KARAWANG – Warga di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengeluhkan serangan kutu beras yang diduga berasal dari gudang penyimpanan beras di sekitar permukiman.
Salah seorang warga, Ahmad Kamil, mengaku harus membersihkan rumahnya hingga tiga sampai lima kali dalam sehari lantaran banyak kutu beras yang masuk ke dalam rumah. Jumlah kutu itu meningkat terutama pada pagi dan malam hari.
“Bahkan pada Sabtu malam, istri saya kemasukan kutu beras hingga telinganya mengeluarkan darah. Ada juga anak tetangga yang mengalami hal serupa,” ujar Ahmad, dilansir dari Kompas.
Anah, warga lainnya, mengaku merasakan hal serupa. Ia menyebut anaknya mengalami mata bengkak yang diduga akibat banyaknya kutu beras di lingkungan rumah.
Menurutnya, laporan yang telah disampaikan kepada pihak terkait hingga kini belum mendapat penanganan.
“Kalau keluar rumah, kutunya sangat banyak. Anak saya juga matanya bengkak. Sudah kami laporkan, tetapi belum ada tanggapan. Harusnya segera dilakukan penyemprotan atau penanganan,” ujar Anah.
Kepala Bulog Karawang Rafki Ismael memastikan, pihaknya segera menindaklanjuti persoalan kutu beras itu bersama pengelola gudang. Bulog, kata dia, telah menerapkan Pengendalian Hama Gudang Terpadu (PHGT) sebagai standar dalam mengendalikan hama selama proses penyimpanan beras.
“Pada penyimpanan beras, hama memang memiliki siklus hidup. Karena itu kami terus melakukan upaya pengendalian melalui berbagai langkah, seperti fumigasi pada komoditas dan penyemprotan (spraying) di lingkungan gudang. Langkah tersebut bertujuan mengendalikan tingkat serangan hama di gudang penyimpanan beras Bulog,” ujarnya.
Rafki menyebut, Bulog bersama pihak pengelola gudang, BGR melakukan monitoring langsung ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Memang ada beberapa warga yang terdampak, dan hal itu sudah kami tindak lanjuti. Mudah-mudahan permasalahan ini bisa segera teratasi. Bulog bersama BGR akan bertanggung jawab agar kenyamanan masyarakat di sekitar gudang tetap terjaga,” katanya.
Meski begitu, Rafki memastikan keberadaan kutu beras tidak memengaruhi mutu beras yang akan disalurkan kepada masyarakat.
Sebab, kutu beras yang ada merupakan hama sekunder sehingga tidak menyerang komoditas secara langsung.
“Sebelum beras disalurkan, kami juga rutin melakukan proses pengolahan dan pemeriksaan kualitas. Karena itu, kami memastikan beras yang diterima masyarakat tetap dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” ujar Rafki.***
Sumber : Kompas.com










