JOGJA – Ratusan siswa SMPN 3 Wates mengalami gejala keracunan, kejadian serupa juga pernah terjadi tahun lalu. Dua peristiwa keracunan kurang dari setahun itu membuat orang tua atau wali siswa kapok. Bahkan beberapa wali murid menolak menu makan bergizi gratis (MBG) yang diduga menjadi biang kerok keracunan.
Orang tua asal Karangwuni Wirawati menjelaskan, anaknya telah menjadi korban keracunan sebanyak dua kali, tahun 2025 dan 2026. Setelah kejadian keracunan kali pertama, sebagai orang tua dirinya cukup khawatir.
Lantaran, anaknya baru kali pertama merasakan kejadian seperti itu. “Yang hari ini sampai dibawa ke Puskesmas Wates, saya pun diberitahu teman,” ucap Wati, Selasa (21/7/2026).
Wati menyampaikan, keracunan kali kedua membuat anaknya dirujuk ke Puskesmas Wates. Kabar anaknya dirujuk ke fasilitas kesehatan berasal dari wali murid lain. Walau telah dipulangkan, ia khawatir. Lantaran, sakit anaknya telah dirasakan sejak Senin (20/7/2026).
Saat pulang ke rumah, anaknya mengaku mengalami sakit di bagian perut pada pukul 14.30, Senin (20/7). Sakit di bagian perut terus dirasakan hingga malam hari. Rasa mual turut dirasakan putranya hingga keesokan harinya.
Orang tua sempat memberikan obat untuk meredakan sakit tersebut. Namun, nyeri dalam perut itu terus terjadi hingga anaknya di bawa ke Puskesmas Wates. “Tidak ada kecurigaan keracunan, walau dulu sempat keracunan,” ungkapnya.
Dua kali anaknya menjadi korban keracunan, Wati memilih tak berkomentar banyak perihal MBG. Perempuan paro baya itu justru meminta program MBG dihentikan. Lantaran lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Tapi apalah daya, program MBG merupakan prioritas nasional yang tak mudah dihentikan.
Hal serupa juga diungkapkan Ika Aprianingsih, warga Kalurahan Karangwuni. Ika mengaku anaknya telah menjadi korban keracunan dua kali. Belajar dari pengalaman keracunan pertama, anaknya selalu diminta berhati-hati dalam konsumsi MBG. “Saya hanya minta ke anak agar hati-hati,” ungkapnya.
Namun upaya hati-hati itu tak membuahkan hasil. Lantaran, saat malam hari anaknya mengeluhkan sakit perut luar biasa, Senin (20/7). Bahkan di tengah malam, anaknya bolak-balik ke kamar mandi karena diare. Keesokan harinya, Ika justru menerima kabar anaknya mengalami keracunan.
Ika tak mau menuduh MBG sebagai penyebab keracunan. Namun jika diminta memilih, keluarganya tak memerlukan MBG. Bahkan jika itu diwujudkan dalam uang. Pasalnya, sebelum MBG perempuan itu rutin memasak untuk kebutuhan sarapan dan bekal sekolah.
Bagaimana dengan para siswa? Sejumlah siswa mengalami trauma dan kapok untuk mengonsumsi MBG. Salah satunya, Amalia, siswa kelas 9 yang mengaku telah menjadi korban keracunan dua kali. Kejadian pertama sekitar Juli 2025 dan yang terakhir Juli 2026 ini.
Semua keracunan itu disebabkan konsumsi MBG yang setiap harinya didapat di sekolah. “Ini sudah dua kali, rasanya sakit perut dan diare bolak-balik ke kamar mandi,” ucap Amalia, Selasa (21/7).
Ia menceritakan, gejala keracunan telah terasa sepulang sekolah pada Senin (20/7) lalu. Selama di sekolah, remaja perempuan itu hanya mengonsumsi MBG, dengan menu nasi, daging ayam, sayur, dan anggur. Sesampai di rumah, ia mulai merasakan sakit perut hebat. Malam harinya, sakit mulai berubah menjadi diare hingga sering menuju kamar mandi.
Keesokan paginya, sakit yang dialami Amalia tak kunjung sembuh. Sempat terpikir untuk tak bersekolah. Namun karena hendak mencari ilmu, ia tetap memaksa untuk bersekolah. Di sekolah sakitnya membuat tak fokus dalam kegiatan belajar mengajar. Lantaran, harus berulang kali ke kamar mandi. Hal serupa juga dialami temannya, bahkan kamar mandi umum sempat antre. “Kemarin ada daging ayam yang kurang matang,” ungkapnya.
Amalia mengaku sempat curiga dengan menu MBG. Selain makanan yang telah dingin, rasa menu MBG tak sesuai lidahnya. Khususnya pada lauk daging ayam BBQ, yang dianggap tak matang. Alhasil, ia tak menghabiskan semua menu MBG.
Dua kali kejadian keracunan menimpanya, membuat ia kapok. Pasalnya, rasa sakit saat keracunan benar-benar terasa. Jika diminta memilih, Amalia lebih memilih MBG diuangkan. Uang yang nominalnya tak lebih dari Rp 10 ribu, dapat digunakan oleh orangtuanya untuk memasak bekal.***
Sumber : Radar Jogja
Ket. Foto : Siswa SMPN 3 Wates DIY merintih kesakitan saat di IGD Puskesmas Wates diduga akibat keracunan menu MBG. (ISTIMEWA)










