Selasa, September 29, 2026
Google search engine

Rocky Gerung Bela Ketua BEM UGM : Ada Pihak Lain yang ‘Ngomporin’

JAKARTA – Pengamat politik sekaligus mantan dosen Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung membela Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) agar tidak takut dalam teror yang diterima Tiyo Ardianto.

Teror yang diterima Tiyo Ardianto selaku Ketua BEM UGM setelah melayangkan kritik tajam kepada pemerintah terkait menyuarakan kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejumlah pihak pun memberikan tanggapannya mengenai hal tersebut, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa UGM, Anies Baswedan.

Saat menghadiri Diskusi Intelektual Muslim di Masjid Ulil Albab UII Yogyakarta, Jumat (20/2/2026), ia mengingatkan bahwasanya negara wajib melindungi kebebasan berpendapat.

Oleh sebab itu ia mendorong Tiyo Ardianto untuk lapor polisi agar penerornya bisa dicari.

Pengamat politik Rocky Gerung memberikan analisisnya soal teror yang menimpa Tiyo Ardianto.

Tiyo sebelumnya mengaku diteror butut menyuarakan kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bentuk teror berupa penguntitan, menyebar isu tidak benar, hingga ancaman pembunuhan.

Rocky Gerung yakin aksi teror tidak berasal dari lingkar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Jadi kalau dia (Tiyo) diancam, saya enggak percaya yang mengancam itu adalah presiden. Enggak mungkin Presiden Prabowo mengancam,” katanya, dikutip dari kanal YouTube Rocky GerungOfficial, Sabtu (21/2/2026).

Rocky Gerung yakin aksi teror tidak berasal dari lingkar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Berita Lainnya  Singgung Soal 'Ideologi Politik', Kepala BGN Malah Salahkan Guru, Orang Tua Siswa, Wartawan hingga LSM yang 'Ngeramein' Keracunan MBG

“Jadi kalau dia (Tiyo) diancam, saya enggak percaya yang mengancam itu adalah presiden. Enggak mungkin Presiden Prabowo mengancam,” katanya, dikutip dari kanal YouTube Rocky GerungOfficial, Sabtu (21/2/2026).

Ketua BEM UGM itu ingin menyampaikan pendapatnya dari kacamata seorang mahasiswa, serta tidak memiliki niatan melakukan makar.

Tiyo hanya memakai haknya dalam berdemokrasi, yakni menyampaikan pendapat.

“Sekali lagi itu adalah pendapat akademis dengan menguji data, dengan memperhatikan opini publik. Teman ini (Tiyo) proporsional untuk mengucapkan itu di dalam kapasitas dia sebagai manusia akademis.”

“Kita sebut pikiran mahasiswa itu enggak ada urusan dengan makar, enggak ada urusan dengan kebencian personal,” tegasnya.

Oleh karenanya, ia meminta pemerintah tidak perlu ‘kepanasan’ menghadapi kritik dari Ketua BEM UGM.

Isu ini menjadi polemik karena ada pihak lain yang membuat suasana semakin keruh.

“Jadi pemerintah enggak usah terlalu tegang menghadapi ini. Dan saya kira yang membuat dia (pemerintah) tegang itu justru karena ada pihak lain yang ingin ngomporin supaya si ketua BEM ini ditangkap, ngomporin supaya ketua BEM ini dianiaya sehingga terjadi krisis politik,” tegasnya.

Tiyo dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, menegaskan dirinya melayangkan kritik bukan karena benci dengan Pemerintahan Prabowo.

Berita Lainnya  Aksi Bejatnya Terekam CCTV, Polisi Tangkap Pelaku Pencabulan Bocah 8 Tahun di Bekasi

“Sebenarnya tidak ada yang membenci Bapak. Kita hanya membenci imajinasi terhadap Indonesia yang harus hancur karena apa yang Bapak lakukan atau mungkin juga Bapak tidak sadar sedang lakukan.”

“Bapak saya kira harus rendah hati untuk belajar. Bapak harus rendah hati untuk sadar. Kerendahan hati itu penting untuk supaya telinganya menjadi terbuka,” katanya.

Respons Istana

Istana Kepresidenan merespons kabar adanya tindakan teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto setelah melontarkan kritik keras terhadap kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.

“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran gitu lho,” ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).

Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat.

Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan.

Berita Lainnya  Sudah 10 Hari 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Belum Ditemukan, Operasi Pencarian Dihentikan

“Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua kan. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM,” lanjutnya.

Mengenai ancaman teror, intimidasi pesan singkat, hingga penguntitan yang dialami Ketua BEM UGM dan keluarganya, Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelakunya.

Namun, ia memastikan bahwa konstitusi tetap menjamin kebebasan berpendapat.

“Kalau teror kita enggak tahulah siapa yang meneror ya. Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan konstitusi kan menjamin kebebasan berpendapatnya ya. Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting,” ujarnya.

Prasetyo menekankan pemilihan kata yang tepat sangat penting agar masukan yang diberikan mahasiswa bisa menjadi bahan pembelajaran yang konstruktif bagi pemerintah.

Terkait desakan agar negara memberikan atensi khusus terhadap keselamatan para aktivis yang diteror, Mensesneg menjanjikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.

“Ya nanti kita kita cek lah,” ucapnya.

Sumber : TribunNews

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Tak Tercatat di SIMAK BMN, KPK Telusuri Sumber Dana 13 Rumah Dinas di Lapas Cibinong

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti keberadaan bangunan di sekitar area Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cibinong, Jawa Barat, yang tidak tercatat di dalam Sistem Informasi Manajemen...

Selama Ada Prabowo, Dedi Mulyadi Tidak Mungkin Maju di Pilpres 2029

Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mulai ikut diperbincangkan dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Namun, pengamat politik Adi Prayitno menilai wacana...

Ombudsman RI : Asal Bayar Rp250 Juta, Warga Binaan Bisa Gunakan HP di Rutan

Anggota Ombudsman RI, Syafrida Rachmawati mengungkapkan adanya dugaan pungutan liar (pungli) sebesar Rp250 juta bagi warga binaan yang ingin menggunakan handphone di Rutan Kelas...

Dewan Pakar KAHMI Desak Mendiktisaintek Copot Rektor UNSIKA

KARAWANG - Dewan Pakar Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Karawang, Lukman N. Iraz, mendesak Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi...

Oknum Polisi Bengkulu yang Julurkan Lidah ke Pendemo Dijatuhi Sanksi Disiplin

Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu resmi menjatuhkan sanksi disiplin kepada oknum polisi yang tertangkap kamera melakukan tindakan tidak pantas dengan menjulurkan lidah ke arah massa...

Hukum

Tak Tercatat di SIMAK BMN, KPK Telusuri Sumber Dana 13 Rumah Dinas di Lapas Cibinong

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti keberadaan bangunan di sekitar area Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cibinong, Jawa Barat, yang tidak tercatat di dalam Sistem Informasi Manajemen...

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan