Senin, Agustus 10, 2026
spot_img

Asal-usul Fenomena Penyapu Koin yang Sempat Bikin Dedi Mulyadi Naik Pitam

SUBANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi marah bukan main, saat melihat puluhan warga penyapu koin beraksi di sepanjang jalur Indramayu-Subang, Jawa Barat jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026).

Kang Dedi Mulyadi alias KDM naik pitam dan langsung membubarkan warga penyapu koin yang tengah meminta-meninta di pinggir jalan.

KDM tampak emosi hingga harus turun dari mobil dinasnya dan meminta warga kumpul di kantor desa setempat.

Menurutnya, selain berpotensi mengganggu lalu lintas selama arus mudik dan arus balik nanti, aktivitas warga menyapu koin di pinggir jalan juga sangat membahayakan, terlebih banyak anak-anak dan lansia yang menjadi penyapu koin.

Menjelang Lebaran 2026, fenomena penyapu koin di Subang dan Indramayu kembali menjadi sorotan publik.

Para penyapu koin ini muncul di dua kawasan di kalur Pantura (Pantai Utara) Jawa Barat.

Di antaranya di kawasan Sewoharjo, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang dan Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Kemunculan penyapu koin ini kerap menjadi sorotan karena dinilai mengganggu keamanan dan kelancaran mudik Lebaran hingga berpotensi munculnya kecelakaan.

Mereka berdiri di bahu jalan menyapu uang recehan yang dilempar pengendara yang melintasi jalan.

Karena hal itu, aksi mereka menyerbu dan berebutan mendapat uang recehan itu berpotensi memicu kecelakaan dan membuat arus lalu lintas tersendat mengalami kemacetan.

Dedi Mulyadi meminta bantuan Kades hingga Camat mengumpulkan masyarakat yang jadi penyapu koin itu untuk diberi edukasi sekaligus uang kompensasi.

Tahun ini merupakan kedua kalinya Dedi Mulyadi menegur masyarakat menjadi penyapu koin tersebut.

Bahkan Dedi Mulyadi telah memberikan uang kompensasi senilai Rp600.000 kepada setiap penyapu koin, baik yang di Subang dan Indramayu sebagai pengganti hilangnya penghasilan untuk 12 hari.

Berita Lainnya  MUI Haramkan Pria Memakai Pakaian Wanita Saat Karnaval Agustusan

Namun, sehari setelah pemberian uang kompensasi tersebut ternyata aktivitas penyapu koin itu tak berhenti.

Para penyapu koin di kawasan Sewoharjo, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, masih terus berlangsung menjelang H-2 Lebaran 2026, Kamis (19/3/2026) siang.

Padahal sebelumnya, kegiatan tersebut telah ditertibkan aparat kepolisian dan dijanjikan kompensasi oleh Dedi Mulyadi.

Asal-usul Penyapu Koin

Diketahui asal-usul fenomena penyapu koin ini dari tradisi sosial-budaya yang terjadi di Jembatan Sewu, yang membelah sungai di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang (jalur Pantura).

Dikutip dari hasil penelitian Skripsi karya Revi Cuhyanti dan Fina Itriyati di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2020, disebut bahwa tradisi tersebut berakar dari legenda lokal tentang Saedah dan Saeni.

Konon, mereka adalah kakak beradik yang berubah menjadi buaya putih setelah menceburkan diri ke sungai tersebut.

Keberadaan legenda Saedah Saeni di Jembatan Sewo itu melahirkan kesan mistis beserta mitos yang berkembang di jembatan ini.

Masyarakat setempat percaya bahwa melemparkan koin ke sungai atau ke jalan di sekitar jembatan adalah bentuk “sedekah” untuk menghormati penunggu sungai agar diberikan keselamatan selama perjalanan melintasi jalur Pantura yang dikenal rawan kecelakaan.

Masyarakat pendukung percaya dengan melakukan tawur duit di Jembatan Sewo sebagai bentuk untuk menghindarkan diri dari hal buruk di jembatan tersebut.

Di sisi lain, tradisi dan kepercayaan itu justru melahirkan motif dan tindakan sosial baru, dari tradisi menjadi peluang ekonomi.

Cara Kerja Penyapu Koin

Masyarakat yang menjadi penyapu koin berasal dari berbagai generasi mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia.

Berita Lainnya  Sengketa Catut Nama Apoteker Melasuka Karawang Berujung Laporan Pidana

Namun, para penyapu koin tersebut berasal dari kalangan masyarakat miskin.

Mereka berdiri di pinggir jalan raya dengan membawa sapu lidi yang tangkainya dibuat cukup panjang.

Ketika pengendara (mobil atau motor) melemparkan koin atau uang kertas, mereka akan dengan sigap menyapu uang tersebut ke pinggir jalan.

Sapu digunakan agar mereka tidak perlu membungkuk terlalu lama di tengah jalan raya yang padat, sehingga lebih cepat mengamankan uang tersebut.

Fenomena Musiman (Mudik Lebaran)

Meskipun penyapu koin ada setiap hari, jumlah mereka melonjak drastis saat musim mudik dan balik Lebaran.

Ratusan warga bisa berjejer di sepanjang jalan dekat Jembatan Sewu.

Bagi pemudik, melempar koin dianggap sebagai ritual “buang sial” atau sekadar hiburan saat terjebak macet.

Namun, bagi warga lokal, momen ini menjadi kesempatan mencari penghasilan tambahan yang cukup menggiurkan.

Risiko Keamanan dan Keselamatan

Fenomena keberadaan penyapu koin ini sering kali menjadi perhatian pihak kepolisian dan pemerintah daerah seperti yang disorot Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, karena beberapa alasan, di antaranya:

* Bahaya Kecelakaan: Para penyapu koin sering kali terlalu berani merangsek ke tengah jalan saat lalu lintas sedang kencang, yang berisiko tertabrak kendaraan.

* Kemacetan: Aktivitas ini sering kali memperlambat laju kendaraan, terutama jika ada pengendara yang sengaja berhenti untuk memberi uang.

* Gangguan Ketertiban: Sering terjadi aksi “rebutan” koin antar warga yang bisa memicu keributan kecil di pinggir jalan.

Berita Lainnya  Beri Dampak Positif ke Masyarakat, BPD Walahar Apresiasi KKN Mahasiswa UBP

Fenomena penyapu koin ini dapat dilihat dari sosiologi dan ekonomi.

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan sosial, dan interaksi manusia dalam masyarakat.

Sosiologi ini juga meneliti pada perilaku sosial individu maupun kelompok, norma, dan dinamika dalam masyarakat.

Menurut hasil penelitian Skripsi karya Revi Cuhyanti dan Fina Itriyati di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2020, terkait fenomena penyapu koin itu menunjukkan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk realisasi dari tradisi nenek moyang di lokasi tersebut.

Namun, tradisi tersebut menimbulkan faktor lain khususnya ekonomi karena adanya peluang mendapatkan uang atau penghasilan.

Meskipun berbahaya, banyak masyarakat tetap melakukannya karena kesulitan mencari mata pencaharian lain.

Disebutkan bahwa mayoritas penyapu duit yang melakukan aktivitas penyapu koin di Jembatan Sewo merupakan warga miskin yang memiliki keterbatasan akses pendidikan, keterampilan dan lapangan pekerjaan.

Tradisi ini tetap bertahan hingga hari ini tidak terlepas dari faktor keinginan berkaitan dengan motivasi yang dimiliki masyarakat yang tidak terlepas dari kepercayaan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat pendukung, sehingga melahirkan peluang ekonomi yang dimanfaatkan oleh penyapu duit di jembatan untuk mendapatkan penghasilan.

Menurut penelitian tersebut adanya pertukaran sosial, tindakan sosial, motif yang melatarbelakangi masyarakat menjadi penyapu koin tersebut.

Karena hal itu, tradisi penyapu koin tersebut dinilai menjadi identitas unik bagi kawasan Jembatan Sewu yang selalu diingat oleh para pelintas jalur Pantura.***

Sumber : TribunNews

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

‘Drag Race Maut’, 6 Penonton Meninggal, 11 Lainnya Luka-luka

SULAWESI - Sebanyak enam orang meninggal dunia dan 11 korban lainnya mengalami luka berat dan luka ringan, dalam insiden 'Drag Race Maut' pada ajang...

Gegara Program LKS Gratis, Bupati Aep ‘Dimusuhin’ Anak Buahnya Sendiri

KARAWANG - Lantaran program buku LKS gratis bagi siswa SD dan SMP, Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh mengaku sampai dimusuhin beberapa orang, khususnya beberapa...

Singgung Pembagian ‘Fee’ Saat Live di Medsos, Dedi Mulyadi Minta ASN di Bandung Barat Diberi Sanksi Tegas

BANDUNG - Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus PPPK di Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berinisial IYV memicu kontroversi setelah melakukan siaran langsung (live) di...

MUI Haramkan Pria Memakai Pakaian Wanita Saat Karnaval Agustusan

JAKARTA - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa pria yang mengenakan pakaian wanita, termasuk saat mengikuti karnaval perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,...

Diduga Korban Perampokan, Ibu dan Anak Tewas Tragis dalam Kondisi Terikat

LANDAK - Warga digegerkan oleh penemuan jasad seorang ibu dan anak balitanya di kawasan hutan Dusun Mamo, Desa Kedama, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak,...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan