Senin, Juni 1, 2026
spot_img

Dilema Pemekaran Subang Utara Ditengah Bayang-bayang Defisit Negara

SUBANG – Dalam ruang pertemuan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Subang, suasana haru bercampur tegang terasa ketika para pejabat berdiskusi mengenai masa depan daerah yang tengah menghadapi guncangan keuangan.

Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, tanpa basa-basi menyampaikan keresahan yang kini membayangi.

“Tahun depan ada pemotongan Rp 361 miliar transfer keuangan dari pusat. Bisa jadi ini rapat terakhir yang ada anggaran makan minumnya,” ungkapnya lugas.

Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan spontan. Kalimat tersebut mencerminkan kondisi nyata di mana Subang harus berhadapan dengan krisis fiskal yang berpotensi mengguncang realisasi berbagai janji pembangunan daerah.

Kunjungan kerja Anggota DPD RI, Aanya Rina Casmayanti, yang menutup rangkaian road show Jawa Barat 2025, justru membuka kembali lapisan persoalan struktural yang selama ini membelit Subang.

Dalam forum yang sama, Agus dengan penuh semangat menyoroti pentingnya pemekaran wilayah.

“Kami mendorong pemekaran Subang Utara yang penduduknya lebih banyak. Mohon dengan dorongan dari Ibu Aanya moratorium DOB dibuka,” katanya berharap.

Ia menambahkan, pemekaran juga perlu diterapkan pada tingkat desa. Saat ini, Subang memiliki 245 desa, jumlah yang dianggap masih tertinggal dibanding kabupaten lain yang wilayahnya lebih kecil.

Berita Lainnya  Pemkab Bekasi Keluarkan Rekomendasi Pencabutan Aturan Outsourching

“Kami ke depan ingin lebih banyak melakukan pemekaran desa,” ujarnya dengan nada optimistis.

Sebagai perbandingan, ia mencontohkan Kabupaten Majalengka yang luas wilayahnya sekitar 1.200 kilometer persegi dengan jumlah desa mencapai 347.

“Artinya kalau dana desa ke Subang hanya 245 miliar, sementara Subang dengan wilayah lebih luas hanya 347 miliar,” jelasnya dengan nada kritis terhadap ketimpangan alokasi.

Mendengar pemaparan itu, Aanya Rina Casmayanti memberikan dukungan penuh atas rencana pemekaran Subang Utara.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut harus diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun tetap dengan memperhitungkan kemampuan fiskal daerah agar tidak menjadi beban baru di kemudian hari.

Masalah Fiskal: Potret Krisis yang Menyeluruh

Herman Hermawan, perwakilan dari Kantor DPD RI Jawa Barat, turut memberikan pandangan lebih luas.

“Hampir semua kabupaten/kota di Jawa Barat menghadapi masalah fiskal. Hanya sekitar enam kabupaten/kota yang relatif sehat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesulitan keuangan yang dialami Subang bukanlah kasus tunggal, melainkan bagian dari problem sistemik di tingkat provinsi.

Ketika DPD kalah suara di Senayan dalam penolakan terhadap pemotongan dana transfer, seluruh daerah di Jawa Barat harus menanggung dampaknya.

Berita Lainnya  Pemerintah Harus Hadir untuk Memastikan Perlindungan Terhadap Kekerasan Perempuan dan Anak

Salah satu persoalan klasik yang kembali mencuat adalah sengketa lahan eks HGU PTPN I dan II. Asisten Daerah II Sekretariat Daerah menjelaskan kompleksitas yang terjadi di lapangan.

“Di lokasi tanah PTPN itu sudah banyak masyarakat menempati karena sudah dibagikan oleh negara. Dampaknya sering terjadi konflik,” ujarnya menjelaskan.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Agus menyampaikan permintaan khusus. “Kami mohon bantuan agar masyarakat diberi kepastian hukum,” katanya.

Seruan itu menggambarkan urgensi penyelesaian konflik agraria yang sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa kepastian yang jelas bagi warga.

Ironi pembangunan juga muncul dari laporan Kepala Dinas Perhubungan. “Penutupan galian ilegal bukan tanpa dampak. Material untuk proyek PSN sekarang diambil dari luar Subang, tapi truk pengangkutnya merusak jalan,” paparnya.

Fenomena ini menjadi potret paradoks pembangunan: proyek strategis nasional yang seharusnya membawa kemajuan justru menimbulkan kerusakan infrastruktur lokal dan kelangkaan material bagi warga setempat.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Aanya menegaskan pentingnya langkah kolaboratif. “Minggu depan Ibu Aanya akan melakukan pertemuan dengan PTPN. Kami akan tanyakan solusi kawasan terlantar di Subang,” tuturnya.

Pernyataan ini menandakan bahwa DPD RI tidak sekadar menjadi penyambung lidah daerah, melainkan turut berperan aktif mencari penyelesaian nyata atas masalah-masalah yang dihadapi Subang. Herman menimpali, “Aspirasi dari dinas permukiman kami tunggu data-datanya untuk kami tindaklanjuti.”

Berita Lainnya  International Nurses Day, Perawat di Bekasi Diminta Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalitas

Menutup pertemuan, Wakil Bupati Agus menyampaikan harapan yang penuh semangat. “Mudah-mudahan dengan berkembangnya Subang Utara, Subang ini akan Ngabret,” ujarnya dengan nada penuh optimisme.

Pernyataan itu mencerminkan tekad bahwa pemekaran bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk membuka akses yang lebih luas terhadap kesejahteraan rakyat.

Kolaborasi antara DPD RI dan Pemerintah Kabupaten Subang dalam road show penutup ini tidak sekadar seremoni politik, tetapi wujud nyata dari upaya bersama untuk mengurai simpul persoalan yang rumit dengan pendekatan menyeluruh dan berkesinambungan.

Seperti yang diingatkan Aanya, “Tolong disertai data dan progres terakhir proses yang sudah ditempuh.”

Prinsip kerja berbasis data, transparan, dan akuntabel inilah yang menjadi pondasi agar Subang benar-benar mampu “ngabret” menuju masa depan yang lebih sejahtera dan berdaya.****

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Dilema Subang Utara: Mimpi Pemekaran di Tengah Bayang-Bayang Defisit Negara, https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1151038/dilema-subang-utara-mimpi-pemekaran-di-tengah-bayang-bayang-defisit-negara?page=all&s=paging_new.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Tokoh Muda Golkar Dorong ‘Mas Bahlil Ganteng’ Nyapres 2029

KARAWANG - Fenomena lagu viral MBG = Mas Bahlil Ganteng bertajuk 'My Little Bolu Ketan' masih menjadi tranding penggunaan backsoun di media sosial. Tokoh Muda...

Mantan Caleg di Cirebon Paksa Seorang Kakek Berhubungan Sesama Jenis, Pelaku Rekam Adegan untuk Konten Asusila

CIREBON - Dua kali gagal menjadi wakil rakyat, H (43) seorang mantan calon legislatif (caleg) yang berdomisili di Kecamatan Kejaksan - Kota Cirebon, terpaksa...

KPK Bongkar ‘Politik Outsourching’ Bupati Pekalongan

JAKARTA - Modus 'politik outsourcing' Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq diungkap KPK. Fadia disebut memanfaatkan ketergantungan pekerjaan dari pegawai outsourcing untuk kepentingan politiknya. "Dari penyidikan...

Seorang Ibu Ketahuan Selundupkan Sabu ke dalam Lapas Karawang, ‘Barang Haram’ Dikemas Kondom dan Dimasukan ke Kemaluan

KARAWANG - Petugas Lapas Karawang kembali berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu yang dibawa oleh keluarga warga binaan, Sabtu (30/5/2026). Ironisnya, hal tersebut dilakukan oleh...

Kasusnya Asli Ditangani Polisi, Tapi Video Viral Klarifikasi Ibu Santriwati Ternyata Hanya Konten

KARAWANG - Terkait video viral klarifikasi seorang ibu dari santriwati yang menjelaskan anaknya hamil karena mimpi dan karunia Allah, ternyata video viral tersebut hanya...

Hukum

KPK Bongkar ‘Politik Outsourching’ Bupati Pekalongan

JAKARTA - Modus 'politik outsourcing' Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq diungkap KPK. Fadia disebut memanfaatkan ketergantungan pekerjaan dari pegawai outsourcing untuk kepentingan politiknya. "Dari penyidikan...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan