Jumat, Mei 22, 2026
spot_img

Cuaca Buruk, Nelayan Subang Terpaksa Libur Melaut

SUBANG – Informasi BMKG, terkait peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan pantai utara laut Jawa (Pantura) SubangĀ  yang berpotensi terjadi ketinggian gelombang, perlu diwaspadai oleh para pengguna perairan atau para nelayan. Selain ketinggian gelombang, juga kecepatan angin berkisar 10 – 30 knot, yang bisa membahayakan para nelayan.

Terkait peringatan yang dikeluarkan BMKG tersebut, menurut Ketua DPC Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KTNI) Kabupaten Subang Ali Khaerudin, untuk sementara ini, para nelyan di pantai utara laut Jawa (Pantura) Subang, menyandarkan perahunya di tepi pantai, guna menghindari hal buruk yang akan menimpa para nelayan, akibat ketinggian gelombang dan kecepatan angin, yang dapat mengancam keselamatan para nelayan.

“Dengan kondisi cuaca buruk tersebut, mengakibatkan penurunan hasil tangkap ikan para nelayan. Jika para nelayan memaksakan melaut, hasilnya tidak maksimal, karena cuaca buruk di laut pun, akan membahayakan keselamatan para nelayan kita,” ungkap Ali kepada RRI di Subang, Senin (24/11/2205).

Berita Lainnya  Heryanto, Pelaku Pembunuhan Karyawati Minimarket Divonis Hukuman Mati

Setiap musim penghujan seperti sekarang ini, yang tidak menentu, lanjut Ketua KNTI Kabupaten Subang, dengan angin yang besar menjadi kendala besar bagi para nelayan, yang menggunakan perahu-perahu kecil, dengan ukuran 15 atau 10 groston keatas itu, cukup besar memakan biaya BBM-nya, sehingga tidak berimbang antara pengeluaran dengan penghasilan para nelayan. Kecuali hanya turun hujan biasa, itu tidak menjadi kendala bagi para nelayan.

“Biaya satu kali melaut, para tak hanya cukup membawa perbekalan BBM saja, tetapi seperti es, dan biaya makan sehari-hari pun, di bawa oleh para nelayan selama melaut. Tetapi dengan cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, tentunya menjadi kendala bagi para nelayan. Apalagi terjadi tambeng, atau angin besar di laut, yang membuat para nelayan kesulitan, karena para nelayan tradisional itu, tidK menggunakan alat pemantau cuaca,” terangnya.

Berita Lainnya  Warga Cijambe - Subang Gempar Temuan Bayi Perempuan Dibuang di Semak-semak

Kelemahan para nelayan tradisional ini, kata dia, tidak memiliki radar, yang bisa menemukan keberadaan ikan, termasuk mendeteksi cuaca, sehingga berdampak terhadap tingginya resiko biaya tinggi, yang tak hanya BBM, tetapi juga perbekalan lainnya, atau logistik selama melaut. Terlebih di saat cuaca hujan, ikan-ikan itu tak lagi bergerombol, karena ikan akan lari takut oleh hujan.

“Biasanya ikan-ikan itu bergerombol. Tetapi ketika hujan turun, ikan-ikan itu pada lari, sehingga mengakibatkan hasil tangkapan para melayani, mengalami kemerosotan yang cukup signifikan,” papar Ali.

Berita Lainnya  Buntut Bentrokan Suporter, Dedi Mulyadi Minta Bobotoh Tak Berlebihan Rayakan Kemenangan

Penurunan hasil tangkap para nelayan tradisional, disebutkan ia, terjadi sejak Oktober 2025 lalu, mengalami penurunan sekitar 70 persen. Penurunan hasil tangkatap itu, terjadi di KUD Mina Fajar Sidik, dan KUD Mina Bahari Blanakan, yang merupakan KUD nelayan terbesar di Kabupaten Subang.

“Secara umum, penurunan ikan hasil tangkapan itu, terjadi di dua KUD nelayan terbesar di Kabupaten Subang, yaitu KUD Mina Fajar Sidik, dan KUD Mina Bahari Blanakan. Karena di kedua KUD tersebut, paling banyak memberangkatkan nelayan untuk melaut, tapi karena cuaca buruk itu, hanya sedikit nelayan yang berangkat melaut,” pungkasnya.***

Sumber : RRI.co.id

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Heryanto, Pelaku Pembunuhan Karyawati Minimarket Divonis Hukuman Mati

PURWAKARTA - Kasus pembunuhan pegawai minimarket, Dina Octaviani, akhirnya memasuki babak akhir setelah terdakwa Heryanto alias HBK mencabut upaya banding dan menerima putusan majelis...

Dikabarkan Hilang, Siswa SD di Karawang Ternyata Kabur Bersama Pacarnya, Alasannya Bikin Geleng-geleng Kepala

KARAWANG - Dikabarkan hilang selama empat hari sejak Senin (18/5/2026), LZ (13) siswi Madrasah Ibtidaiyah atau setingkat Sekolah Dasar di Kecamatan Karawang Barat, akhirnya...

KPK Dukung Program MBG : ‘Jangan Sampai Ada Korupsi’

JAKARTA - KPK menyampaikan dukungan terhadap program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski begitu, KPK menyebut tetap memberikan catatan penting mengenai tata kelola...

2 Buruh Tani di Pantura Subang Tewas Tersambar Petir

SUBANG - Nasib nahas menimpa dua orang buruh tani asal Desa Cigugur, Kecamatan Pusakajaya, Subang, yang kehilangan nyawa akibat tersambar petir saat bekerja memanen...

Isu Teror Pocong di Tanggerang, Polisi Imbau Warga Tenang dan Tingkatkan Kewaspadaan

TANGGERANG - Isu liar teror 'pocong' mencuat di bilangan Tangerang. Isu itu menyebutkan adanya pocong tipuan meneror warga di Kecamatan Rajeg, Tangerang, Banten. Heboh isu...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan