DALAM perjalanan karir politik dan kepemimpinannya, Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) kerap membuat kebijakan yang kontroversial. Bahkan sebagian publik menilai kebijakan-kebijakan KDM dibuat secara spontan, tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu bersama unsur pemangku kebijakan lain, sebut saja diantaranya seperti unsur legislatif.
Saat menjabat Bupati Purwakarta, KDM sempat difitnah oleh kelompok Ormas islam sebagai ‘Pemimpin Musyrik’, karena banyak membuat patung tokoh pewayangan yang menghiasi seluruh penjuru Kota Purwakarta.
Bahkan saat baru-baru menjabat Gubernur Jabar, KDM membuat kebijakan kontroversial yang akhirnya membuat MUI angkat bicara. Yaitu dimana KDM mengharuskan setiap kepala keluarga melakukan vasektomi sebagai syarat penerimaan Bantuan Sosial (Bansos).
MUI Jabar menyebut jika vasektomi haram dan melanggar syariat islam, selama dilakukan bukan karena alasan medis atau keselamatan nyawa seseorang.
Teranyar, KDM mengaku ada orang yang mengebutnya ‘Anti Islam’, hanya karena alasan ia telah mengganti nama Rumah Sakit Al Ihsan Bandung menjadi Rumah Sakit Welas Asih.
“Bahkan saya dianggap sebagai orang yang anti islam, ini menarik banget. Itu adalah tentang perubahan nama Rumah Sakit Al Ihsan menjadi Rumah Sakit Welas Asih,” tutur KDM, dilansir Opiniplus.com dari instagram pribadinya, Jumat (4/7/2025).

Menurut KDM, kritikan-kritikan terhadap dirinya ini justru berasal dari warga di luar Jabar, khususnya warga Jakarta. Entah itu datangnya dari pengamat, aktivis, influenzer atau bahkan buzzer sekalipun.
“Padahal kalau diartikan secara bahasa, Al Ihsan artinya kebaikan. Sementara Welas Asih dalam bahasa arab adalah Ar Rahman dan Ar Rahim. Artinya, antara Al Ihsan dan Welas Asih memiliki makna yang tidak jauh berbeda soal kebaikan,” katanya.
Tetapi seperti biasanya, KDM seperti menganggap kritikan-kritikan tersebut hal biasa saja. Sehingga KDM masih berpikiran positif. Meskipun ia disebut pemimpin anti islam.
“Tentunya otokritik ini baik. Dan yang paling utama adalah di jajaran manajemen rumah sakit, menggunakan nama-nama yang indah harus seiring dengan kualitas pelayanan yang baik. Apalagi menggunakan nama-nama yang itu sakral dan spiritual,” katanya.
Sementara dilansir dari CNN Indonesia, Analisis Hukum Ahli Pertama RSUD Al Ihsan, Zidney Fahmidyan mengatakan, perubahan nama tersebut merupakan arahan dari Gubernur Jabar.
“Sebetulnya untuk tindak lanjut arahan dari Pak Gubernur langsung ya, bahwa harapannya beliau rumah sakit Al-Ihsan itu sudah akan berubah menjadi rumah sakit Welas Asih. Yang dimana untuk pergub, untuk Keputusan Gubernur Jawa Baratnya sudah dari 19 Juni,” kata Zidney, saat diwawancarai wartawan, Selasa (1/7/2025).
Zidney mengatakan pihak manajemen rumah sakit pun telah mulai untuk proses perubahan nama tersebut. “Tinggal pelaksanaan persiapan yang dari bawahnya menuju ke 100 persen,” katanya.***










