KARAWANG – Kebijakan Bupati Karawang H. Aep Syaepulloh, SE yang menggratiskan LKS (Lembar Kerja Siswa) bagi pelajar tentu patut diapresiasi. Ini merupakan langkah nyata untuk meringankan beban orang tua sekaligus memberikan akses bahan belajar yang lebih merata bagi seluruh siswa.
Namun menurut saya, kebijakan ini sebaiknya menjadi awal dari inovasi pendidikan yang lebih besar. Dinas Pendidikan Karawang ke depan perlu mulai mendorong transformasi dari sekadar penyediaan LKS fisik menuju digitalisasi pendidikan yang terintegrasi.
Bayangkan jika setiap siswa dan guru memiliki akses mudah terhadap materi pembelajaran melalui satu platform digital: buku dan modul pembelajaran, video edukasi, latihan soal, bank soal, materi tambahan, hingga sistem evaluasi yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan LKS gratis, tetapi juga memperoleh akses pengetahuan yang jauh lebih luas. Guru pun dapat lebih mudah mendapatkan materi, referensi pembelajaran, serta berbagai media untuk membuat proses belajar mengajar semakin menarik.
Karawang sebagai salah satu daerah industri terbesar di Indonesia tentu membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga melek teknologi, adaptif, kreatif, dan siap menghadapi dunia kerja masa depan.
Jadi, apresiasi untuk kebijakan LKS gratis. Tetapi mari kita dorong langkah berikutnya, dari LKS gratis menuju pendidikan digital yang gratis, mudah diakses, berkualitas, dan merata.
Disdik Karawang jangan memulai digitalisasi pendidikan dari membeli perangkat, tetapi dari membangun ekosistem pendidikan digital.
Ini penting karena Karawang sebenarnya sudah punya pijakan: pada 2026, platform PIJAR Telkom sudah digunakan bersama Disdik Karawang untuk try out TKA yang menjangkau lebih dari 76.000 siswa dari 1.200 sekolah. Artinya, sebagian infrastruktur dan pengalaman digital sudah ada
Bupati dapat memulai dengan 4 langkah, yaitu membentuk ‘Karawang Digital Education Task Force’, buat satu pintu ‘Karawang Learning’, jangan membuat semuanya sendiri, hingga terakhir memulainya dengan ‘pilot project’ dengan 20-30 sekolah.
Semoga Dinas Pendidikan Karawang dapat terus berinovasi dan menjadi salah satu contoh daerah yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Karena pendidikan masa depan bukan hanya tentang memiliki buku, tetapi tentang memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan tanpa batas.***
Penulis ;
Ahmad Jubaidin
Pimpinan Majelis Ekonomi Muhammadiyah Karawang










