Sabtu, September 26, 2026
Google search engine

Mengenal Sosok RA Kartini, Pejuang Status Sosial Perempuan

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, sebuah kota kecil dalam wilayah Karesidenan Jepara. Ia merupakan seorang putri dari pasangan Raden Mas (RM) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.

Kartini juga lahir dalam lingkungan keluarga priyayi dan bangsawan, karena itu ia berhak menambahkan gelar Raden Ajeng (RA) di depan namanya.

Pada tahun 1885, Kartini dimasukkan ke sekolah dasar Eropa atau Europesche Lagere School (ELS). ELS merupakan sekolah khusus yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak bangsa Eropa dan Belanda-Indo. Sementara itu, anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS hanya anak yang orang tuanya menjadi pejabat tinggi pemerintah.

Meskipun bagian dari anak pribumi, Kartini tidak kesulitan untuk menyesuaikan kegiatan belajar di ELS. Bahkan, anak RM Sosroningrat ini termasuk siswa cerdas yang mampu bersaing dengan siswa lainnya.

Berita Lainnya  Muncul Spekulasi Publik Jika WBP yang Kepergok di Fasilitas Mewah Lapas Cibinong Adalah Tersangka Korupsi Jimmy Masrin

Keberadaan Kartini di ELS juga menarik perhatian banyak orang Eropa, karena menjadi siswa pribumi yang mampu berbahasa Belanda dengan baik. Kemampuan tersebut diperolehnya dengan rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda.

Awal tahun 1892, Kartini dinyatakan lulus dari ELS dengan nilai yang cukup baik. Ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya, namun hal itu terhalang karena sebuah tradisi di kalangan bangsawan yang dikenal sebagai pingitan.

Selama masa pingitan, Kartini berusaha mengatasi kesunyian hidupnya dengan membagi cerita kepada Raden Ajeng Soelastri (saudara tiri Kartini) yang juga sedang menjalani masa pingitan. Melalui surat, Kartini dengan semangat tinggi menceritakan keinginannya memajukan perempuan kalangan bangsawan. (1)

Kartini bertekad bulat hendak mengangkat kembali kedudukan kaumnya yang rendah. Dalam usahanya untuk mengubah kedudukan perempuan, ia berpendapat supaya kaum wanita juga diberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu di sekolah, sama seperti laki-laki. Sebab, laki-laki dan perempuan merupakan makhluk yang sama haknya dan derajatnya.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Untuk memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, Kartini memutuskan mendirikan sekolah sendiri. Sekolah yang ia dirikan ini dikhususkan bagi para gadis agar mereka memiliki akses terhadap pendidikan yang layak.

Langkah Kartini mendirikan “Sekolah Gadis” di Jepara mendapat sambutan positif dari masyarakat. Upaya ini bahkan memberikan dampak besar bagi perkembangan pendidikan perempuan di berbagai daerah lain.

Sejak saat itu, dunia pendidikan bagi kaum wanita di Pulau Jawa memasuki babak baru. Sekolah Kepandaian Putri pun mulai bermunculan di berbagai kota seperti Batavia (Jakarta), Madiun, Semarang, Bogor, Malang, Cirebon, Surabaya, Surakarta, dan Rembang.

Berita Lainnya  Publik Masih Penasaran Alasan Purbaya Dicopot dari Posisi Menkeu

Perjuangan Kartini pun akhirnya mengubah status sosial perempuan. Sayangnya, perjuangannya harus terhenti ketika ia menutup usia di tahun ke-25. Ia meninggal pada 17 September 1904, empat hari sesudah melahirkan anaknya yang pertama.

Perjuangan Kartini berhasil membawa perubahan besar terhadap status sosial perempuan hingga saat ini. Namun, langkah mulianya harus terhenti saat ia wafat pada usia 25 tahun. Kartini meninggal pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangannya, Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964. (2)

Sumber : Detik

 

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Bupati Gowa Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi Pengurusan PBG

Penyidik Kortas Tipidkor Polri menetapkan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan lainnya...

Pria Berbaju Hitam Mengejek Pendemo, Julurkan Lidah ke Massa Aksi Hari Tani di Bengkulu

Seorang pria berbaju hitam viral karena menjulurkan lidah ke arah massa aksi saat demonstrasi Hari Tani Nasional di depan Kantor Gubernur Bengkulu pada Kamis,...

Kamar Kos Aktivis Mahasiswa di Bekasi Dibakar Orang Tak Dikenal

Kamar kos milik Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Bina Insani, Trio Syah Putra Lase, di kawasan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, diduga dibakar oleh orang tak...

Viral Karyawan Minimarket Menangis Emosional Saat Memergoki 2 Emak-emak Mengambil Barang Tanpa Membayar

Pegawai Indomaret di OKU Selatan menangis emosional karena sering harus menombok atau mengganti barang yang hilang akibat pencurian saat memergoki dua emak-emak atau ibu-ibu...

Akibat Kepsek Tampar Siswa, Sejumlah Wali Murid dan Siswa Gelar Protes di SMPN 18 Kota Malang

Aksi protes oleh ratusan siswa dan wali murid terjadi di SMPN 18 Kota Malang pada Jumat, 25 September 2026 pagi. Aksi demonstrasi ini dipicu oleh...

Hukum

Bupati Gowa Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi Pengurusan PBG

Penyidik Kortas Tipidkor Polri menetapkan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan lainnya...

CAPTURE

Berita Pilihan

Peristiwa

Kriminal

Politik

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan