Senin, Agustus 10, 2026
spot_img

Aksi Berani Seorang Pemuda Protes Sendiri di Mapolres Karawang

KARAWANG – Aksi berani dilakukan seorang pemuda bernama Tri Prasetio Putra Mumpuni. Seorang diri, ia melakukan aksi diam di depan gerbang Mapolres Karawang untuk memprotes dan mempertanyakan penanganan kasus dugaan pencabulan seorang bocah berusia 8 tahun, warga Desa Muktijaya Kecamatan Cilamaya Kulon.

Aksi yang dilakukan Kamis (12/3/2026) ini terpaksa dilakukan Tri. Karena ia menduga penanganan perkara dugaan pencabulan oleh penyidik Polres Karawang tersebut diduga mandek. Pasalnya, laporan polisi sudah dilakukan pada 11 September 2025, tetapi hingga saat ini kasusnya dinilai belum memiliki kepastian hukum.

“Aksi ini adalah bentuk protes moral saya terhadap lambannya penanganan laporan masyarakat di Polres Karawang. Banyak orang kecil datang mencari keadilan, tetapi prosesnya sangat lama dan penuh ketidakpastian,” tutur Tri, kepada wartawan.

Kronologis Perkara

Berdasarkan data yang dihimpun Redaksi Opiniplus.com, perkara dugaan pencabulan ini sempat dilaporkan keluarga korban berinisial CH, atas terlapor berinisial WG (50 tahun), seorang buruh harian lepas.

Berita Lainnya  Sempat Sembunyi di Kasir Minimarket, Maling Motor di Morowali Tewas Setelah Dihakimi Massa

Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor : STTLP/B/1055/SPKT/POLRES KARAWANG/POLDA JAWA BARAT, pelapor menceritakan bahwa kejadian dugaan pencabulan terjadi pada 9 Agustus 2025, sekitar pukul 10.00 WIB.

Kasus ini diketahui ketika korban bercerita kepada keluarganya, yaitu dimana korban mengaku dipaksa untuk berhubungan badan sebanyak 2 kali di rumah terduga pelaku WG.

Setelahnya, korban diberikan uang Rp 50 ribu rupiah oleh terduga pelaku, agar korban tutup mulut.

Kasus ini pun sempat mendapatkan pengawalan advokasi hukum dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dalam laporannya, pelapor menceritakan bahwa terduga pelaku telah melakukan aksi pencabulan dengan cara menjilat kemaluan korban. Pelaku menidurkan korban di sofa rumahnya, kemudian memasukan alat kelaminnya ke kemaluan korban.

Berita Lainnya  Polda Jabar Persilahkan Warga Tindak Begal, Asal Jangan Sampai Mati

Sehingga atas perkara inilah, Tri Prasetio Putra Mumpuni yang dikabarkan masih merupakan bagian dari keluarga korban melakukan aksi protes di gerbang Mapolres Karawang.

“Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah, kenapa masyarakat kecil yang tidak punya uang harus membayar mahal untuk mendapatkan keadilan?. Bahkan ada anggapan di masyarakat bahwa penyidikan baru berjalan jika ada uang lebih dulu. Sementara mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan sering kali mendapat respons yang lebih cepat,” kata Tri.

Tri menilai kondisi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum, apabila tidak segera dibenahi secara serius.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan bukan ditujukan untuk menyerang institusi kepolisian secara pribadi. Melainkan sebagai kritik konstruktif agar pelayanan hukum kepada masyarakat dapat berjalan lebih transparan, profesional, dan adil.

Berita Lainnya  Satu Keluarga di Lampung Utara Jadi Begal dengan Modus Kencan Michat

“Aksi ini bukan kebencian terhadap institusi. Ini bentuk kepedulian agar hukum benar-benar hadir untuk semua orang tanpa membedakan siapa yang punya uang, siapa yang punya jabatan, dan siapa rakyat biasa,” tegasnya.

Ia berharap kritik yang disampaikan melalui aksi tersebut dapat menjadi perhatian bagi pihak kepolisian, khususnya di Polres Karawang, agar meningkatkan respons dan keseriusan dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.

Sementara, hingga berita ini masuk meja redaksi, belum ada jawaban resmi dari Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, terkait aksi protes yang dilakukan pemuda asal Cilamaya Kulon ini.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

‘Drag Race Maut’, 6 Penonton Meninggal, 11 Lainnya Luka-luka

SULAWESI - Sebanyak enam orang meninggal dunia dan 11 korban lainnya mengalami luka berat dan luka ringan, dalam insiden 'Drag Race Maut' pada ajang...

Gegara Program LKS Gratis, Bupati Aep ‘Dimusuhin’ Anak Buahnya Sendiri

KARAWANG - Lantaran program buku LKS gratis bagi siswa SD dan SMP, Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh mengaku sampai dimusuhin beberapa orang, khususnya beberapa...

Singgung Pembagian ‘Fee’ Saat Live di Medsos, Dedi Mulyadi Minta ASN di Bandung Barat Diberi Sanksi Tegas

BANDUNG - Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus PPPK di Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berinisial IYV memicu kontroversi setelah melakukan siaran langsung (live) di...

MUI Haramkan Pria Memakai Pakaian Wanita Saat Karnaval Agustusan

JAKARTA - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa pria yang mengenakan pakaian wanita, termasuk saat mengikuti karnaval perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,...

Diduga Korban Perampokan, Ibu dan Anak Tewas Tragis dalam Kondisi Terikat

LANDAK - Warga digegerkan oleh penemuan jasad seorang ibu dan anak balitanya di kawasan hutan Dusun Mamo, Desa Kedama, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak,...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan