MEDAN – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menjenguk salah seorang siswa SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, yang menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Umum (RSU) Medan, Jumat (15/8/2026).
Siswa tersebut dirujuk ke Medan setelah sempat mengalami penurunan kesadaran saat menjalani perawatan di Kabanjahe.
“Kondisinya lebih parah lah ya dibandingkan teman-teman yang lain, awalnya dirawat di Kabanjahe, namun dirujuk ke sini karena memang kondisinya pas di sana sempat mengalami penurunan kesadaran,” ujar Bobby.
Menurut Bobby, pasien kini menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan kondisinya terus dipantau tim medis. Mantan Wali Kota Medan itu memastikan pemerintah akan terus mengawal penanganan pasien hingga kondisinya pulih.
“Di sini pokoknya kami usahakan, kami tadi janji sampai pulih, minta orang tua tadi kalau bisa benar-benar dipulihkan total. Tadi estimasi dari dokternya mungkin 2 sampai dengan 3 hari lagi estimasi dari dokternya,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, siswa SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMK Negeri 1 Berastagi diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG pada Kamis (13/8/2026).
Hingga Jumat (14/8/2026), jumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan mencapai 353 orang.
Dari informasi yang dihimpun, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program MBG. Beberapa siswa diduga mengalami gejala berupa mual, muntah, pusing, hingga kondisi tubuh melemah.
Para siswa yang diduga mengalami keracunan kemudian mendapat perawatan di Rumah Sakit Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, Rumah Sakit Umum Kabanjahe, serta Puskesmas Berastagi.
Kepala UPT Dinas Pendidikan Sumatera Utara Cabang Kabanjahe Zulkarnain Barus membenarkan adanya peristiwa tersebut.
“Betul ada peristiwa keracunan di sekolah. Ini saya di lokasi sedang menangani. Untuk jumlah siswa yang keracunan belum dapat disampaikan,” ujar Zulkarnain saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (13/8/2026).
Meski demikian, penyebab pasti kondisi yang dialami para siswa hingga kini belum diketahui. Pihak terkait masih melakukan penanganan dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta keterangan resmi dari pihak berwenang.***
Sumber: Kompas










