Sabtu, Juni 27, 2026
spot_img

Banyak Warga Jabar Ngeluh Susah Cari Kerja, NHRI Tanggapi Pernyataan Dedi Mulyadi

KARAWANG – Masih banyak warga Jawa Barat yang mengeluhkan susahnya mencari kerja di industri/perusahaan. Salah satu faktonya karena mayoritas Human Resources Development (HRD) di perusahaan bukanlah orang Jawa Barat.

Pernyataan video viral di berbagai media sosial ini disampaikan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi yang menjelaskan bahwa persoalan ini merupakan kondisi logis. Karena alasan setiap orang (HRD perusahaan, red) akan mengajak siapa yang dia kenal, memenuhi kualifikasi perusahaan dan bisa diajak kerja sama dengan cepat

“Yang salah Jawa Barat sendiri, kenapa tidak mampu menciptakan HRD yang bersumber daya manusia dari Jawa Barat untuk dipercaya industri,” tutur Dedi Mulyadi.

Menanggapi pernyataan ini, Praktisi HRD dan Pemerhati hHbungan Industrial Arif Dianto mengungkapkan, bahwa profesi HRD kerap menjadi sasaran kritik publik, terkait proses rekrutmen tenaga kerja di wilayah Karawang.

Menurutnya, HRD sering dianggap kurang respons terhadap pelamar kerja warga pribumi Karawang. Padahal menurut Arif, persoalannya tidak sesederhana itu.

Berita Lainnya  Digembleng Ala Militer, 2 Peserta SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal

Arif menjelaskan, bahwa dalam praktik di lapangan memang masih ditemukan sejumlah oknum yang mencederai profesionalisme dunia HRD. Ia menyebut ada kemungkinan sebagian oknum lebih memprioritaskan keluarga atau kerabat dari kampung halamannya sendiri, dibanding masyarakat lokal.

“Tidak bisa dipungkiri, mungkin ada juga oknum HRD yang merekrut keluarga atau orang dari daerah asalnya sendiri dengan alasan peserta tes lokal dianggap belum kompeten secara teori. Bahkan masih ada oknum yang bermain uang kepada pelamar ataupun melalui pihak ketiga. Hal-hal seperti ini tentu tidak dapat dibenarkan,” ungkap Arif, Minggu (10/5/2026) malam.

Meski demikian, Ketua Umum Nasional Human Resource Institute (NHRI) ini menegaskan bahwa secara umum HRD memiliki kewenangan dalam melakukan penyaringan awal terhadap kandidat berdasarkan administrasi, attitude, hingga kompetensi dasar sebelum masuk ke tahapan seleksi lanjutan oleh user atau departemen terkait.

Berita Lainnya  Bawa Isu Nasional hingga Soroti Kepemilikan SPPG oleh Anggota Dewan, Aliansi Mahasiswa Demo DPRD Kota Bekasi

“HRD sebenarnya punya kapasitas untuk memilah dan memilih kandidat pada tahap awal. Setelah itu biasanya ada tes lanjutan oleh user, terutama jika perusahaan membutuhkan kompetensi skill tertentu,” jelasnya.

Ada Faktor Intervensi User

Namun Arif juga menyoroti adanya fakta lain yang menurutnya jarang diketahui publik, yakni adanya intervensi dari user tertentu terhadap proses rekrutmen.

“Kadang publik hanya melihat HRD saja, padahal ada juga akal-akalan dari oknum user bahwa kandidat referensinya harus lulus, meskipun HRD masih meragukan kemampuan kandidat tersebut. Ini juga bagian dari realita yang terjadi di lapangan,” katanya.

Lebih lanjut, Arif menilai persoalan ketenagakerjaan di Karawang harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ia mengingatkan bahwa Karawang dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia dengan ribuan perusahaan beroperasi di wilayah tersebut.

“Pabrik-pabrik berdiri di Karawang, tetapi banyak kantor pusatnya berada di Jakarta sehingga pajaknya masuk ke sana. Sementara angka pengangguran di Karawang sendiri masih cukup besar. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar pria kelahiran Karawang ini.

Berita Lainnya  Firdaus Oiwobo Laporkan Tiyo Ardianto ke Polres Metro Tangerang Selatan

Karena itu, Arif berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Karawang dapat lebih mengutamakan warga lokal dalam proses rekrutmen tenaga kerja, tentunya tetap dengan memperhatikan kompetensi dan kebutuhan perusahaan.

“Sudah seharusnya setiap ada rekrutmen, masyarakat pribumi Karawang mendapatkan prioritas dan kesempatan yang lebih besar. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi penonton di daerah industrinya sendiri, sementara tenaga kerja dari luar justru dipaksakan masuk,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar sistem rekrutmen di perusahaan dilakukan secara lebih transparan, profesional, dan bebas dari praktik titipan maupun transaksional demi menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Dari Dedi Mulyadi hingga Prabowo, Semua Orang Marah pada Kekejaman Taufik Hidayat

BANDUNG - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan tersangka Taufik Hidayat (30), terhadap kekasihnya YTR di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat masih menjadi perbincangan...

Taufik Hidayat Minta Maaf dan Mengaku Menyesal

BANDUNG - Suasana di salah satu ruangan di Mapolda Jawa Barat, Kota Bandung, begitu riuh pada Jumat (26/6/2026). Sebab, di lokasi digelar konferensi pers...

Soal Duit Rp20 Juta ke Ketua BEM FH, Kombes Pol Budi Hermanto : ‘Beneran Polisi atau Orang yang Ngaku Polisi’

JAKARTA - Polda Metro Jaya buka suara mengenai aliran dana yang diterima mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) sebesar Rp 20 juta. Uang itu disebut...

Merasa Difitnah Lecehkan 4 Anggotanya, Kasatpol PP Kota Bekasi Siap Lakukan ‘Sumpah Pocong’

Menderita Penyakit Gula, Kejantanan Tidak Lagi Berfungsi, Tidak Mungkin Lakukan Pelecehan Seksual KOTA BEKASI - Merasa difitnah telah melakukan pelecehan seksual terhadap empat anggotanya yang...

Lagi, Peserta SPPI Kopdes Meninggal Dunia saat Ikuti Latsarmil

TERJADI lagi, satu anggota program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) bagi calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM) dilaporkan meninggal dunia, saat mengikuti latihan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan