Rabu, Oktober 7, 2026
Google search engine

Rp 3,9 Miliar Pagar dan Paving Block Gedung Sate, Pengamat Singgung Efisiensi Anggaran

BANDUNG – Pengamat kebijakan publik Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai pembangunan gerbang bergaya candi di Gedung Sate menyimpan paradoks: megah secara visual, tetapi minim manfaat bagi warga Jawa Barat yang kini tengah menghadapi tekanan ekonomi.

Menurut Kristian, proyek pilar gerbang yang saat ini masih dalam proses pembangunan menggambarkan ketimpangan prioritas dalam politik anggaran pemerintah.

Ia menilai pemerintah lebih fokus pada estetika bangunan ketimbang program yang menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.

“Secara fisik tampak megah, seolah menunjukkan ada pergerakan pembangunan. Tapi, ketika dibenturkan dengan realitas ekonomi masyarakat Jawa Barat saat ini, itu terasa hampa karena tidak menyentuh akar persoalan publik,” ujarnya di Bandung, Minggu (23/22/2025), dikutip dari Antara.

Kristian mempertanyakan urgensi memprioritaskan “mempercantik” pagar kantor pemerintahan di tengah tantangan penurunan daya beli masyarakat.

Ia bahkan menyebut proyek tersebut sebagai bentuk pembangunan “mercusuar”, yakni proyek yang mengedepankan kesan simbolik dan visual, tetapi minim manfaat konkret.

Berita Lainnya  Wagub Kepulauan Bangka Belitung Kembali Bertugas Setelah Keluar dari Penjara, Wamendagri :"Saya Dalami Dulu ya!"

Karena itu, menurutnya, publik berhak mempertanyakan transparansi alasan pemerintah memilih memprioritaskan pemugaran pagar dibanding program yang berdampak langsung pada kehidupan warga.

Apalagi, menurut Kristian, nilai anggaran sebesar Rp 3,9 miliar untuk pembangunan gerbang tersebut—ditambah perbaikan paving block area parkir—tidak dapat dianggap kecil, terlebih pada masa ketika warga membutuhkan stimulus ekonomi.

Kristian juga menekankan bahwa narasi efisiensi anggaran yang selama ini digaungkan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada pemangkasan pos belanja, tetapi juga memastikan alokasi anggaran menghasilkan manfaat nyata.

“Apakah Rp 3,9 miliar untuk pagar dan gapura (dan lapangan parkir) itu lebih bermakna dibanding jika dialokasikan untuk program yang berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi warga?” katanya.

Penjelasan Kominfo Jabar

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Jabar, Adi Komar, memastikan pekerjaan tersebut tidak mengganggu alokasi layanan publik karena sudah direncanakan dalam APBD Perubahan.

Berita Lainnya  Ustaz Das'ad Latif Kritik Keras Buku Islam Ala Prabowo : "Penjilat Luar Biasa itu"

“Ya, ini memang sudah direncanakan di APBD perubahan dan dipastikan tidak mengganggu layanan publik ya,” ujar Adi saat ditemui di Gedung Sate, Kamis (20/11/2025).

Pemprov menilai pemugaran diperlukan karena struktur lama sudah tua termakan waktu sehingga perlu diperkuat.

Adapun anggaran untuk memugar pilar di area Barat dan Timur dialokasikan sebesar Rp 3,9 miliar.

“Memang ini kan sudah lama ya, pagar dan sarana personal lainnya yang melingkari ini sudah lama tidak ditinjau ulang dan sudah lama tidak direnovasi. Ini sekalian kami renovasi karena kemarin-kemarin kan juga ada aktivitas-aktivitas masyarakat, ada unjuk rasa dan lain-lain,” kata Adi.

Tanggapan Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan alasan pemerintah provinsi melakukan penataan ulang kawasan sekitar Gedung Sate, Bandung.

Dalam wawancara via telepon pada Jumat (21/11/2025), Dedi menegaskan, renovasi tersebut hanya menyasar area luar gedung, bukan bangunan utamanya yang memiliki nilai sejarah bagi Jawa Barat.

Berita Lainnya  Tanggapi Pernyataan Prabowo, Mahfud MD : "Banyak juga Presiden yang Goblok"

“Penataan hanya bagian luar Gedung Sate karena itu bukan bangunan heritage. Itu sudah beberapa kali renovasi,” ujar Dedi.

Menurutnya, penataan ini bertujuan menjadikan kawasan lebih ramah lingkungan dan sarat nilai filosofis yang mencerminkan Jawa Barat.

“Jalan aspal diubah menjadi paving block agar ada daya serap air. Lalu, pagar dibangun dengan memiliki makna simbolik. Ya, bangunan itu harus punya makna, punya filosofi,” kata Dedi.

Penataan ini juga tidak mengganggu prioritas pembangunan lain di Jawa Barat.

Dedi menegaskan, anggarannya relatif kecil dibanding pembangunan infrastruktur lainnya.

“Anggaran penataan Gedung Sate tidak seberapa dengan dana pembangunan jalan, listrik, dan penataan saluran sungai,” ujarnya.***

Sumber: https://bandung.kompas.com/read/2025/11/24/071919478/renovasi-gedung-sate-pengamat-tampak-megah-tetapi-hampa-manfaat?page=all.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Justin Hubner Balasan Cibiran Rival Negara Tetangga : “We Are The Real King”

Selain merayakan kemenangan atas Timnas Thailand di lapangan, bek tengah (center-beck) Timnas Indonesia, Justin Hubner yang dikenal berani dan gemar melakukan psywar juga memanfaatkan...

Eks Pimpinan Ponpes Abul Barokat Ditetapkan Tersangka Dugaan Pelecehan Sejumlah Santriwati

Polresta Lombok Tengah, menetapkan mantan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Imanuddin...

35 Tahun Puasa Trofi, Timnas Indonesia Akhirnya Juara FIFA ASEAN Cup 2026

SETELAH mengalami puasa trofi selama 35 tahun sejak medali emas SEA Games 1991, Timnas Indonesia akhirnya memecahkan dahaga di gelar juara FIFA ASEAN Cup...

Satu Keluarga di Tulang Bawang – Lampung Tewas Dibunuh, Polisi Buru Pelaku

Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak perempuan ditemukan tewas bersimbah darah di Kampung Purwa Jaya, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang,...

Buntut Temuan Ombudsman, Kalapas Cibinong Diberhentikan sebagai ASN

Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto, resmi diberhentikan dari statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) pada...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan