Senin, Agustus 3, 2026
spot_img

Om Zein dan Abang Ijo Tak Sekompak Saat Kampanye Pilkada Dulu

PURWAKARTA – Sampai hari ini, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (Om Zein) belum memberikan pernyataan sedikit pun ke publik, terkait isu disharmonisasi dirinya dengan Wakil Bupati, Abang Ijo Hapidin.

Tak sekompak saat kampanye pilkada dulu, isu hubungan keretakan antara Om Zein dengan Abang Ijo terus menjadi perbincangan masyarakat Purwakarta.

Bagaimana tidak, lewat komentar di media sosial Abang Ijo secara terang-terangan menunjukan sikap tidak harmonisnya dengan Om Zein.

“Pak Bupati kalau bisa ikut gabung disini pak @omzein_bupatiaing,” tulis Abang Ijo dalam kolom komentar di unggahan medsos miliknya.

Sementara, menanggapi polemik disharmonisasi ini, mantan birokrat Purwakarta, Jaenal Arifin mencoba menganalisis penyebab terjadinya dugaan friksi (perpecahan) diantara kedua pejabat publik tersebut.

Menurut Jaenal, ada beberapa kemungkinan penyebab bupati tidak melibatkan wakilnya.

“Bisa jadi karena karakter kepemimpinan bupati yang cenderung otoriter dan lebih suka mengambil keputusan sendiri. Bisa juga karena kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan wakil bupati, atau kebiasaan yang memang tidak menempatkan koordinasi sebagai prioritas,” ujar Jaenal, dilansir dari iNews Purwakarta, Rabu (25/2/2026).

Berita Lainnya  Dualisme KADIN Karawang Buat Dunia Usaha dan Industri Jadi Bingung

Dia melanjutkan, dalam beberapa kasus, bupati mungkin lebih mengandalkan sekretaris daerah dibandingkan wakilnya.

Jaenal mengatakan, faktor politik juga tidak bisa diabaikan. Karena jabatan bupati dan wakil bupati bersifat politis, perbedaan latar belakang partai dapat memicu ketidakharmonisan.

“Persaingan membangun citra dan posisi menjelang kontestasi politik berikutnya kerap memengaruhi dinamika hubungan keduanya,” imbuhnya.

Dia melanjutkan, dalam tata kelola pemerintahan daerah, relasi antara bupati dan wakil bupati seharusnya berjalan dalam semangat kemitraan, koordinasi, dan kerja tim.

Jika muncul persoalan karena wakil bupati tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, ada sejumlah langkah yang bisa ditempuh untuk menyelesaikannya secara elegan dan konstitusional.

Salah satu cara yang paling mendasar adalah menggelar rapat koordinasi internal untuk membicarakan persoalan secara terbuka.

Forum ini menjadi ruang klarifikasi sekaligus evaluasi komunikasi di antara keduanya.

“Sebaiknya wabup jangan curhat ke publik dulu. Dia bisa datang menyampaikan langsung kekecewaannya kepada bupati, atau melalui jalur formal, misalnya membuat surat resmi kepada bupati. Gunakan mekanisme internal untuk menyelesaikan masalah,” ujar Jaenal.

Berita Lainnya  Cuma Gegara Curi Sayuran, Ibu ini Sampai Diikat di Tiang Listrik dan Sempat Dipukul

Sikap wabup curhat ke ruang publik tidak dibenarkan. Dalam prinsip kepemimpinan, wabup seharusnya mendukung dan bekerjasama dengan bupati.  Bukan malah mengkritik atau membeberkan masalah internal ke publik,” tuturnya.

“Dampak curhat ke publik, akan merusak citra pemerintah daerah dan hilangnya kepercayaan publik. Konflik internal akan lebih parah, serta mengganggu kinerja pemerintahan. Curhat ke publik bisa dikategorikan sebagai pelanggaran kode etik pejabat publik dan berpotensi terkena sanksi,” paparnya.

Jaenal membeberkan, apabila komunikasi internal tidak membuahkan hasil, opsi melibatkan pihak ketiga sebagai mediator bisa dipertimbangkan.

Misalnya, meminta fasilitasi dari DPRD setempat atau berkonsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai pembina pemerintahan daerah. Mediasi semacam ini bertujuan menjaga stabilitas pemerintahan, bukan memperkeruh konflik.

Secara hukum, memang tidak ada sanksi langsung bagi bupati yang tidak melibatkan wakil bupati dalam pengambilan keputusan.

“Namun, praktik tersebut dapat dinilai sebagai lemahnya kepemimpinan dan koordinasi. Dampaknya bukan hanya pada hubungan personal, tetapi juga berpotensi mengganggu efektivitas kinerja pemerintahan daerah,” ujarnya.

Wakil bupati dan bupati adalah satu paket kepemimpinan yang dipilih rakyat. Karena itu, secara etis dan administratif, wakil bupati semestinya dilibatkan dalam proses strategis, terutama yang menyangkut kebijakan penting.

Berita Lainnya  Puluhan Siswa dan Wali Murid Dilarikan ke Fasilitas Kesehatan Setelah Diduga Keracunan MBG

Mengabaikan peran wakil dapat dipandang sebagai pelanggaran terhadap prinsip kerja sama dan koordinasi dalam pemerintahan.

“Penyelesaian melalui komunikasi terbuka, koordinasi yang konsisten, dan bila perlu mediasi pihak ketiga, menjadi langkah yang lebih bijak dibanding mempertahankan ego masing-masing,” imbuh Jaenal.

Isu adanya friksi antara Bupati dan Wabup Purwakarta, kata Jaenal, juga terjadi pada rezim-rezim sebelumnya. Yakni, pada rezim Dedi Mulyadi selama dua periode, dan rezim Anne Ratna Mustika.

Ketika Purwakarta dipimpin Dedi Mulyadi, disharmonis terjadi dalam dua periode kepemimpinannya. Yakni saat Dudung B Supardi menjadi wabup pada periode pertama, dan Dadan Koswara pada periode kedua.

“Saat itu isunya tak sampai heboh di ranah publik, karena wabupnya tak memilih curhat di medsos. Maklum, wabupnya Dedi kan dari kalangan birokrat,” ujar Jaenal.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Menag Ajak Masyarakat Bersyukur Atas Kepemimpinan Prabowo karena Berada di Jalur yang Tepat

JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin mengajak seluruh peserta Zikir dan Doa Kebangsaan bersyukur dengan kondisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik. Menurut Nasaruddin, kepemimpinan di bawah...

Diduga Korban Konflik Adat, Jasad Pria di Mimika Ditemukan dalam Kondisi Tubuh Penuh Anak Panah

MIMIKA - Seorang warga bernama Jerren Uamang ditemukan tewas dengan puluhan anak panah menancap di tubuhnya di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika,...

707 Siswa dan Guru di SMKN 6 Semarang Keracunan MBG, Kepala BGN Minta Maaf

SEMARANG - Sebanyak 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Yaitu dimana 693...

KDM akan Beri Hadiah bagi Warga yang Bisa Memposting Keberadaan Warung Tramadol

BANDUNG - Setelah membuka sayembara memburu dan menangkap para pelaku begal untuk diserahkan ke pihak kepolisian dalam kondisi hidup, kini Gubernur Jawa Barat, Kang...

Perintah Dedi Mulyadi, Wali Kota Bekasi Pecat Oknum Dishub yang Pungli Sopir Truk

KOTA BEKASI - Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memastikan lima oknum Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi yang terlibat dalam kasus pungutan liar (pungli) terhadap...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan