KOTA BEKASI – Suasana berbeda tampak di Stasiun Bekasi Timur beberapa hari setelah tragedi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Jakarta–Cikarang pada Senin (27/4/2026) malam.
Sejumlah buket bunga membanjiri beberapa sudut stasiun sebagai bentuk ucapan bela sungkawa dari warga yang sehari-harinya sudah terbiasa beraktivitas di Stasiun KA Bekasi Timur.
Di sudut-sudut peron, deretan buket bunga memenuhi area stasiun, disertai secarik kertas berisi pesan duka dan doa bagi para korban.
Aroma bunga yang semerbak bercampur dengan kesibukan penumpang yang tetap berlalu-lalang, menciptakan suasana haru yang tak biasa.
Di tengah aktivitas stasiun yang kembali berjalan, jejak empati dari masyarakat terasa begitu kuat.
Sabrina (24), salah satu penumpang KRL, tampak meletakkan karangan bunga yang dibawanya di area stasiun.
Ia sengaja membawa bunga tersebut untuk menyampaikan duka cita dan doa untuk para korban.
“Alasan bawa bunga ke sini karena saya sudah hampir setahun jadi pengguna KRL. Jadi benar-benar kerasa kesedihan dan duka yang ada di Stasiun Bekasi Timur ini,” ujar Sabrina saat ditemui Kompas.com, Kamis (30/4/2026).

Sebagai pengguna rutin KRL, ia merasa memiliki kedekatan emosional dengan para korban yang sehari-hari menjalani aktivitas serupa.
“Bagaimanapun juga saya merasakan bagaimana rasanya desak-desakan di stasiun, pulang-pergi naik KRL itu seperti apa. Jadi benar-benar merasa sedih walaupun tidak terdampak secara langsung,” kata dia.
Di hari ulang tahunnya, Sabrina memilih merayakan dengan cara yang berbeda. Ia membawa bunga dan memanjatkan doa dengan harapan tidak ada tragedi serupa terulang.
“Sudah meniatkan dari awal, karena hari ini tepat hari ulang tahun saya, jadi saya ingin memberi bunga juga untuk ditaruh di sini,” ucapnya.
Ia berharap doa yang dipanjatkan dapat memberi ketenangan bagi para korban dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Di hari ini saya berdoa khusus untuk para korban, semoga mereka tenang di sana. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tuturnya.
Hal serupa juga dilakukan Amanda Devina (27), yang datang dengan membawa bunga sebagai bentuk penghormatan, khususnya bagi para perempuan yang menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Ia menyebut, bunga yang ia letakkan merupakan simbol penghargaan bagi para perempuan yang setiap hari berjuang menggunakan transportasi publik.
Kalian semua wanita hebat. Wanita pejuang, wanita yang rela berdesak-desakan demi mencari nafkah, meraih pendidikan, dan berjuang demi kehidupan,” ungkap Amanda.
Ia berharap bunga yang diletakkan di sudut stasiun tak sekadar menjadi penghias, tetapi juga membawa makna yang lebih dalam.
“Saya harap bunga ini tidak hanya memberikan harum di sudut Stasiun Bekasi Timur, tapi juga memberikan cinta kasih yang tulus, disertai dengan harapan dan doa bahwa korban bisa ditempatkan di sisi terbaik Sang Pencipta,” kata dia.
Di tengah rutinitas yang kembali berjalan, kehadiran bunga-bunga dan pesan duka itu menjadi pengingat bahwa tragedi yang terjadi tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menggugah empati banyak orang yang merasakannya dari dekat. Baik sebagai sesama pengguna KRL, maupun sebagai sesama manusia.
Sebagai informasi, kecelakaan terjadi antara KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB. Secara keseluruhan, jumlah korban dalam peristiwa tersebut mencapai 106 orang.
Sebanyak 16 orang meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan, sementara 90 lainnya mengalami luka-luka. Sementara seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.***
Sumber : Kompas.com
Foto : Detik.com










