan Satelit NASA, Kota Bekasi Disebut Salah Satu Kota Paling Beracun di Dunia

Petani pun terjepit di antara dua batu: ingin taat pajak, tapi terperangkap dalam sistem lama yang tak lagi berlaku. Mereka harus membayar lagi untuk menyelesaikan urusan legalitas tanah, padahal uang sudah keluar sebelumnya.

Beberapa bahkan mengaku sudah membayar PBB lebih dari 5 tahun berturut-turut lewat desa—dan semuanya kini dianggap belum sah.

Tanggung Jawab Siapa?

Di tengah keresahan ini, muncul pertanyaan besar: siapa yang harus bertanggung jawab?

DPRD Karawang mendesak Bapenda dan pemerintah desa untuk duduk bersama mencari solusi. Anggota Komisi II DPRD Karawang, Dedi Suherman, menilai perlu adanya upaya mediasi dan edukasi yang lebih masif ke masyarakat.

“Ini bukan hanya soal sistem, tapi soal komunikasi dan transisi yang belum selesai. Warga butuh kejelasan. Jangan sampai mereka yang sudah beritikad baik justru jadi korban,” ujar Dedi.

Di sisi lain, beberapa pihak menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aparat desa yang masih menarik pembayaran pajak secara manual, padahal sistem sudah digital. Dugaan adanya pungutan liar pun mulai menyeruak, meski belum ada bukti konkret.

Pelajaran Mahal: Ikuti Sistem, Hindari Kerugian

Berita Lainnya  Gaduh Duit Sogokan Rekrutmen Nakes, Askun : Karawang Harus Bersih dari Oknum ASN Biadab

Kisah Narmi dan para petani lainnya menjadi cermin mahal tentang pentingnya mengikuti sistem baru dalam urusan keuangan negara. Pemerintah telah membuka banyak kanal pembayaran resmi yang mudah diakses, bahkan oleh warga desa yang minim teknologi.

Namun kenyataannya, budaya lama sulit diubah hanya dengan surat edaran. Dibutuhkan pendekatan langsung, sosialisasi intensif, dan pendampingan aktif agar masyarakat benar-benar paham dan siap beradaptasi.

Jangan Dua Kali Membayar

Hingga hari ini, tak sedikit warga yang masih berjuang membuktikan bahwa mereka pernah membayar. Tapi tanpa bukti digital atau struk dari kanal resmi, perjuangan itu cenderung sia-sia.

Narmi dan kawan-kawannya kini hanya bisa berharap agar pemerintah membuka ruang penyelesaian yang adil bukan semata-mata berdasarkan sistem, tapi juga berdasar realitas di lapangan.

Bagi warga lain, ini adalah peringatan keras: soal pajak, jangan anggap enteng. Pastikan membayar lewat jalur resmi, simpan bukti pembayaran, dan jangan lagi serahkan nasib pajak pada kebiasaan lama.

Karena dalam dunia yang serba digital, sistem tak lagi mengenal “kata orang desa.” Yang diakui hanya data dan data tak pernah berbohong. (NuansaMetro)

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Rivalitas Sepak Bola Cukup 2 x 45 Menit di Dalam Lapangan, Bobotoh Diimbau Tak Mudah Termakan Kabar Hoaks di Medsos

KARAWANG - Kurang dari 2 x 24 jam, akhirnya pihak kepolisian dari Polres Karawang berhasil meringkus pelaku pembunuhan AF (15), pelajar SMK asal Kecamatan...

Tidak Ada Kaitannya dengan Bentrok Suporter, Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Pelajar di Batujaya

KARAWANG - Kurang dari 2 x 24 jam, akhirnya Polres Karawang berhasil meringkus pelaku pembunuhan AF (15), seorang pelajar yang jasadnya ditemukan di bantaran...

Rebutan Pacar, Pelajar SMP di Bekasi Tewas Ditusuk Usai Saling Tantang di Medsos

KOTA BEKASI - Seorang anak di bawah umur tewas ditusuk usai saling ejek hingga saling tantang di media sosial (medsos) di Pondok Melati, Kota...

Ustaz di Purwakarta Diduga Cabuli Murid, Polisi Sebut Ada 6 Korban di Bawah Umur

PURWAKARTA - Satreskrim Polres Purwakarta, Jawa Barat, menangkap seorang ustaz yang diduga telah melakukan pencabulan terhadap muridnya di sebuah majelis taklim tempatnya mengajar. Kasat Reskrim...

LMP dan Brigez Kembali Sambangi Kejari Bekasi, Pertanyakan Laporan Dugaan Korupsi dan TPPU Dirut PDAM Tirta Bhagasasi

BEKASI – Ormas Laskar Merah Putih (LMP) bersama Brigez, menyambangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari), Kabupaten Bekasi untuk memfollow-up laporannya pada 20 April 2026 lalu. Kedatangan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan