Minggu, Juni 7, 2026
spot_img

Jaga Martabat Kiyai, Santri dan Pesantren, Demo Boikot Trans7 Menggema di Karawang

KARAWANG – Jumat (17/10/2025), berpusat di sekitaran Jalan Jendral Ahmad Yani, tepatnya di depan kantor Pemda Karawang, ratusan santri, pimpinan pondok pesantren, hingga tokoh agama lainnya turun ke jalan melakukan aksi moral mengkampanyekan ulama, santri dan pondok pesantren sebagai benteng untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

Aksi demonstrasi ini digelar menyusul ramainya #boikot_Trans7, sebuah stasiun televisi nasional yang menayangkan video aktivitas santri pesantren Lirboyo dengan narasi yang dianggap menyudutkan ulama, santri dan pondok pesantren.

Berdasarkan pantauan, terlihat KH. Ahmad Ruhyat Hasbi (Kiyai Uyan) – Ketua Jamiyah Nahdatul Ulama Karawang, sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Attarbiyah Telagasari – Karawang yang menjadi salah satu orator aksi memimpin demonstrasi para santri.

Kepada Redaksi Opiniplus.com, Kiyai Uyan berpendapat jika asal muasal viralnya #boikot_Trans7 ada tiga kemungkinan. Yaitu faktor ketidaktahuan, hasut, atau kesengajaan secara masif dan terstruktur terhadap ketidaksukaan kepada pondok pesantren, khususnya pesantren-pesantren NU.

Pendakwah yang merupakan mantan Ketua PCNU Karawang ini menegaskan, jejak digital telah menjelaskan bahwa bukan kali ini saja Trans7 menayangkan konten-konten kontroversi tentang budaya dan tradisi NU yang dianggap kurafat dan bid’ah.

Berita Lainnya  Viral Ibu Menangis karena Anaknya Ditangkap dan Dimintai Duit oleh Oknum Polisi, ini Perkembangan Kasusnya

Oleh karenanya, para tokoh NU telah mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), agar Trans7 tidak lagi diizinkan konten-konten berbau islami, karena indikasi ketidaksukaanya terhadap NU.

Membedakan Antara Feodal dengan Tradisi Pondok Pesantren

Bagi sebagian orang, tradisi-tradisi dan budaya di pondok pesantren seperti jalan membungkuk saat bertemu kiyai atau guru, cium tangan kiyai bolak-balik, hingga membersihkan dan merapihkan rumah kiyai merupakan bentuk tindakan feodalisme.

Menjawab pertanyaan ini, Kiyai Uyan menegaskan bahwa siapapun harus bisa membedakan antara sikap dan tindakan feodalisme dengan budaya dan tradisi santri di pondok pesantren.

“Budaya dan tradisi menghormati kiyai dan guru seperti itu masih tetap ada di pondok pesantren sampai saat ini. Karena kita santri masuk pesantren itu bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga mencari berkah kiyai. Dan saya kira budaya dan tradisi menghormati guru seperti itu tidak ada di lembaga pendidikan lain,” tuturnya.

Berita Lainnya  Warga Cijambe - Subang Gempar Temuan Bayi Perempuan Dibuang di Semak-semak

Kiyai Uyan menyebut jika budaya dan tradisi menghormati guru di pondok pesantren seperti itu merupakan ‘Kultur Nusantara’ yang sudah diajarkan sejak zaman Wali Songo. Kemungkinan budaya dan tradisi ini dianggap feodal, karena di Arab Saudi sendiri tidak ada tradisi dan budaya menghormati guru seperti itu.

“Saya pribadi sebagai mantan santri Pesantren Cipasung Tasikmalaya tidak pernah merasa keberatan ketika disuruh ini-itu oleh kiyai. Sebagai santri, justru kita merasa aneh ketika kiyai tidak pernah nyuruh ini-itu. Rasanya seperti dianggap bukan santrinya lagi. Karena kita nyantren kan bukan hanya mencari ilmu. Tapi juga nyari keberkahan dari para kiyai,” terang Kiyai Uyan.

Bagaimana Cara Menjaga Marwah Kiyai, Santri dan Pesantren?

Kiyai Uyan menjelaskan bahwa publik harus mengingat sejarah kemerdekaan republik Indonesia yang tidak bisa lepas dari peranan para kiyai dan santri.

Dalam sejarah ‘Perang Surabaya’ misalnya. Yaitu dimana Resolusi Jihad yang didengungkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, telah mengobarkan api semangat juang para kiyai dan santri di berbagai pesantren Jawa dan Madura untuk ikut berpartisipasi melawan penjajah.

Berita Lainnya  Bakal Surati Prabowo, Fraksi Golkar Minta MBG Tak Ambil Anggaran Pendidikan

Yaitu dimana para kiyai dan santri bergabung dalam laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah, serta menjadi pilar moral dan spiritual para pejuang secara umum.

“Maka bagi saya pribadi, ketika ada orang masih nyinyir dengan tradisi dan budaya NU dan pesantren, maka saya anggap itu sebagai bentuk ketidaktahuan mereka terhadap sejarah dan tradisi NU,” terang Kiyai Uyan.

“Ini serius loh!, doktrin NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya dan Aswaja aqidah kita bukan hanya sebagai slogan belaka. Tetapi sudah menjadi jiwa yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-sehari. Maka, mari kita sama-sama menjaga marwah dan martabat alim-ulama, kiyai, santri dan pondok pesantren Nahdatul Ulama, sebagai salah satu benteng untuk menjaga dan mempertahankan NKRI,” tutup Kiyai Uyan.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Pohon Tumbang di Karawang Timpa Truk Kontainer Peti Kemas, Sopir dan Penumpang Perempuan Tewas

KARAWANG - Sebuah pohon tumbang menimpa sebuah truk kontainer peti kemas di jalan Lingkar Tanjungpura Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026) sore. Akibat peristiwa ini,...

Sidang Kasus Ade Kunang, Kadis BMSDA Bekasi Akui Ploting 42 Paket Proyek atas Permintaan Abah Kunang

BANDUNG - Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln mengungkap adanya pengondisian proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dalam...

Oknum ASN yang Terjerat Kasus Narkoba di Bekasi Diberhentikan Sementara, Status Kepegawaian Tunggu Keputusan Hukum Inkrah

BEKASI - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memberhentikan sementara oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial N alias I, usai terjerat kasus penyalahgunaan peredaran narkoba...

Dedi Mulyadi Tertipu, Warga yang akan Dibantunya Ternyata Pelaku Curanmor

SUMEDANG - Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sepertinya telah tertipu oleh salah seorang pelaku pencurian kendaraan bermotor (Curanmor). Siapa sangka jika warga Kabupaten...

Dilaporkan ke KPK, Mahasiswa Desak DPRD Kota Bekasi Bentuk Pansus Dugaan Korupsi Pengadaan Ambulans

KOTA BEKASI - Sempat dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) mendesak DPRD Kota Bekasi...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan