Rabu, September 16, 2026
spot_img

Mengenal Sosok RA Kartini, Pejuang Status Sosial Perempuan

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, sebuah kota kecil dalam wilayah Karesidenan Jepara. Ia merupakan seorang putri dari pasangan Raden Mas (RM) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah.

Kartini juga lahir dalam lingkungan keluarga priyayi dan bangsawan, karena itu ia berhak menambahkan gelar Raden Ajeng (RA) di depan namanya.

Pada tahun 1885, Kartini dimasukkan ke sekolah dasar Eropa atau Europesche Lagere School (ELS). ELS merupakan sekolah khusus yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak bangsa Eropa dan Belanda-Indo. Sementara itu, anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS hanya anak yang orang tuanya menjadi pejabat tinggi pemerintah.

Meskipun bagian dari anak pribumi, Kartini tidak kesulitan untuk menyesuaikan kegiatan belajar di ELS. Bahkan, anak RM Sosroningrat ini termasuk siswa cerdas yang mampu bersaing dengan siswa lainnya.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Keberadaan Kartini di ELS juga menarik perhatian banyak orang Eropa, karena menjadi siswa pribumi yang mampu berbahasa Belanda dengan baik. Kemampuan tersebut diperolehnya dengan rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda.

Awal tahun 1892, Kartini dinyatakan lulus dari ELS dengan nilai yang cukup baik. Ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya, namun hal itu terhalang karena sebuah tradisi di kalangan bangsawan yang dikenal sebagai pingitan.

Selama masa pingitan, Kartini berusaha mengatasi kesunyian hidupnya dengan membagi cerita kepada Raden Ajeng Soelastri (saudara tiri Kartini) yang juga sedang menjalani masa pingitan. Melalui surat, Kartini dengan semangat tinggi menceritakan keinginannya memajukan perempuan kalangan bangsawan. (1)

Kartini bertekad bulat hendak mengangkat kembali kedudukan kaumnya yang rendah. Dalam usahanya untuk mengubah kedudukan perempuan, ia berpendapat supaya kaum wanita juga diberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu di sekolah, sama seperti laki-laki. Sebab, laki-laki dan perempuan merupakan makhluk yang sama haknya dan derajatnya.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Untuk memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, Kartini memutuskan mendirikan sekolah sendiri. Sekolah yang ia dirikan ini dikhususkan bagi para gadis agar mereka memiliki akses terhadap pendidikan yang layak.

Langkah Kartini mendirikan “Sekolah Gadis” di Jepara mendapat sambutan positif dari masyarakat. Upaya ini bahkan memberikan dampak besar bagi perkembangan pendidikan perempuan di berbagai daerah lain.

Sejak saat itu, dunia pendidikan bagi kaum wanita di Pulau Jawa memasuki babak baru. Sekolah Kepandaian Putri pun mulai bermunculan di berbagai kota seperti Batavia (Jakarta), Madiun, Semarang, Bogor, Malang, Cirebon, Surabaya, Surakarta, dan Rembang.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Perjuangan Kartini pun akhirnya mengubah status sosial perempuan. Sayangnya, perjuangannya harus terhenti ketika ia menutup usia di tahun ke-25. Ia meninggal pada 17 September 1904, empat hari sesudah melahirkan anaknya yang pertama.

Perjuangan Kartini berhasil membawa perubahan besar terhadap status sosial perempuan hingga saat ini. Namun, langkah mulianya harus terhenti saat ia wafat pada usia 25 tahun. Kartini meninggal pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangannya, Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964. (2)

Sumber : Detik

 

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Berawal dari ‘Heureuy’, Pejabat Dishub Sukabumi Lecehkan Siswi PKL, Berakhir Dijemput Polisi

SUKABUMI - Seorang oknum pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sukabumi berinisial TIP yang diduga melakukan pelecehan terhadap siswi Praktik Kerja Lapangan (PKL) telah dijemput...

Tegas! Pemprov Jabar Tutup Aktivitas Pertambangan PT. MPB di Karawang Selatan

KARAWANG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menutup aktivitas pertambangan PT. Mas Putih Belitung  (anak perusahaan PT. Jui Shin Indonesia), yang tidak mematuhi ketentuan...

Singgung Soal ‘Ideologi Politik’, Kepala BGN Malah Salahkan Guru, Orang Tua Siswa, Wartawan hingga LSM yang ‘Ngeramein’ Keracunan MBG

JAKARTA - Meski total korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mencapai hampir 50 ribu orang yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia,...

KDM Nyatakan Tidak Ada Pelecehan di Kasus Wabup Sumedang dengan Sekprinya, Netizen Tak Percaya : “Ekspresi Tidak Bisa Berbohong”

BANDUNG - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Wakil Bupati Sumedang, Muhammad Fajar Aldila terhadap sekretaris pribadinya berinisial RY dinyatakan 'clear' oleh Gubernur Jawa...

Disuruh Beli Mi Goreng Malah Mi Kuah, Prajurit TNI AU Meninggal Dianiaya Senior

JAKARTA - Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF), prajurit TNI AU di Magetan, Jawa Timur (Jatim), meninggal secara tak wajar setelah diduga dianiaya seniornya di...

Hukum

KPK Tangkap 17 Orang Terkait Pengurusan HGB di Kabupaten Bogor

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap 17 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Jabodetabek, pada Senin (14/9/2026). Beberapa di antaranya ada Direktur...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan