BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai persoalan utama banjir yang kerap melanda Kabupaten Karawang terletak pada kondisi tanggul sungai yang belum memadai.
Menurut Dedi, banyak tanggul sungai dalam kondisi jebol atau lemah. Padahal, sungai-sungai tersebut menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Problem utamanya adalah sungai-sungainya itu tanggulnya jebol. Nah seharusnya itu segera ditangani oleh BBWS,” kata Dedi, saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (26/2/2026).
Ia mengatakan, perbaikan yang dilakukan saat ini masih bersifat sementara. Ada tanggul yang hanya diperkuat dengan bambu. Ada juga yang ditahan dengan karung berisi pasir.
Kondisi tersebut dinilai Dedi, tidak cukup kuat menahan debit air saat hujan deras turun. Akibatnya, air sungai mudah meluap dan menggenangi permukiman warga.
“Nah saya lihat tanggul yang dipasang sementaranya ada yang dibuat dari bambu, ada yang hanya tumpukan pasir dikarungin,” tutur Dedi.
Dedi menduga perbaikan belum maksimal karena anggaran yang belum turun. Meski begitu, ia berharap masalah ini segera ditangani agar banjir tidak terus berulang.
“Semoga bisa cepat diperbaiki, karena itu memang kewenangan BBWS,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, pada hari kedua puasa Ramadhan 2026, warga Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Jumat (20/2/2026) kembali kebanjiran.
Akibat bencana itu, warga yang bersiap menyajikan makan sahur, terpaksa meninggalkan rumahnya masing-masing untuk mengungsi ke tempat aman, Jumat dini hari (20/2/2026).
“Dusun Pangasinan dan Kampek kembali disergap banjir dari luapan Sungai Cibeet dan Citarum pada pukul 02.00 WIB,” ujar petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kecamatan Telukjambe Barat, Kamis, Jumat (20/2/2025) siang.
Kaming mengatakan, berdasarkan data pada Jumat (10/2/2026) siang, ada 218 rumah warga yang kebanjiran. Adapun warga terdampak mencapai 910 orang dari 306 keluarga.***
Sumber : Kompas.com









