SUBANG – Pencemaran limbah yang diduga berasal dari aktivitas industri di hulu Sungai Cipunagara menimbulkan keresahan warga di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Air sungai yang berubah warna dan dipenuhi busa putih mengalir hingga ke kolam-kolam budidaya ikan milik warga.
Akibat kondisi tersebut, para petani ikan tidak lagi berani menebar benih karena khawatir ikan akan mati secara massal. Air sungai yang selama ini menjadi sumber utama untuk kolam budidaya kini dianggap tidak layak digunakan.
Pantauan di lokasi menunjukkan air Sungai Cipunagara dipenuhi busa putih menyerupai sabun yang mengapung di permukaan. Limbah tersebut diduga berasal dari kawasan hulu sungai lalu mengalir ke saluran air yang terhubung langsung dengan kolam-kolam milik warga.
Dampak pencemaran ini dirasakan para petani ikan di Kampung Nyalindung, Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak. Dalam 2 tahun terakhir, puluhan petani terpaksa menghentikan kegiatan budidaya karena tidak lagi memiliki sumber air bersih.
Kolam-kolam ikan yang sebelumnya produktif kini terbengkalai. Warga menilai kualitas air yang tercemar sangat berisiko dan dapat menyebabkan kematian ikan dalam jumlah besar.
Salah seorang warga, Aep Saepuloh, mengaku mengalami kerugian besar akibat kondisi tersebut. “Airnya sudah tidak bisa dipakai sama sekali. Kalau dipaksakan, ikan pasti mati. Kami sudah lebih dari dua tahun tidak bisa budidaya. Modal habis, penghasilan juga tidak ada,” ujar Aep kepada Beritasatu.com, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan sebelumnya para petani ikan di wilayah tersebut memanfaatkan air dari saluran Sungai Cipunagara untuk mengisi kolam. Namun setelah tercemar limbah, mereka mencoba beralih menggunakan sumber air lain.
“Kami sempat menggunakan air dari sungai lain, tetapi hasilnya tidak sebagus saat memakai air Cipunagara. Akhirnya banyak petani ikan yang bangkrut,” katanya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Nana. Ia menduga pencemaran berasal dari limbah perusahaan yang berada di wilayah hulu sungai.
“Kami menduga limbah ini dari pabrik-pabrik di atas. Air sering berbusa dan berbau. Banyak warga akhirnya menganggur, ada yang beralih jadi petani atau kuli serabutan. Saya masih bisa bertahan karena menggunakan cadangan air hujan,” ujarnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Subang bersama aparat penegak hukum segera melakukan penelusuran serta menindak tegas pihak yang bertanggung jawab atas pencemaran tersebut.
Menurut mereka, pencemaran Sungai Cipunagara tidak hanya merusak ekosistem perairan, tetapi juga mengancam mata pencaharian warga yang selama ini menggantungkan hidup dari usaha budidaya ikan.***
Sumber : beritasatu.com









