Senin, Oktober 26, 2026
Google search engine

Ironi! Saat Masyarakat Sedang Menjerit, Bantuan Keuangan Parpol Malah Naik

KARAWANG – Direktur Ghazali Center Research and Consulting, Lili Ghazali mengkritik kebijakan kenaikan bantuan keuangan partai politik (parpol) di Kabupaten Karawang.

Diketahui, dana bantuan keuangan parpol di Karawang mengalami kenaikan. Yaitu dari Rp 3.500/suara menjadi Rp 5.000/suara dengan total bantuan keuangan Rp 6,23 miliar untuk 8 parpol yang memiliki kursi di DPRD Karawang.

Ghazali Center menilai Pemkab Karawang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) telah kehilangan empati terhadap kondisi rakyatnya.

Berita Lainnya  Memilukan! Pembunuhan Sekeluarga di Lampung, Anak Korban Ijab Kabul Pernikahan di Samping Jenazah Kedua Orang Tua dan Adiknya

Ketika masyarakat Karawang sedang menjerit menghadapi kesulitan hidup, pemerintah daerah justru sibuk menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk partai politik.

“Sungguh ironi, ketika rakyat butuh sentuhan kebijakan yang berpihak, mereka malah disuguhi kenyataan bahwa kepentingan politik lebih utama daripada kepentingan publik,” tutur Lili Ghazali, Senin (8/9/2025).

Lili menegaskan, dana publik yang bersumber dari APBD tidak boleh sekadar menjadi bancakan politik. Sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) PP No. 1 Tahun 2018, jelas diatur bahwa: Bantuan keuangan Partai Politik digunakan untuk pendidikan politik bagi anggota Partai Politik dan masyarakat, serta untuk operasional sekretariat Partai Politik.

Berita Lainnya  Disaksikan Presiden Prabowo, Kejagung Serahkan Rp13,2 Triliun Hasil Penyelamatan Keuangan Negara

“Karena itu, audit menyeluruh wajib dilakukan. Setiap rupiah yang keluar harus dipertanggungjawabkan. Jangan sampai dana rakyat yang seharusnya untuk mencerdaskan kehidupan politik masyarakat justru berhenti di meja elite partai,” ujarnya.

Lili menambahkan, kondisi ironi ini diperparah dengan kebijakan dana hibah untuk Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang dihapuskan pemkan di tahun anggaran 2025.

“Ini sangat menyedihkan. Pemerintah seharusnya mampu merumuskan format kebijakan yang adil dan berpihak. Jangan hanya partai politik yang diberi anggaran besar, sementara organisasi-organisasi yang nyata hadir di tengah masyarakat malah diabaikan. Kalau seperti ini, wajar bila rakyat merasa ditinggalkan oleh pemimpinnya,” pungkasnya.***

Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Laporan Menko Airlangga ke Prabowo Klaim Pengangguran Indonesi Menurun Sejak 1994

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia turun menjadi 4,65%, yang...

Seorang Remaja di Bogor Tewas Dibacok Usai Laga Persib Bandung vs Garudayaksa

BOGOR - Kemenangan Persib Bandung atas Garudayaksa FC dengan skor 2-1 di Stadion Pakansari, Cibinong, pada hari Minggu, 25 Oktober 2026, dibayangi oleh kabar...

Prabowo : “Saya Tidak Mau Jadi Presiden, Rakyat Saya Miskin Terus, Malu Saya”

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyatakan lebih baik tidak menjabat sebagai presiden, jika rakyat Indonesia terus hidup dalam kemiskinan. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Rapat...

Ruko Gudang Makanan Ringan Terbakar, 1 Orang Tewas, Warga Malah Jarah Logistik

BENGKULU - Polresta Bengkulu langsung bergerak cepat mengamankan 12 warga yang diduga kuat melakukan penjarahan barang pascakebakaran maut. Aksi penjarahan logistik makanan ringan ini terjadi...

Kyai Kampung Demo Desak KPK Segera Tangkap Nusron Wahid

JAKARTA - Massa yang menamakan diri sebagai Kader dan Elemen KPK Nahdlatul Ulama (KPK NU) menggelar aksi unjuk rasa serta Istigasah Kubro di depan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan