Sabtu, Maret 21, 2026
spot_img

Pilkada Langsung Lebih Mencerminkan Kedaulatan Rakyat, Bukan Sekedar Pesta Elite Kekuasaan

FASE awal kehidupan di muka bumi, manusia hidup secara nomaden (berpindah-pindah), diisi dengan kebiasaan berburu dan meramu.  Pada zaman ini  struktur masyarakatnya egaliter/setara, belum mengenal sistem kepemimpinan formal. Pemimpin biasanya muncul secara situasional untuk menghadapi masalah yang mengancam kelangsungan hidup kelompok.

Zaman Pra Aksara selanjutnya, manusia mulai hidup menetap (sedenter) dan sistem bercocok tanam, yang menandai dimulainya sistem kesukuan, dengan konsep kepemimpinan PRIMUS INTERPARES, yakni yang dianggap menonjol (utama) diantara yang setara, dipilih berdasar atas kewibawaan, kehormatan dan kemampuan melindungi KESEJAHTERAAN kelompok.

Perkembangan selanjutnya saat manusia mengenal KEYAKINAN terhadap hal supranatural, mulai muncul sistem kepemimpinan TEOKRASI, yakni Pemimpin dipersepsikan memiliki relasi dianggap sebagai penjelmaan dewa, sebagai pemegang kebenaran dan kekuasaan absolut, juga tidak bisa disentuh/ dikritisi, semisal kepemimpinan raja-raja Firaun di Mesir .

Pada era Klasik abad pertengahan, kepemimpinan sering dikaitkan dengan takdir yang mengedepankan TRAH (turunan) ataupun kelebihan bawaan pada diri seseorang. Mindset masyarakat zaman ini menjadi cikal-bakal dimulainya sistem kepemimpinan Monarki, dimana pemegang otoritas kekuasaan berlangsung secara turun temurun disertai pembagian jabatan berdasar kekerabatan (dinasti), menafikan penilaian yang berbasis kecakapan / kompetensi.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, sistem kepemimpinan terus mengalami inovasi mencari format yang paling cocok dan ideal. Sistem MONARKI beranak pinak menjadi Monarki ABSOLUT dengan keberadaan seorang raja yang memegang peran sbagai Kepala Negara skaligus Kepala Pemerintahan, serta  Monarki Konstitusional dengan formasi Raja sebagai Kepala negara dan simbol pemersatu, sedangkan Kepala Pemerintahannya dipegang oleh Perdana Menteri.

Berita Lainnya  Pejabat Karawang Tak Mau Berkaca kepada Kasus 'Ijon Proyek Bekasi'

Pasca Revolusi Prancis yang ditandai keruntuhan rezim dictator Raja Louis XVI, dunia mulai mengenal system DEMOKRASI atau PEMERINTAHAN DAULAT RAKYAT”. Type ini dianggap paling cocok untuk menjawab kemajuan peradaban dan tuntutan dari kaum Renaissance yang memperjuangkan hak-hak dasar manusia.

Syarat utama negara penganut demokrasi, sebagaimana ditegaskan oleh Montesque, yakni menjalankan Trias Politica dengan wajib menghadirkan tiga Lembaga, yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Namun faham Demokrasi pun pada akhirnya menghasilkan banyak corak penyesuaian, dengan turunannya seperti Demokrasi LIBERAL dan demokrasi SOSIALIS.

Bahkan saat masuk ke Indonesia, terciptalah model Demokrasi PANCASILA, dengan penekanan pada budaya musyawarah dan PERWAKILAN, sebagaimana esensi sila ke-4 Pancasila.

Semenjak berdiri, Indonesia berulang kali mengalami perubahan model dalam menentukan Presiden. Sehari setelah Proklamasi, Soekarno ditetapkan sebagai Presiden melalui kesepakatan bersama para anggota PPKI, bukan dipilih oleh rakyat.

Soeharto pun demikian, menjadi Presiden melalui demokrasi Perwakilan (dipilih MPR). Sistem perwakilan ini bertahan hingga Pemilu pertama di era reformasi yang menghasilkan Presiden Gusdur (diteruskan Megawati).

Sedangkan Pemilihan Langsung dimulai pada saat Pemilu 2004, dan SBY memperoleh kepercayaan rakyat sebagai Presiden pertama produk pemilu langsung.

Berita Lainnya  Bukan Hanya Isu Kerakyatan, PDIP Karawang juga Fokus Kawal Potensi Anak Muda

Tidak hanya Pilpres, untuk Pilkada pun Indonesia mengalami perubahan sistem, dimulai dari ditunjuk oleh Presiden, lalu dipilih oleh DPRD dan selanjutnya dipilih rakyat. Tentu pergantian sistem tersebut selalu menimbulkan polemik dan ada plus minusnya.

Semua ide gagasan tentang sistem kepemimpinan nasional ataupun lokal merupakan eksperimen untuk mencari format terbaik yang mampu mewujudkan cita-cita rakyat sebagai pemilik daulat, yaitu negara merdeka yang adil makmur.

Sistem penentuan pemimpin bukanlah TUJUAN akhir, namun hanya semata ALAT atau  JALAN, sebab mandat rakyat adalah perwujudan WELFARE STATE atau NEGARA KESEJAHTERAAN.

Tentunya rakyat tidak berharap perdebatan sistem Pemilukada, baik pihak yang maksa merubah ataupun ngotot bertahan, lebih mengedepankan kalkulasi politis untuk sekedar merebut atau mempertahankan jejaring kekuasaan.

Pada titik inilah Daulat Rakyat sebagai esensi negara Demokrasi harus dimaknai oleh para elite maupun rakyat dengan berlandaskan pada kepentingan bersama dan filosofi berdirinya sebuah bangsa, yang memiliki kesamaan sejarah di masa lalu dan juga kesamaan cita-cita untuk masa depan.

Pilkada langsung lebih mencerminkan daulat rakyat, bukan hanya pestanya para elite kekuasaan. Rakyat merasa dilibatkan untuk menentukan pemimpinnya, ada efek geliat ekonomi, diantaranya bagi jasa percetakan, konveksi, media massa, lembaga penyelenggara, jasa iklan dan publikasi, Lembaga Survei atau konsultan politik, dan banyak lagi.

Berita Lainnya  PKB Karawang Berangkatkan 120 Warga yang Ikut Mudik Gratis

Namun di sisi lain, sistem ini sangat berbiaya tinggi, baik dalam proses perhelatan, ataupun cost politik calon, bahkan dikategorikan sangat tidak logis untuk menghasilkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Output lainnya dari pilkada langsung adalah tumbuh subur politik dinasti, politik uang, praktek IJON PROYEK  para pengusaha berbaju relawan, IJON PROMOSI JABATAN dari ASN yang dijadikan mesin pemenangan, serta maraknya kasus korupsi dan praktek penyimpangan wewenang Kepala Daerah sebagai raja-raja lokal.

Gus Dur pernah bercerita, konon tiga Presiden dari negara padat penduduk menyempatkan berkunjung ke Yunani, negerinya para dewa.

Presiden Cina bertanya kepada dewa tentang perkiraan Cina mencapai kemajuan. Sang Dewa menjawab sekitar 50 tahun lagi. Presiden Cina menangis mendengar jawaban tersebut.

Lalu Presiden India bertanya hal serupa. Sang Dewa menjawab sekitar 70 tahunan. Mendengar itu, Presiden India menangis lebih keras dibanding Presiden China.

Tiba giliran Presiden Indonesia mengajukan pertanyaan yang sama. Sang Dewa tak menjawab, malah terdiam membisu, tiba-tiba Dewa membalikan badan lalu menangis histeris jauh lebih kencang dibanding tangis Presiden  Cina dan India.***

Ditulis oleh :

Dadan Suhendarsyah
Pegiat Sosial-Politik

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Dedi Mulyadi Mau Pangkas 20% Anggaran Pegawai Jabar

BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyebut Lebaran menjadi momentum untuk evaluasi kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terutama dalam pengelolaan anggaran yang dinilai...

Roy Suryo Ogah Bela Rismon Sianipar, Setelah Minta RJ ke Jokowi

JAKARTA - Pakar telematika Roy Suryo mengaku tidak akan membela Rismon Sianipar yang sedang dilaporkan oleh kubu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terkait dugaan kasus ijazah palsu S2...

Yusril Minta Polisi Ungkap Siapa Aktor Intelektualnya

JAKARTA - Komandan Puspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto mengungkap tersangka pelaku teror penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus adalah empat prajurit TNI. Empat orang ini disebut...

Kapolres Cilacap Bantah Terima THR Lebaran dari Bupati

CILACAP - Kapolresta Cilacap, Kombes Budi Adhy Buono, menanggapi pernyataan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebut dirinya sebagai salah satu pihak yang diduga menjadi...

Polda Metro Jaya Ungkap Perkembangan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis Kontras

JAKARTA - Polda Metro Jaya mengungkap perkembangan terkini kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras Andrie Yunus. Pelaku diduga berjumlah empat orang dengan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan