Selasa, Agustus 11, 2026
spot_img

Mencintai Dedi Mulyadi Tanpa “Menabikannya”

Sepertinya takkan ada debat, jika buka Google Trend dengan topik pejabat paling populer saat ini, sudah pasti yang bertengger adalah nama Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat.

Bahkan bisa jadi popularitasnya melesat tinggi melewati elite nasional sekelas Presiden Prabowo atau mantan presiden Jokowi yang masih sering diseret namanya dalam perbincangan politik negeri ini.

KDM adalah sosok pejabat yang berhasil mengorkestrasi Budaya sebagai akar jati diri manusia dengan kemajuan tekhnologi untuk mengeksplorasi mimpi, pemikiran dan aksinya, atau tak sekedar Itu tapi mengiklankan secara massif hingga menancap kuat dalam memori penonton.

Dilengkapi kemampuan verbal dalam mengemas setiap buah pikirannya dengan diksi dan reka bahasa renyah nan runut, sehingga mudah dicerna oleh masyarakat lintas kelas sosial. Bisa disebut cikal bakal Soekarno. Sang orator dan agitator Handal.

Dedi Mulyadi adalah Gubernur pada satu sisi, dan konten kreator pada sisi lainnya. Dua peran yang dijalankan dalam waktu bersamaan. Hingga detik ini, bisa dikategorikan kedua peran tersebut, sama-sama menuai hasil menggembirakan.

Pada kapasitasnya sebagai Gubernur, yang berarti pemimpin bagi warga Jawa Barat, KDM sudah memperlihatkan sebagai figur yang kuat memegang prinsip, juga keteguhan dalam menjalankan visi dan merealisasikan mimpi besarnya. Layak jadi tuntunan bagi pemirsa.

Berita Lainnya  Meluruskan Narasi Sejarah, Karawang Adalah Pusat Peradaban Bukan Sekadar Rintasan Kerajaan Mataram

Saat beraksi di chanel Youtube, KDM mampu menyajikan kemasan kontent menarik banyak viewer dan follower, seperti layaknya acara televisi yang berorientasi profitable. Disini terkandung tuntunan, dan terkadang malah sekedar tontonan.

Beragam kebijakan pro rakyat yang dilontarkan KDM pun terbilang anti mainstream. Contoh pertama dalam kasus yang menyasar dunia pendidikan, tentang ijazah gratis dan larangan Study tour.

Statement spontan KDM langsung disambut publik dengan reaktif. Akhirnya tidak hanya kritik yang terlontar, caci maki terhadap pihak sekolah pun berhamburan tak terhindarkan, seakan tak ada sisi baik dari institusi pendidikan.

Padahal study tour sudah berlangsung sangat lama dan pada dasarnya bermanfaat bagi anak didik dalam menambah wawasan sambil memuhi kebutuhan refreshing.

Programnya tidak mubadzir, yang keliru adalah penyimpangan pada tataran pelaksanaan, dengan menjadikan study tour ataupun wisuda/ kelulusan sebagai ajang adu gengsi berbiaya besar, diluar kemampuan ortu siswa dalam situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Berita Lainnya  Epistemologi KAHMI Jabar, Membangun Nalar Profetik untuk Jabar Istimewa

Pun pada program penyaluran anak nakal di Barak Militer, masih terkesan sebagai ide baik yang gurung gusuh tanpa pelibatan stakeholder lain seperti Sekolah, Dinas Pendidikan, bahkan DPRD yang terlibat dalam pembahasan anggaran.

Lalu jika ada pihak yang tidak sepemikiran dengan KDM ataupun mengkrtitisi, meskipun pihak tersebut bicara dengan basis teori ilmiah akademik, para pemuja KDM meresponnya dengan persekusi dan stereotif. Seakan mengulang fenomena Buzzer di Pilpres lampau yang dibumbui proxy war cebong lawan kampret.

Belum lagi jika kita memperhatikan issue Vasektomi bagi kepala rumah tangga miskin dan adu omong KDM versus pemudi bernama Aura, yang mengusung tema awal soal penggusuran bangunan liar di pinggir kali, lalu digeser ke tema lain terkait larangan wisuda.

Jelas, gadis tersebut salah karena bersama keluarganya mendiami tanah negara dan tak memiliki rasa empati sosial terkait biaya wisuda yang jutaan.

Namun langkah KDM sebagai BAPAK AING tidaklah bijak menghiperbola kesalahan ANAK AING untuk jadi bahan persekusi dan sumpah serampah dari netizen yang berwatak barbar, tanpa iba belas kasihan.

Kesimpulannya, Dedi Mulyadi layaknya seorang Lionel Messi dalam kancah sepakbola. Mahir dan memiliki skill individu diatas rata-rata. Semua mengakuinya.

Berita Lainnya  Jangan Sampai KAHMI Jawa Barat Menjadi Nokia

Tapi sepakbola tidaklah cukup bermodal kemampuan perseorangan, butuh pula kolektivitas (mengendalikan ego pribadi), ketelatenan tangan dingin pelatih, dan tak boleh lupa, ada aturan main yang sudah disepakati untuk dipatuhi.

Seperti halnya penggunaan anggaran pemerintah yang wajib melalui proses pembahasan bersama DPRD atau Bupati/walikota yang memiliki tugas kewenangan lebih otonom dibandingkan dengan Gubernur.

Bisa jadi penonton akan berdecak kagum, memuji setinggi langit, dan teriak histeris saat KDM meliuk-liuk melewati banyak pemain lawan, lalu mencetak gol.

Namun, yakinkah atmosfer bobotoh akan tetap tinggi jika di akhir pertandingan gol yang diciptakan lawan malah lebih banyak dibanding torehan gol KDM? .

Mari mencintai BAPAK AING dengan tidak menabikannya. Sebab sikap anti kritik, merasa hebat sendirian dan menghardik kasar (kekerasan verbal) kepada pihak yang berbeda pemikiran adalah jalan ninja menuju terciptanya Penguasa diktator otoriter.

DADAN SUHENDARSYAH
Pemilih KDM Rasional

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

3 Kali Mangkir Panggilan, Kejari Bekasi Tahan Mantan Dirus Perumda Tirta Bhagasasi

BEKASI - Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menahan mantan Direktur Usaha Perumda Tirta Bhagasasi berinisial AEZ (35) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemasangan...

2 Tahun Misteri Hilangnya Paramitha Titania Akhirnya Terungkap, Tulang Belulang Korban Ditemukan di Jurang

MOROWALI - Tulang belulang Paramitha Titania Anggelica (28), yang hilang sejak Juli 2024, ditemukan di dalam jurang Desa Kalono, Kecamatan Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi...

Sama dengan Judi, MUI Tegaskan Hadiah Agustusan yang Dipungut dari Peserta Hukumnya Haram

JAKARTA - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia setiap 17 Agustus, masyarakat biasanya menyambutnya dengan penuh antusias melalui beragam kegiatan. Salah satu yang...

5 Orang Sudah Diperiksa, Kapolda Sulut : “Pengemudi Berpotensi Jadi Tersangka”

SULAWESI - Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Roycke Harry Langie menyebut pengemudi mobil dalam tragedi drag race Kotamobagu berpotensi menjadi...

Prabowo Mau Rombak Buku Pelajaran Siswa SD hingga SMA?

JAKARTA - Pemerintah berencana merombak buku pelajaran siswa SD hingga SMA. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap kualitas buku...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan