Kamis, Juli 23, 2026
spot_img

Ricuh Pengamanan Aset Pemkot Bukittinggi, Dosen hingga Security UFDK Alami Luka-luka

BUKITTINGGI – Sejumlah sivitas akademika Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukittinggi menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum Satpol PP Bukittinggi, Rabu 22 Juli 2026.

Kekerasan itu menyasar beberapa dosen, sekuriti atau satpam dan mahasiswa, bahkan seorang satpam kampus mengalami luka-luka di bagian wajah.

Menurut Khairul Abbas, selaku dosen serta anggota tim kuasa hukum UFDK Bukittinggi, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 09.00 WIB.

Abbas menjelaskan, saat kejadian tim SK4 Pemko Bukittinggi memasuki area kampus dengan cara melompati pagar bagian belakang.

Kemudian berusaha memasang plang yang berisikan klaim kepemilikan tanah oleh Pemko Bukittinggi.

Berita Lainnya  Pick Up Rombongan Antar Pengantin di Indramayu Ditabrak Truk Tronton, 13 Penumpang Meninggal Dunia

Namun pemasangan itu menuai protes dari pihak kampus dan membuat keributan tak terelakan dan membuat sejumlah orang dari pihak kampus menjadi korban.

Menurut Abbas, ini bukan persoalan eksekusi lagi, tapi sudah merupakan persoalan dugaan tindak penganiayaan berat.

“Ada yang dipukul kepalanya, ada yang disepak di punggungnya, ini bukan lagi tindak pidana ringan,” ujar Abbas.

Abbas meyakini, banyak yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oknum Satpol PP.

Namun pihaknya baru mendata 4 orang yang menjadi korban, dan 3 di antaranya mengalami kekerasan serius.

Berita Lainnya  Ledakan Misterius di Toko Material Bangunan Purwakarta Tewaskan 1 Karyawan, Polisi Masih Lakukan Penyelidikan

Sementara, Kasatpol PP Kota Bukittinggi Syanji Faredy juga mengatakan kegiatan tersebut merupakan operasi gabungan SK4 yang terdiri dari unsur Pemkot, Polisi Militer, TNI, dan Polri. Menurut Syanji, tujuan kedatangan petugas hanya untuk memasang plang pengamanan aset.

Syanji menyebut petugas justru mendapat provokasi dan didorong oleh pihak kampus. Pemkot juga mengeklaim terdapat anggota Satpol PP yang lebih dulu disikut dan diserang.

“Tujuan kami hanya memasang plang,” kata Syanji.

Namun, ia mengklaim situasi berubah setelah petugas mendapat provokasi dari pihak kampus.

Berita Lainnya  ODGJ ini Berontak saat Diamankan Satpol PP, Ternyata Konten Kreator yang sedang Nge-Prank di Ruang Publik

“Dimulai dari seorang pria berbaju kuning. Diteriaki kami maling,” ujarnya.

Syanji menyebut salah seorang anggota Satpol PP lebih dulu didorong dan disikut sehingga terjadi aksi saling dorong di lokasi.

“Itu provokasi awalnya. Anggota saya yang didorong duluan, lalu disikut,” katanya.

Atas kejadian ini, para korban dari pihak kampus telah melakukan visum dan melaporkan kejadiannya ke Reskrim Polresta Bukittinggi. (Dari berbagai sumber)

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Jadi Tersangka Korupsi Pakan Rp 10,2 Miliar, Satwa Sampai Kurus dan Sekarat

SURABAYA - Mantan Direktur Utama (Dirut) Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar, menjadi tersangka kasus korupsi pengelolaan keuangan periode 2016-2024 sebesar Rp 10,2 miliar. Satwa...

Korban Keracunan MBG di Kulon Progo Jadi 105 Orang, dari Siswa, Bumil hingga Busui

KULON PROGO - Dinas Kesehatan Kulon Progo mencatat setidaknya 105 korban mengalami gejala keracunan (mual, muntah, dan diare) akibat menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dampak...

Keluhkan Sakit Perut hingga Diare, Puluhan Santri Pesantren di Garut Keracunan MBG

GARUT - Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mansuriah di Mekarsari, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami gejala keracunan makanan. Mereka mengeluh sakit perut, mual,...

Dari Mual hingga Gatal-gatal, 14 Siswa SMA di Pasuruan Keracunan MBG

PASURUAN - Sebanyak 14 siswa kelas X SMAN 1 Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengalami gejala diduga keracunan usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis...

Jawa Barat Adalah Rumah bagi Kemajemukan, Mengganti Namanya Jadi Tatar Sunda Beresiko Picu Ego Primordial

DALAM Romeo and Juliet, William Shakespeare menggugat melalui Juliet: "What’s in a name? A rose by any other name would smell as sweet." Di hadapan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan