KARAWANG – Untuk pengembangan tanaman kayu balsa di Indonesia, investor asal Tiongkok mulai melakukan penjajakan kerja sama.
Dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), pada tahap awal kerja sama tersebut ditargetkan mencakup lahan lebih dari 1.000 hektare.
Jika program berjalan sesuai rencana, luas lahan tanaman balsa disebut dapat diperluas hingga sekitar 10.000 hektare dalam tiga tahun.
Ketua LMDH Nasional, Nace Permana, mengatakan rencana tersebut melibatkan tiga pihak, yakni LMDH, Perum Perhutani dan investor.
“Untuk permulaan mungkin di atas 1.000 hektare, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan lebih luas lagi. Harapan kita ini jadi momentum LMDH untuk meningkatkan kesejahteraan para penggarap yang bekerjasama dengan perum perhutani,” ujar Nace Permana, Ketua LMDH, saat bertemu dengan investor Tiongkok, di Kabupaten Karawang – Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Nace berharap, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, tetapi juga berkontribusi terhadap aspek ekologi.
Sementara itu, investor asal Tiongkok, Zhou Hong Ming, menjelaskan kayu balsa memiliki sejumlah kegunaan, salah satunya sebagai material pengisi pada bilah turbin pembangkit listrik tenaga angin atau PLTB.
Kayu balsa, kata dia, banyak digunakan karena memiliki karakter ringan, mampu meredam suara dan memiliki kemampuan isolasi suhu.
“Penggunaan utama kayu balsa adalah di energi bersih, pembangkit listrik tenaga angin,” ujar Zhou melalui penerjemah.
Ia mengatakan penggunaan kayu balsa untuk PLTB saat ini banyak berkembang di Tiongkok dan Eropa. Sementara di Indonesia, pihaknya masih melakukan penjajakan lokasi yang memiliki potensi angin cukup untuk pengembangan PLTB.
Selain untuk kebutuhan energi terbarukan, kayu balsa juga dapat digunakan untuk membuat berbagai model, termasuk model pesawat dan mainan.
Target Panen Dua Tahun
Zhou mengatakan secara umum kayu balsa dapat dipanen sekitar tiga hingga empat tahun setelah ditanam.
Namun, pihaknya menargetkan masa panen di Indonesia dapat dipersingkat menjadi sekitar dua tahun melalui penerapan teknologi penanaman dan pemupukan yang mereka miliki.
“Normalnya, dari penanaman hingga penebangan adalah tiga sampai empat tahun. Namun, di Indonesia kami berharap dalam kurun waktu sekitar dua tahun sudah bisa ditebang,” katanya.
Investor tersebut juga menyampaikan ambisi menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis besar penanaman dan produksi kayu balsa.
Jika pengembangan berjalan lancar, luas lahan tanaman balsa ditargetkan mencapai sekitar 10.000 hektare dalam tiga tahun.
Dengan asumsi produksi sekitar 200 meter kubik kayu per hektare, luas 10.000 hektare disebut berpotensi menghasilkan sekitar 2 juta meter kubik kayu.
“Jika proses kita berjalan lancar, dalam tiga tahun kami bisa memperluas area penanaman di Indonesia hingga 10.000 hektare atau bahkan lebih besar,” ujar Zhou.
Meski demikian, investor belum dapat memastikan nilai investasi yang akan digelontorkan.
Menurut Zhou, besaran investasi baru akan dihitung setelah dilakukan tahap awal atau uji coba pada satu hingga dua petak lahan untuk mengetahui potensi dan kebutuhan pengembangan.
Konsultan Eksekutif LMDH, Jukito, mengatakan kedatangan investor tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petani.
“Secara pribadi, tujuan membawa investasi ini adalah bentuk kontribusi sebagai warga negara Indonesia, untuk menyejahterakan petani Indonesia dan mengangkat marwah petani-petani Indonesia,” katanya.
LMDH menyebut tanaman balsa sebenarnya telah dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat di sejumlah daerah, seperti Semarang, Garut dan Tasikmalaya. Namun, penanaman tersebut selama ini belum dilakukan secara terstruktur melalui LMDH.
Dalam pertemuan di Kantor Lodaya di Karawang dihadiri dihadiri oleh Ketua LMDH Jawa Barat Duad Yusuf dan Ketua LMDH Jawa Timur merangkap Sekjen LMDH Nasional Nurrochim.***

