KOTA BEKASI – Sapta Prihantono, pelajar kelas X jurusan teknik mesin SMK Negeri 15 Kota Bekasi, meninggal setelah mengalami luka bakar serius dalam kebakaran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) milik PT Indogas Andalan Kita di Mustikajaya, Kota Bekasi.
Korban mengembuskan napas terakhir pada Selasa (7/4/2026) usai menjalani perawatan dengan luka bakar mencapai 63 persen.
“Iya, korban atas nama Sapta meninggal. Sedangkan ayah dan saudara almarhum masih dirawat di rumah sakit,” ujar Camat Mustikajaya, Maka Nachrowi, saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan, Rabu (8/4/2026).
Kebakaran terjadi pada Rabu (1/4/2026) malam di Jalan Cinyosog, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Saat kejadian, Sapta berada di rumah kontrakan bersama ayah dan ketiga kakaknya yang lokasinya berdekatan dengan area SPBE.
Sebelum meninggal, Sapta sempat dirawat di RS Citra Arafiq Bantargebang sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.
Maka menyebutkan, total lima anggota keluarga Sapta menjadi korban dalam insiden tersebut. Kini, empat anggota keluarga lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Untuk Sapta, satu keluarga yang dirawat lima orang. Karena Sapta meninggal, sisa empat orang. Dua orang dirawat di RSUD Cibitung dan dua lainnya di RS Citra Arafiq,” kata Maka.
Selain Sapta, dua korban lain juga meninggal dunia akibat luka bakar parah, yakni Suyadi dan Djaimun yang merupakan petugas keamanan PT Indogas Andalan Kita.
“Betul. Korban yang meninggal dunia atas nama Suyadi dengan luka bakar 92 persen dan Djaimun dengan luka bakar 97 persen,” kata Maka.
Suyadi meninggal pada Minggu (5/4/2026), sementara Djaimun meninggal pada Senin (6/4/2026).
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengatakan, Pemerintah Kota Bekasi akan memanggil pengelola SPBE untuk meminta pertanggungjawaban terhadap para korban dan bangunan terdampak.
“Besok saya akan komunikasi dengan pemilik SPBE. Kami undang mereka,” ujar Harris.
Ia menilai operasional SPBE harus memenuhi standar, termasuk terkait kerja sama dan pengawasan dari Pertamina.
“Kami akan bahas standar yang harus dipenuhi. Ada beberapa syarat yang akan kami bicarakan dengan Pertamina,” katanya.
Terkait tuntutan warga agar SPBE ditutup, Harris menyatakan hal tersebut masih dalam tahap kajian. Pemerintah Kota Bekasi juga akan mengevaluasi seluruh SPBE yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Ini sedang kami kaji. Kami juga sedang mengkaji semua SPBE di Kota Bekasi, total ada empat. Minimal aspek K3 harus diperhatikan karena kami tidak ingin kejadian serupa terulang,” ujarnya.
Selain menimbulkan korban jiwa, kebakaran juga berdampak pada puluhan warga di sekitar lokasi. Setelah dilakukan verifikasi ulang, jumlah kepala keluarga terdampak tercatat sebanyak 39 KK.
“Awalnya ada 47 KK, tetapi setelah diverifikasi menjadi 39 KK. Terdiri dari 35 KK warga Kota Bekasi dan 4 KK warga luar Kota Bekasi,” kata Maka.***
Sumber : Kompas.com










