Kamis, September 24, 2026
Google search engine

Gandeng LMDH, Investor Tiongkok Jajaki Kerja Sama Pengembangan Kayu Balsa di Indonesia

KARAWANG – Untuk pengembangan tanaman kayu balsa di Indonesia, investor asal Tiongkok mulai melakukan penjajakan kerja sama.

Dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), pada tahap awal kerja sama tersebut ditargetkan mencakup lahan lebih dari 1.000 hektare.

Jika program berjalan sesuai rencana, luas lahan tanaman balsa disebut dapat diperluas hingga sekitar 10.000 hektare dalam tiga tahun.

Ketua LMDH Nasional, Nace Permana, mengatakan rencana tersebut melibatkan tiga pihak, yakni LMDH, Perum Perhutani dan investor.

“Untuk permulaan mungkin di atas 1.000 hektare, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan lebih luas lagi. Harapan kita ini jadi momentum LMDH untuk meningkatkan kesejahteraan para penggarap yang bekerjasama dengan perum perhutani,” ujar Nace Permana, Ketua LMDH, saat bertemu dengan investor Tiongkok, di Kabupaten Karawang – Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).

Nace berharap, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, tetapi juga berkontribusi terhadap aspek ekologi.

Berita Lainnya  Transformasi Digital bagi Pelaku UMKM, Disperindagkop Karawang Jalin Kerja Sama dengan PT. GOKAR

Sementara itu, investor asal Tiongkok, Zhou Hong Ming, menjelaskan kayu balsa memiliki sejumlah kegunaan, salah satunya sebagai material pengisi pada bilah turbin pembangkit listrik tenaga angin atau PLTB.

Kayu balsa, kata dia, banyak digunakan karena memiliki karakter ringan, mampu meredam suara dan memiliki kemampuan isolasi suhu.

“Penggunaan utama kayu balsa adalah di energi bersih, pembangkit listrik tenaga angin,” ujar Zhou melalui penerjemah.

Ia mengatakan penggunaan kayu balsa untuk PLTB saat ini banyak berkembang di Tiongkok dan Eropa. Sementara di Indonesia, pihaknya masih melakukan penjajakan lokasi yang memiliki potensi angin cukup untuk pengembangan PLTB.

Selain untuk kebutuhan energi terbarukan, kayu balsa juga dapat digunakan untuk membuat berbagai model, termasuk model pesawat dan mainan.

Target Panen Dua Tahun

Zhou mengatakan secara umum kayu balsa dapat dipanen sekitar tiga hingga empat tahun setelah ditanam.

Berita Lainnya  Di HUT Karawang ke-393, KADIN Karawang Kirim Delegasi ke Korea Selatan

Namun, pihaknya menargetkan masa panen di Indonesia dapat dipersingkat menjadi sekitar dua tahun melalui penerapan teknologi penanaman dan pemupukan yang mereka miliki.

“Normalnya, dari penanaman hingga penebangan adalah tiga sampai empat tahun. Namun, di Indonesia kami berharap dalam kurun waktu sekitar dua tahun sudah bisa ditebang,” katanya.

Investor tersebut juga menyampaikan ambisi menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis besar penanaman dan produksi kayu balsa.

Jika pengembangan berjalan lancar, luas lahan tanaman balsa ditargetkan mencapai sekitar 10.000 hektare dalam tiga tahun.

Dengan asumsi produksi sekitar 200 meter kubik kayu per hektare, luas 10.000 hektare disebut berpotensi menghasilkan sekitar 2 juta meter kubik kayu.

“Jika proses kita berjalan lancar, dalam tiga tahun kami bisa memperluas area penanaman di Indonesia hingga 10.000 hektare atau bahkan lebih besar,” ujar Zhou.

Meski demikian, investor belum dapat memastikan nilai investasi yang akan digelontorkan.

Berita Lainnya  Transformasi Digital bagi Pelaku UMKM, Disperindagkop Karawang Jalin Kerja Sama dengan PT. GOKAR

Menurut Zhou, besaran investasi baru akan dihitung setelah dilakukan tahap awal atau uji coba pada satu hingga dua petak lahan untuk mengetahui potensi dan kebutuhan pengembangan.

Konsultan Eksekutif LMDH, Jukito, mengatakan kedatangan investor tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petani.

“Secara pribadi, tujuan membawa investasi ini adalah bentuk kontribusi sebagai warga negara Indonesia, untuk menyejahterakan petani Indonesia dan mengangkat marwah petani-petani Indonesia,” katanya.

LMDH menyebut tanaman balsa sebenarnya telah dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat di sejumlah daerah, seperti Semarang, Garut dan Tasikmalaya. Namun, penanaman tersebut selama ini belum dilakukan secara terstruktur melalui LMDH.

Dalam pertemuan di Kantor Lodaya di Karawang dihadiri dihadiri oleh Ketua LMDH Jawa Barat Duad Yusuf dan Ketua LMDH Jawa Timur merangkap Sekjen LMDH Nasional Nurrochim.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

4 Guru SDN 58 Lengkese Alami Gatal-gatal Mulut Setelah Cicipi MBG Sebelum Dibagikan ke Siswa, Terbukti Mengantuk Boraks

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikirim ke UPT SD Negeri 58 Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, batal dibagikan kepada siswa setelah sejumlah guru...

Gak Terima Diputusin, Pria ini Ancam Pacarnya Pakai Badik, Bakal Terima Diputusin Kalau Si Cewek Ngasih Duit Rp 200 Ribu

Pemuda berinisial F (22) di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), diamankan polisi setelah diduga mengancam mantan pacarnya, AR (19), menggunakan senjata tajam jenis badik. Pelaku...

Pimpinan Ponpes Abul Barokat Bantah Pelecehan Santriwati, Bakal Laporkan Media BBC Indonesia

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, menyatakan mundur...

Tanggapi Pernyataan Prabowo, Mahfud MD : “Banyak juga Presiden yang Goblok”

Mahfud MD menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar atau profesor "saking pintarnya jadi goblok" tidak etis disampaikan oleh seorang kepala negara. Mahfud MD...

Ustaz Das’ad Latif Kritik Keras Buku Islam Ala Prabowo : “Penjilat Luar Biasa itu”

Ustaz Das'ad Latif secara blak-blakan memberikan kritik keras terhadap buku berjudul "Islam Ala Prabowo" yang sempat memicu kontroversi di masyarakat. Dalam salah satu tausiyahnya yang...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan