Kamis, September 24, 2026
Google search engine

Tekan Angka Kemiskinan, Pemkab Purwakarta Luncurkan Program ‘Satu Desa Satu Sarjana’

PURWAKARTA – Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, meluncurkan program Satu Desa Satu Sarjana dalam rangkaian Gebyar Program Keluarga Harapan 2025. Inisiatif ini bertujuan menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.

“Kami ingin memastikan setiap desa memiliki minimal satu sarjana. Para sarjana ini kelak bisa menjadi teladan dan bukti nyata bahwa pendidikan mampu mengangkat derajat keluarga dari garis kemiskinan,” ujar Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein di Purwakarta, Rabu (24/9/2025).

Program tersebut merupakan wujud komitmen Pemkab Purwakarta dalam memberikan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bupati menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat tentang kemiskinan, yang menurutnya merupakan hasil dari berbagai faktor yang ditanamkan sebelumnya.

Berita Lainnya  Tegas! Pemprov Jabar Tutup Aktivitas Pertambangan PT. MPB di Karawang Selatan

“Kita harus berupaya menghasilkan uang dengan berusaha dalam berbagai bidang. Kebiasaan masyarakat yang menghabiskan modal usaha untuk menyekolahkan anak harus diubah. Pendidikan anak harus menjadi investasi yang meningkatkan perekonomian keluarga,” tegasnya.

Berdasarkan data Pemkab Purwakarta, terjadi tren penurunan angka kemiskinan yang konsisten.

Pada tahun 2022 angka kemiskinan turun menjadi 8,70 persen, kemudian 8,46 persen pada 2023, dan mengalami penurunan signifikan menjadi 7,16 persen pada 2024. Meski demikian, angka tersebut masih tergolong tinggi.

Berita Lainnya  Prabowo Geram dan Sindir Pakar : "Saking Pintarnya Jadi Goblok...!"

Sekda Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan apresiasinya terhadap program ini, yang dinilainya tidak hanya membantu keluarga keluar dari kemiskinan tetapi juga menciptakan generasi berpendidikan tinggi.

“Targetnya 250 sarjana, sementara jumlah desa hanya 183. Artinya, satu desa bisa memiliki lebih dari satu sarjana. Ini patut diapresiasi,” ujarnya.

Herman menambahkan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan untuk menerapkan program serupa di kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Program ini dianggap strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Berita Lainnya  KDM Beri Dua Opsi Soal Jalan Badami-Loji yang Rusak Akibat Truk Bertonase PT. Jui Shin Indonesia

“Jawa Barat memiliki angka kemiskinan 7,02 persen, dan kami akan terus berupaya menurunkannya hingga menjadi yang terendah di Indonesia pada tahun 2029,” pungkasnya.***

Sumber : Antara

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Muncul Spekulasi Publik Jika WBP yang Kepergok di Fasilitas Mewah Lapas Cibinong Adalah Tersangka Korupsi Jimmy Masrin

ENTAH mana yang harus dipercaya, temuan sidak Ombudsman RI atau pernyataan klarifikasi dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kanwil Jabar. Yang pasti temuan fasilitas mewah...

4 Guru SDN 58 Lengkese Alami Gatal-gatal Mulut Setelah Cicipi MBG Sebelum Dibagikan ke Siswa, Terbukti Mengantuk Boraks

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikirim ke UPT SD Negeri 58 Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, batal dibagikan kepada siswa setelah sejumlah guru...

Gak Terima Diputusin, Pria ini Ancam Pacarnya Pakai Badik, Bakal Terima Diputusin Kalau Si Cewek Ngasih Duit Rp 200 Ribu

Pemuda berinisial F (22) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), diamankan polisi setelah diduga mengancam mantan pacarnya, AR (19), menggunakan senjata tajam jenis badik. Pelaku...

Pimpinan Ponpes Abul Barokat Bantah Pelecehan Santriwati, Bakal Laporkan Media BBC Indonesia

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, menyatakan mundur...

Tanggapi Pernyataan Prabowo, Mahfud MD : “Banyak juga Presiden yang Goblok”

Mahfud MD menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar atau profesor "saking pintarnya jadi goblok" tidak etis disampaikan oleh seorang kepala negara. Mahfud MD...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan