MUSIM kemarau yang kembali melanda ditahun ini, begitu terasa di Cikampek Raya, bukan saja karena cuaca terik, melainkan juga kecemasan yang nyata bagi warga.
Di pemukiman padat dan desa-desa yang berdampingan dengan kawasan industri, aktivitas memperdalam lubang sumur kini sudah banyak terjadi. Warga terpaksa mengalokasikan biaya ekstra untuk mengejar posisi permukaan air tanah (groundwater) yang terus menyusut.
Tidak sedikit pula yang harus meningkatkan kapasitas mesin pompa ke daya yang lebih tinggi demi menjaga daya hisap.
Fenomena ini menjadi sebuah sinyal dini bahwa daya dukung lingkungan di Cikampek Raya sedang mengalami tekanan yang cukup serius.
Situasi ini memicu sebuah paradoks pembangunan. Di satu sisi, Cikampek tumbuh mengesankan sebagai salah satu pusat industri nasional yang memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, wilayah strategis ini harus menghadapi tantangan lingkungan yang cukup kompleks.
Krisis pengelolaan air di sini seolah hadir dalam dua wajah yang bergantian: kesulitan air bersih saat kemarau tiba, dan genangan air yang melumpuhkan aktivitas saat musim hujan datang. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan dalam pemanfaatan tata ruang dan tata kelola air yang perlu segera dibenahi bersama.
Jika kita melihat lebih dalam, salah satu simpul utama masalah ini berada di Situ Kamojing. Danau buatan yang sejatinya berfungsi sebagai pengendali banjir sekaligus penampung cadangan air, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Pendangkalan dan penyempitan yang terjadi di danau ini bukan semata-mata akibat proses sedimentasi alamiah yang berjalan seiring waktu.
Tantangan terbesar justru datang dari aktivitas manusia berupa pengurugan sebagian area danau demi kepentingan ekspansi lahan industri. Alih fungsi sebagian badan air menjadi daratan komersial ini telah memangkas ruang retensi air secara ekstrem.
Akibatnya, kapasitas tampung Situ Kamojing menurun drastis. Air kiriman dari wilayah hulu di sebelah selatan tidak lagi dapat tertampung dengan optimal dan langsung mengalir menuju Sungai Cikaranggelam.
Sayangnya, sungai ini pun menghadapi kendala serupa berupa penyempitan alur sungai, sehingga luapan air kerap tidak terhindarkan dan menggenangi kawasan di sekitarnya.
Tantangan ini kian diperumit oleh beralihnya fungsi sepanjang jalur irigasi Kamojing yang melintasi wilayah Kamojing, Dawuan, hingga Purwasari ke barat. Saluran air yang dahulunya menjadi urat nadi pengairan kini banyak diokupasi oleh bangunan-bangunan tanpa izin.
Infrastruktur pengairan yang semestinya memiliki bentang luas, kini menyempit hingga hanya tersisa lebar antara 30 sentimeter hingga 1 meter saja. Bahkan, pada beberapa titik, saluran irigasi ini seolah hilang dari peta pandang karena tertutup oleh fondasi bangunan fisik pemukiman.
Secara ekologis, akar dari ketidakseimbangan tata air ini juga dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan di kawasan tangkapan air (catchment area). Hutan-hutan penyangga di area hulu Sungai Ciparage dan Sungai Cikaranggelam, yang bertugas meresapkan air hujan ke dalam tanah, kini telah berganti wajah menjadi kawasan industri, pusat bisnis, dan perumahan.
Di sinilah letak persoalan lainnya. Kehadiran kompleks perumahan yang tumbuh bak jamur dan berkembang sangat pesat di sekitar wilayah Dawuan, Cikampek, Purwasari, Tirtamulya, hingga Kotabaru kerap kali mengabaikan kewajiban krusial terkait penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Pengembang perumahan di kawasan-kawasan penyangga tersebut yang semestinya mengalokasikan persentase lahan tertentu untuk kawasan hijau dan area resapan komunal, sering kali memaksimalkan lahan demi unit kapling komersial semata.
Akibatnya, bentang lahan yang semula elastis menyerap air kini berubah menjadi hamparan beton dan atap yang kedap air.
Hilangnya area resapan alami ini membuat air hujan langsung mengalir di permukaan sebagai limpasan (run-off), bukannya meresap untuk memperkaya cadangan air tanah (groundwater recharge).
Dampaknya sangat dirasakan saat kemarau, di mana pasokan air tanah berkurang drastis dan mengancam keberlanjutan air bersih bagi warga.
Menghadapi tantangan lingkungan yang sistemik ini, langkah-langkah biasa seperti pengerukan berkala tentu tidak lagi memadai.
Cikampek Raya membutuhkan sebuah upaya pemulihan yang menyeluruh (extraordinary restoration) melalui tiga langkah strategis:
1. Pemulihan Kapasitas Hidrologis Berskala Besar
Melakukan pengerukan sedimen secara bertahap, serta mengoptimalkan kembali kapasitas tampung Situ Kamojing dan Sungai Cikaranggelam dan sungai ciparage agar fungsi alaminya sebagai penampung air kembali pulih.
2. Penataan dan Pengembalian Fungsi Irigasi
Melakukan pendekatan yang humanis namun tegas dalam menertibkan bangunan di sepanjang jalur irigasi Kamojing-Dawuan-Purwasari, demi mengembalikan lebar saluran air sesuai fungsi peruntukannya.
3. Kemitraan Konservasi Sektor Industri dan Perumahan
Meninjau kembali izin pemanfaatan ruang di area hulu, memastikan setiap pengembang perumahan di Dawuan, Cikampek, Purwasari, Tirtamulya, dan Kotabaru memenuhi kewajiban penyediaan kawasan hijau (RTH) secara mutlak, serta mendorong pembangunan kolam retensi (eco-drainage) dan sumur resapan dalam demi menjaga stabilitas air tanah.
Mengingat persoalan air ini melintasi batas wilayah administratif, penyelesaiannya tidak dapat bertumpu pada satu instansi saja. Pemerintah Kabupaten Karawang, Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta instansi teknis seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan Perum Jasa Tirta (PJT) II harus memperkuat sinergi.
Waktu untuk sekadar berwacana, menggelar rapat koordinasi seremonial, atau menyusun tumpukan rencana di atas kertas telah habis. Publik Cikampek Raya kini mendesak seluruh instansi terkait untuk segera turun ke lapangan dan melakukan langkah aksi yang nyata.
Penertiban bangunan liar, hingga pengerukan sedimen harus dieksekusi secara konkrit tanpa penundaan. Menata kembali ruang hidup di Cikampek Raya bukan lagi sekadar pilihan program kerja normatif, melainkan sebuah tanggung jawab moral mendesak demi menjamin hak atas air dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.***
Penulis :
Joko Sugiono
Wasekjen Paguyuban Dawuan Cikampek Bersatu










