Kamis, September 3, 2026
spot_img

Trauma Diperiksa Inspektorat, Sejumlah Ketua RW di Kota Bekasi ‘Ogah’ Ambil Bantuan Rp 100 Juta Lagi

KOTA BEKASI – Alih-alih diharapkan dapat membantu program percepatan pembangunan di tingkat desa, sejumlah Ketua RW di Kota Bekasi justru mengaku ‘ogah’ atau tidak mau lagi mengambil bantuan anggaran Rp 100 juta dari Pemkot Bekasi.

Alasannya, mereka mengaku trauma setelah menjalani pemeriksaan dari Inspektorat yang dianggap penuh tekanan psikologis.

Para ketua RW yang tidak memiliki latar belakang akutansi dan administrasi keuangan, tetapi mereka harus mempertanggungjawabkan pengelolaan anggarannya secara detail.

“Kalau kaya gini urusannya, biarin dah kita ga dapet lagi kalau ada lagi bantuan Rp100 juta,” tutur salah seorang Ketua RW di wilayah Kecamatan Bekasi Selatan yang meminta namanya dirahasiakan, dilansir dari inijabar.com.

Ia menjelaskan, salah satu sumber tekanan psikologis utama adalah pemeriksaan bukti pembelian yang dinilai terlalu rumit dan kaku.

Kesalahan kecil seperti perbedaan tanggal, stempel toko yang buram, atau format nota yang tidak seragam kerap berujung pada pertanyaan berulang. Kondisi ini menimbulkan kecemasan berlebih, bahkan sebelum pemeriksaan dimulai.

Berita Lainnya  Nia Kurnia Siap Berkompetisi dalam Pemilihan Anggota BPD Desa Pucung

“Tadi saya ditanya ama petugas inspektorat ini ada perbedaan selisih harga antara rancangan belanja dengan realisasi. Padahal ya namanya rencana pasti beda sama realisasinya jadi tadi ditanya harus disamakan nilainya antara rencana belanja dengan realisasi. Ah ribet banget akhirnya saya di suruh balik lagi untuk perbaiki dulu soal selisih tadi,” katanya.

Pemeriksaan yang berlangsung hingga malam hari tanpa kepastian waktu memperparah kondisi mental mereka. Para Ketua RW harus menunggu berjam-jam dalam antrian panjang, sering kali tanpa jeda yang manusiawi.

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini memicu mental exhaustion kelelahan kognitif akibat ketidakpastian dan tekanan situasional. Banyak RW mengaku datang pagi hari dan baru diperiksa sore atau malam, sementara mereka tetap memikul tanggung jawab pekerjaan dan keluarganya.

Alih-alih merasa dilayani sebagai mitra pemerintah, mereka justru merasa “ditahan” dalam sistem birokrasi yang dingin.

“Waduh berat bang kalo kaya gini, tadi saya ngomong sama bendahara saya kalau 2026 ada lagi program ini kita ga mau nerima dah,” keluh pengurus RW lainnya.

Berita Lainnya  Bobby Nasution Jenguk Siswa Korban Keracunan MBG yang Kondisinya Parah

Faktor lain yang krusial adalah ketidaksiapan mental karena belum pernah berhadapan langsung dengan Inspektorat. Bagi sebagian besar Ketua RW, ini adalah pengalaman pertama menjalani audit formal.

Tanpa pembekalan psikologis dan teknis yang memadai, pemeriksaan dipersepsikan sebagai ancaman, bukan pembinaan. Istilah-istilah formal, nada pertanyaan yang kaku, hingga suasana ruangan pemeriksaan memicu kecemasan yang menyerupai sindrom “takut diperiksa”.

Secara psikologis, ini dikenal sebagai authority anxiety, yaitu rasa takut berlebihan saat berhadapan dengan otoritas resmi.

Merasa Seperti Terdakwa, Bukan Mitra

Yang paling membekas adalah perasaan diperlakukan seperti pihak terdakwa, bukan relawan pembangunan. Beberapa Ketua RW mengaku pertanyaan yang diajukan terasa menginterogasi, bukan mengklarifikasi.

“Jadi kita seolah sudah jadi tersangka diperiksa kaya gitu,”cetus ketua RW di wilayah Jatiasih ini.

Posisi duduk, alur tanya jawab satu arah, serta minimnya empati memperkuat persepsi bahwa mereka sedang “diadili”. Padahal, mereka menjalankan program pemerintah tanpa imbalan finansial pribadi.

Berita Lainnya  Unik! Pedagang Mie Aceh ini Berjualan di Atas Pohon

Dalam kajian psikologi organisasi, kondisi ini dapat menimbulkan learned avoidance—sikap menghindari peran atau tanggung jawab tertentu karena pengalaman buruk sebelumnya. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak RW memilih mundur dari program, meskipun dananya besar.

Keputusan Ketua RW untuk menolak program bukan semata persoalan teknis, melainkan sinyal serius soal krisis pendekatan pengawasan. Jika trauma ini dibiarkan, pemerintah berisiko kehilangan partisipasi sukarela masyarakat dalam program pembangunan.

Alih-alih memperkuat akuntabilitas, pendekatan yang menekan justru menciptakan ketakutan struktural di level akar rumput.

Pemerintah Kota Bekasi kini dihadapkan pada pilihan, mempertahankan pola pemeriksaan yang menakutkan, atau mereformasi sistem agar pengawasan berjalan tanpa mematikan semangat warga.

Jika tidak, bukan hanya program yang ditinggalkan, tetapi juga kepercayaan publik yang perlahan menguap.***

Sumber : inijabar.com
Foto : ilustrasi net

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Praktisi Hukum Ancam Laporkan Kejari Karawang ke Jamwas dan Komjak RI

KARAWANG - Praktisi hukum sekaligus pengamat kebijakan, Sony Adiputra SH., mengancam akan melaporkan Kejaksaan Negeri Karawang ke Jamwas (Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan) dan...

Pelaku Pembunuhan Wanita yang Mayatnya Dibungkus Kardus Ditangkap

BANDUNG - Pelaku pembunuhan wanita yang dibungkus kardus di Kota Bandung akhirnya ditangkap jajaran Satreskrim Polrestabes Bandung. Informasi ini dibenarkan Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Dedi...

Polda Jabar Ungkap Kasus Pornografi dan Eksploitasi Anak, 8 Tersangka Diamankan

BANDUNG - Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Barat mengungkap jaringan pornografi dan eksploitasi seksual anak lintas wilayah dengan mengamankan delapan orang tersangka. Pengungkapan ini berawal...

Ratusan Santri Manbaul Hikam – Sidoarjo Keracunan Usai Santap Menu MBG

SIDOARJO - Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (1/9/2026) siang....

DPO 2 Tahun, Mantan Bupati Minahasa Utara Ditangkap di Mimika – Papua

Manado - Tim Tangkap Buron (Tabur) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut) menangkap mantan Bupati Minahasa Utara (Minut) Vonnie Anneke Panambunan alias VAP di...

Hukum

Praktisi Hukum Ancam Laporkan Kejari Karawang ke Jamwas dan Komjak RI

KARAWANG - Praktisi hukum sekaligus pengamat kebijakan, Sony Adiputra SH., mengancam akan melaporkan Kejaksaan Negeri Karawang ke Jamwas (Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan) dan...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan