Kamis, Maret 12, 2026
spot_img

Aksi Berani Seorang Pemuda Protes Sendiri di Mapolres Karawang

KARAWANG – Aksi berani dilakukan seorang pemuda bernama Tri Prasetio Putra Mumpuni. Seorang diri, ia melakukan aksi diam di depan gerbang Mapolres Karawang untuk memprotes dan mempertanyakan penanganan kasus dugaan pencabulan seorang bocah berusia 8 tahun, warga Desa Muktijaya Kecamatan Cilamaya Kulon.

Aksi yang dilakukan Kamis (12/3/2026) ini terpaksa dilakukan Tri. Karena ia menduga penanganan perkara dugaan pencabulan oleh penyidik Polres Karawang tersebut diduga mandek. Pasalnya, laporan polisi sudah dilakukan pada 11 September 2025, tetapi hingga saat ini kasusnya dinilai belum memiliki kepastian hukum.

“Aksi ini adalah bentuk protes moral saya terhadap lambannya penanganan laporan masyarakat di Polres Karawang. Banyak orang kecil datang mencari keadilan, tetapi prosesnya sangat lama dan penuh ketidakpastian,” tutur Tri, kepada wartawan.

Kronologis Perkara

Berdasarkan data yang dihimpun Redaksi Opiniplus.com, perkara dugaan pencabulan ini sempat dilaporkan keluarga korban berinisial CH, atas terlapor berinisial WG (50 tahun), seorang buruh harian lepas.

Berita Lainnya  Peristiwa 'Sahur Berdarah', Diduga Dirampok : Ayah Tewas dan Ibu Kritis

Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor : STTLP/B/1055/SPKT/POLRES KARAWANG/POLDA JAWA BARAT, pelapor menceritakan bahwa kejadian dugaan pencabulan terjadi pada 9 Agustus 2025, sekitar pukul 10.00 WIB.

Kasus ini diketahui ketika korban bercerita kepada keluarganya, yaitu dimana korban mengaku dipaksa untuk berhubungan badan sebanyak 2 kali di rumah terduga pelaku WG.

Setelahnya, korban diberikan uang Rp 50 ribu rupiah oleh terduga pelaku, agar korban tutup mulut.

Kasus ini pun sempat mendapatkan pengawalan advokasi hukum dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dalam laporannya, pelapor menceritakan bahwa terduga pelaku telah melakukan aksi pencabulan dengan cara menjilat kemaluan korban. Pelaku menidurkan korban di sofa rumahnya, kemudian memasukan alat kelaminnya ke kemaluan korban.

Berita Lainnya  Sopir Ekspedisi Gelapkan Biji Kopi Senilai Rp 2 Miliar Lebih

Sehingga atas perkara inilah, Tri Prasetio Putra Mumpuni yang dikabarkan masih merupakan bagian dari keluarga korban melakukan aksi protes di gerbang Mapolres Karawang.

“Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah, kenapa masyarakat kecil yang tidak punya uang harus membayar mahal untuk mendapatkan keadilan?. Bahkan ada anggapan di masyarakat bahwa penyidikan baru berjalan jika ada uang lebih dulu. Sementara mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan sering kali mendapat respons yang lebih cepat,” kata Tri.

Tri menilai kondisi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum, apabila tidak segera dibenahi secara serius.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan bukan ditujukan untuk menyerang institusi kepolisian secara pribadi. Melainkan sebagai kritik konstruktif agar pelayanan hukum kepada masyarakat dapat berjalan lebih transparan, profesional, dan adil.

Berita Lainnya  Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Senilai Rp 183 Miliar

“Aksi ini bukan kebencian terhadap institusi. Ini bentuk kepedulian agar hukum benar-benar hadir untuk semua orang tanpa membedakan siapa yang punya uang, siapa yang punya jabatan, dan siapa rakyat biasa,” tegasnya.

Ia berharap kritik yang disampaikan melalui aksi tersebut dapat menjadi perhatian bagi pihak kepolisian, khususnya di Polres Karawang, agar meningkatkan respons dan keseriusan dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.

Sementara, hingga berita ini masuk meja redaksi, belum ada jawaban resmi dari Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, terkait aksi protes yang dilakukan pemuda asal Cilamaya Kulon ini.***

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Gus Yaqut Pakai Rompi Orange : Saya Tidak Menerima Uang Sepeser pun…

JAKARTA - Mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan rasuah kuota haji. Yaqut mengaku tidak pernah menerima uang...

Bupati Rejang Lebong Minta ‘Fee Proyek’ untuk Kebutuhan Lebaran

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan lima orang tersangka terkait kasus dugaan korupsi suap ijon proyek di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Tahun Anggaran...

Korupsi Kuota Haji, Hakim Tolak Praperadilan Gus Yaqut

JAKARTA - Hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan Sulistyo Muhammad Dwi Putro menolak permohonan Praperadilan perkara nomor: 19/Pid.Pra/2026 atas nama pemohon Yaqut Cholil Qoumas selaku...

Polisi Pastikan Ermanto Usman Tewas Dibunuh Perampok

JAKARTA - Polda Metro Jaya mengungkap kasus pembunuhan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT), Ermanto Usman di kediamannya di Bekasi, Jawa Barat (Jabar)....

Demo Tak Ditanggapi, Dedi Mulyadi Malah Sebar Konten Framing Mahasiswa

KOTA BEKASI - Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Rafi Priyatna kecewa terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam menanggapi aksi mahasiswa...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan