MEDAN – W (30) ditemukan tewas dalam kamar mandi rumah mantan suaminya, Brigadir I, di Kota Medan pada Minggu (2/8/2026).
Kapolrestabes Medan Kombes Calvijn Simanjuntak menduga W meninggal karena mengakhiri hidup dengan luka tembak di bagian kepala.
Calvijn menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, di hari kejadian, korban, bersama anaknya inisial M (9), serta Brigadir I sedang berada dalam satu kamar.
Brigadir I pun sempat keluar kamar sejenak lalu masuk lagi. Ia sempat menanyakan keberadaan korban kepada M.
“Setelah itu, saksi I melihat tasnya sudah terbuka. Di dalamnya ada senjata api,” ucap Calvijn saat diwawancarai di Polrestabes Medan pada Selasa (4/8/2026).
Brigadir I mendapati senpinya sudah tak ada di dalam tas. Belakangan didapati, korban ternyata sedang berada di kamar mandi di dalam kamar tersebut.
“Terjadi lah komunikasi yang sifatnya pencegahan dengan mengatakan jangan melakukan hal hal yang tak layak. Karena saksi I tahu persis kondisi korban,” ungkapnya.
Anak korban inisal M pun berkali-kali mengetuk pintu kamar mandir namun tak direspon.
“Terakhir ada ucapan dari korban, maafkan saya. Setelah ucapan itu, dari dalam kamar mandi terdengar suara letusan satu kali,” ucapnya.
Calvijn menuturkan, mendapati informasi itu, pihaknya tim inafis datang ke lokasi untuk melakukan olah TKP. Hasilnya, memang ditemukan adanya senpi jenis revolver di dalam kamar mandi.
Adapun, hasil dari tim laboratorium forensik serta dokter yang melakukan otopsi, bahwa ditemukannya sisa residu di jari tangan, badan, dan baju korban.
“Lalu, tim melakukan swab jari dan tangan di tubuh saksi I. Hasilnya tidak ditemukan sisa residu yang ada,” ucapnya.
“Didapati juga keterangan dokter yang melakukan otopsi bahwa tidak ada bekas kekerasan atau benda tumpul serta tajam yang melukai korban,” tambahnya.
Meski begitu, ia menyampaikan pihaknya masih melakukan pendalaman menyoal motif yang membuat korban sampai mengakhiri hidup.
Sebelumnya, isak tangis YL memenuhi ruang tengah rumah di salah satu jalan di Kota Medan pada Rabu (5/8/2026). Ia begitu kehilangan anak pertamanya, wanita inisial W (30), telah meninggal dunia.
Satu per satu keluarga dan kerabat datang untuk turut berduka cita dan prihatin atas peristiwa yang menimpa W. Sementara jenazah W berada dalam peti yang diletakkan di tengah ruangan.
Foto W semasa hidup pun diletakkan dekat bagian atas peti. YL yang duduk di sebelah kanan peti pun henti meneteskan air mata. Suasana pilu menyelimuti rumah duka. Sesekali ia melontarkan ucapan kepiluannya.
“Pak Kapolri tolong lah, lihat anggotamu. Bagaimana ini terbuka lah. Tolong Pak Presiden. Pak Prabowo, Pak Gibran. Siapapun yang mendengar tolong lah bantu kami. Kami tidak punya kekuatan. Kami orang kecil. Selama ini dia kekuatanku,” sambungnya.
Ia turut berucap bahwa sejauh ini pihaknya tak pernah diminta persetujuan agar tubuh anaknya diotopsi. Selain itu, hasil otopsi juga tak diterimanya sampai saat ini. Alhasil, YL masih belum mendapat kepastian penyebab tewasnya W.
“Dibuka lah ini ada apa. Sampai saat ini hasil otopsi kami gak ada dikasih. Gak ada dikasih tahu anakku dibelah-belah,” ujar YL.***
Sumber : Kompas










