Kamis, September 24, 2026
Google search engine

Pilkada Langsung Lebih Mencerminkan Kedaulatan Rakyat, Bukan Sekedar Pesta Elite Kekuasaan

FASE awal kehidupan di muka bumi, manusia hidup secara nomaden (berpindah-pindah), diisi dengan kebiasaan berburu dan meramu.  Pada zaman ini  struktur masyarakatnya egaliter/setara, belum mengenal sistem kepemimpinan formal. Pemimpin biasanya muncul secara situasional untuk menghadapi masalah yang mengancam kelangsungan hidup kelompok.

Zaman Pra Aksara selanjutnya, manusia mulai hidup menetap (sedenter) dan sistem bercocok tanam, yang menandai dimulainya sistem kesukuan, dengan konsep kepemimpinan PRIMUS INTERPARES, yakni yang dianggap menonjol (utama) diantara yang setara, dipilih berdasar atas kewibawaan, kehormatan dan kemampuan melindungi KESEJAHTERAAN kelompok.

Perkembangan selanjutnya saat manusia mengenal KEYAKINAN terhadap hal supranatural, mulai muncul sistem kepemimpinan TEOKRASI, yakni Pemimpin dipersepsikan memiliki relasi dianggap sebagai penjelmaan dewa, sebagai pemegang kebenaran dan kekuasaan absolut, juga tidak bisa disentuh/ dikritisi, semisal kepemimpinan raja-raja Firaun di Mesir .

Pada era Klasik abad pertengahan, kepemimpinan sering dikaitkan dengan takdir yang mengedepankan TRAH (turunan) ataupun kelebihan bawaan pada diri seseorang. Mindset masyarakat zaman ini menjadi cikal-bakal dimulainya sistem kepemimpinan Monarki, dimana pemegang otoritas kekuasaan berlangsung secara turun temurun disertai pembagian jabatan berdasar kekerabatan (dinasti), menafikan penilaian yang berbasis kecakapan / kompetensi.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, sistem kepemimpinan terus mengalami inovasi mencari format yang paling cocok dan ideal. Sistem MONARKI beranak pinak menjadi Monarki ABSOLUT dengan keberadaan seorang raja yang memegang peran sbagai Kepala Negara skaligus Kepala Pemerintahan, serta  Monarki Konstitusional dengan formasi Raja sebagai Kepala negara dan simbol pemersatu, sedangkan Kepala Pemerintahannya dipegang oleh Perdana Menteri.

Berita Lainnya  Publik Masih Penasaran Alasan Purbaya Dicopot dari Posisi Menkeu

Pasca Revolusi Prancis yang ditandai keruntuhan rezim dictator Raja Louis XVI, dunia mulai mengenal system DEMOKRASI atau PEMERINTAHAN DAULAT RAKYAT”. Type ini dianggap paling cocok untuk menjawab kemajuan peradaban dan tuntutan dari kaum Renaissance yang memperjuangkan hak-hak dasar manusia.

Syarat utama negara penganut demokrasi, sebagaimana ditegaskan oleh Montesque, yakni menjalankan Trias Politica dengan wajib menghadirkan tiga Lembaga, yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Namun faham Demokrasi pun pada akhirnya menghasilkan banyak corak penyesuaian, dengan turunannya seperti Demokrasi LIBERAL dan demokrasi SOSIALIS.

Bahkan saat masuk ke Indonesia, terciptalah model Demokrasi PANCASILA, dengan penekanan pada budaya musyawarah dan PERWAKILAN, sebagaimana esensi sila ke-4 Pancasila.

Semenjak berdiri, Indonesia berulang kali mengalami perubahan model dalam menentukan Presiden. Sehari setelah Proklamasi, Soekarno ditetapkan sebagai Presiden melalui kesepakatan bersama para anggota PPKI, bukan dipilih oleh rakyat.

Soeharto pun demikian, menjadi Presiden melalui demokrasi Perwakilan (dipilih MPR). Sistem perwakilan ini bertahan hingga Pemilu pertama di era reformasi yang menghasilkan Presiden Gusdur (diteruskan Megawati).

Sedangkan Pemilihan Langsung dimulai pada saat Pemilu 2004, dan SBY memperoleh kepercayaan rakyat sebagai Presiden pertama produk pemilu langsung.

Berita Lainnya  Prabowo Geram dan Sindir Pakar : "Saking Pintarnya Jadi Goblok...!"

Tidak hanya Pilpres, untuk Pilkada pun Indonesia mengalami perubahan sistem, dimulai dari ditunjuk oleh Presiden, lalu dipilih oleh DPRD dan selanjutnya dipilih rakyat. Tentu pergantian sistem tersebut selalu menimbulkan polemik dan ada plus minusnya.

Semua ide gagasan tentang sistem kepemimpinan nasional ataupun lokal merupakan eksperimen untuk mencari format terbaik yang mampu mewujudkan cita-cita rakyat sebagai pemilik daulat, yaitu negara merdeka yang adil makmur.

Sistem penentuan pemimpin bukanlah TUJUAN akhir, namun hanya semata ALAT atau  JALAN, sebab mandat rakyat adalah perwujudan WELFARE STATE atau NEGARA KESEJAHTERAAN.

Tentunya rakyat tidak berharap perdebatan sistem Pemilukada, baik pihak yang maksa merubah ataupun ngotot bertahan, lebih mengedepankan kalkulasi politis untuk sekedar merebut atau mempertahankan jejaring kekuasaan.

Pada titik inilah Daulat Rakyat sebagai esensi negara Demokrasi harus dimaknai oleh para elite maupun rakyat dengan berlandaskan pada kepentingan bersama dan filosofi berdirinya sebuah bangsa, yang memiliki kesamaan sejarah di masa lalu dan juga kesamaan cita-cita untuk masa depan.

Pilkada langsung lebih mencerminkan daulat rakyat, bukan hanya pestanya para elite kekuasaan. Rakyat merasa dilibatkan untuk menentukan pemimpinnya, ada efek geliat ekonomi, diantaranya bagi jasa percetakan, konveksi, media massa, lembaga penyelenggara, jasa iklan dan publikasi, Lembaga Survei atau konsultan politik, dan banyak lagi.

Berita Lainnya  Tanggapi Pernyataan Prabowo, Mahfud MD : "Banyak juga Presiden yang Goblok"

Namun di sisi lain, sistem ini sangat berbiaya tinggi, baik dalam proses perhelatan, ataupun cost politik calon, bahkan dikategorikan sangat tidak logis untuk menghasilkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Output lainnya dari pilkada langsung adalah tumbuh subur politik dinasti, politik uang, praktek IJON PROYEK  para pengusaha berbaju relawan, IJON PROMOSI JABATAN dari ASN yang dijadikan mesin pemenangan, serta maraknya kasus korupsi dan praktek penyimpangan wewenang Kepala Daerah sebagai raja-raja lokal.

Gus Dur pernah bercerita, konon tiga Presiden dari negara padat penduduk menyempatkan berkunjung ke Yunani, negerinya para dewa.

Presiden Cina bertanya kepada dewa tentang perkiraan Cina mencapai kemajuan. Sang Dewa menjawab sekitar 50 tahun lagi. Presiden Cina menangis mendengar jawaban tersebut.

Lalu Presiden India bertanya hal serupa. Sang Dewa menjawab sekitar 70 tahunan. Mendengar itu, Presiden India menangis lebih keras dibanding Presiden China.

Tiba giliran Presiden Indonesia mengajukan pertanyaan yang sama. Sang Dewa tak menjawab, malah terdiam membisu, tiba-tiba Dewa membalikan badan lalu menangis histeris jauh lebih kencang dibanding tangis Presiden  Cina dan India.***

Ditulis oleh :

Dadan Suhendarsyah
Pegiat Sosial-Politik

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Gak Terima Diputusin, Pria ini Ancam Pacarnya Pakai Badik, Bakal Terima Diputusin Kalau Si Cewek Ngasih Duit Rp 200 Ribu

Pemuda berinisial F (22) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), diamankan polisi setelah diduga mengancam mantan pacarnya, AR (19), menggunakan senjata tajam jenis badik. Pelaku...

Pimpinan Ponpes Abul Barokat Bantah Pelecehan Santriwati, Bakal Laporkan Media BBC Indonesia

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, menyatakan mundur...

Tanggapi Pernyataan Prabowo, Mahfud MD : “Banyak juga Presiden yang Goblok”

Mahfud MD menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar atau profesor "saking pintarnya jadi goblok" tidak etis disampaikan oleh seorang kepala negara. Mahfud MD...

Ustaz Das’ad Latif Kritik Keras Buku Islam Ala Prabowo : “Penjilat Luar Biasa itu”

Ustaz Das'ad Latif secara blak-blakan memberikan kritik keras terhadap buku berjudul "Islam Ala Prabowo" yang sempat memicu kontroversi di masyarakat. Dalam salah satu tausiyahnya yang...

KPK Diminta Bongkar Dugaan Gratifikasi Pencaplokan Lahan Hutan Jadi Kawasan Industri di Karawang

KARAWANG - Menjelang aksi demonstrasi yang akan digelar Serikat Tani Karawang (SETAKAR) ke kantor ATR/BPN Karawang, pada Kamis (24/9/2026), Praktisi Hukum dan Pengamat Kebijakan,...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan