Selasa, September 15, 2026
spot_img

Tak Usah Repot-repot Menilai Calon Pemimpin dengan Bertanya ke Kiyai atau Paranormal

TUMPAHAN isi kepala ini sebenarnya sudah selesai kutulis 3 hari pasca pencoblosan. Namun tidak berani rilis mengingat situasi panas antar pendukung yang selalu berpikiran HARGA MATI. Padahal di tataran elite-nya tidak pernah mengenal harga bandrol. Selalu saja terbuka pintu lobby dan tawar menawar (bargaining).

Sempat berfikir nekad dan menyiapkan mental sebagai saluran baru yang menampung nyinyiran pihak pemenang dan cap Lunang dari pihak kalah yang selama ini bareng, tapi akhirnya tulisan ini tetap aku tabung sampai penetapan resmi penghitungan di Pleno KPUD.

Supaya tidak menambah kusut dunia gosip, rumor, opini publik, atau hoaks dan hatespeech. Ya, setidaknya ikut andil membantu Muspida dan warga yang selalu berharap gelaran Pilkada tetap kondusif, sukses tanpa ekses.

Mari kita ngobrol tentang POLITIK UANG. Dulu masyarakat sering mengistilahkannya dengan SERANGAN FAJAR dan kasusnya sebatas pada Pilkades. Modus operandinya dilakukan mulai tengah malam atau di sepertiga malam hingga fajar menyingsing, supaya tidak diketahui oleh banyak orang. Sembunyi-sembunyi.

Berita Lainnya  Rekening Bank untuk 200 Juta Warga, Sulit Lawan Prabowo di Pemilu 2029

Lalu, untuk menjaga agar kultur jelek tersebut tidak menjalar ke sendi-sendi perhelatan politik lainnya, maka dimuatlah larangan MONEY POLITIK dalam salah satu pasal UU Pemilu, berikut ancaman sanksinya. Terasa ada penekanan serius bahwa kita semua sedang menciptakan pemerintahan bersih berwibawa yang dimulai dari hulu, dari proses awal seleksi calon pemimpin.

Nyatanya, aturan-aturan tersebut mandul dan hilang makna, seperti tak berdaya untuk tegak lurus berdiri. Tentu bukan sebab aturannya yang salah, namun karena obyek dan subyek hukumnya yang kehilangan semangat untuk menjaga kepatuhan, disengaja ataupun tidak.

Saat ini, istilah serangan fajar menjadi tidak tepat lagi untuk digunakan, sebab proses mempengaruhi pemilih dengan iming-iming uang/ barang sudah berani dipraktekan sepanjang hari dan lebih vulgar terang-terangan. Malah tak sedikit para penerima manfaat, dengan bangganya, memposting, mengumumkan dan membanding-bandingkan besarannya.

Berita Lainnya  Rekening Bank untuk 200 Juta Warga, Sulit Lawan Prabowo di Pemilu 2029

Untuk sebagian kecil manusia yang peduli dan masih berfikir waras, fakta ini memang sangat menyesakkan dada. Bagaimana mungkin sebuah “kejahatan” yang secara tegas diatur oleh Undang-undang serta sering dikampanyekan sebagai pelanggaran serius, ternyata pada tataran praktek, kita semua malah permissif/ memaklumi sebagi hal yang halal. Tidakkah lebih baik kita hapus aturan tentang larangan money politik?.

Lalu kita cari formula lain yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Misal negara menganggarkan uang jajan/ transport kepada setiap pemilih dalam rangka meningkatkan angka partisipasi dan sebagai pengganti cuti kerja.

Seperti salah satu pepatah yang mengatakan bahwa kebohongan yang diulang-ulang, akan dianggap sebagai kebenaran. Demikian pula pelanggaran yang dibiarkan terjadi tanpa keberanian menindak, maka di titik tertentu akan dianggap sebagi kewajaran, lalu membentuk kultur/ budaya baru.

Pemilih menikmati, Penegak aturan tak berdaya, hukum kehilangan wibawa. Di titik inilah sebenarnya cermin wajah peradaban kita berada, yakni pada situasi disorder sosial atau bahkan menuju anarki.

Berita Lainnya  Rekening Bank untuk 200 Juta Warga, Sulit Lawan Prabowo di Pemilu 2029

Jadi, tepat juga jika diskusi tentang kepemimpinan tak lagi mengikutsertakan syarat kapasitas dan integritas figur. “Tidak usah repot-repot menilai calon pemimpin atau nanya ke kyai dan paranormal, cukup tanya ke yang bersangkutan: berapa besar kesiapan isitas / modal materinya.

Malah makin terkesan jenaka, bila muncul sosok yang berani deklarasi sebagai calon pemimpin dengan bermodal kemampuan dan sikap tawakal, karena menurut penganut faham tertentu, Tuhan memang mengatur atas dunia dan segala isinya. Tapi untuk urusan kontestasi politik, tangan Tuhan tidak mau cawe-cawe / ikut campur terlalu dalam.

DADAN SUHENDARSYAH
Masyarakat Pemilih Aktif

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Berawal dari ‘Heureuy’, Pejabat Dishub Sukabumi Lecehkan Siswi PKL, Berakhir Dijemput Polisi

SUKABUMI - Seorang oknum pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sukabumi berinisial TIP yang diduga melakukan pelecehan terhadap siswi Praktik Kerja Lapangan (PKL) telah dijemput...

Tegas! Pemprov Jabar Tutup Aktivitas Pertambangan PT. MPB di Karawang Selatan

KARAWANG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menutup aktivitas pertambangan PT. Mas Putih Belitung  (anak perusahaan PT. Jui Shin Indonesia), yang tidak mematuhi ketentuan...

Singgung Soal ‘Ideologi Politik’, Kepala BGN Malah Salahkan Guru, Orang Tua Siswa, Wartawan hingga LSM yang ‘Ngeramein’ Keracunan MBG

JAKARTA - Meski total korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mencapai hampir 50 ribu orang yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia,...

KDM Nyatakan Tidak Ada Pelecehan di Kasus Wabup Sumedang dengan Sekprinya, Netizen Tak Percaya : “Ekspresi Tidak Bisa Berbohong”

BANDUNG - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Wakil Bupati Sumedang, Muhammad Fajar Aldila terhadap sekretaris pribadinya berinisial RY dinyatakan 'clear' oleh Gubernur Jawa...

Disuruh Beli Mi Goreng Malah Mi Kuah, Prajurit TNI AU Meninggal Dianiaya Senior

JAKARTA - Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF), prajurit TNI AU di Magetan, Jawa Timur (Jatim), meninggal secara tak wajar setelah diduga dianiaya seniornya di...

Hukum

KPK Tangkap 17 Orang Terkait Pengurusan HGB di Kabupaten Bogor

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap 17 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Jabodetabek, pada Senin (14/9/2026). Beberapa di antaranya ada Direktur...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan