Minggu, Februari 15, 2026
spot_img

Niat Tagih Cicilan, Karyawan Kredit Plus Malah Dikeroyok Suami Nasabah

Seorang karyawan PT. Kredit Plus bernama Hamdan menjadi korban pengeroyokan saat menjalankan tugas menagih utang kepada seorang nasabah di Desa Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Kamis (29/5/2025) pagi.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, saat Hamdan didampingi oleh rekan kerjanya, Tiara Permatsari, datang ke rumah nasabah berinisial TTN yang diketahui menunggak cicilan selama dua bulan.

Penagihan dilakukan secara langsung di rumah nasabah yang beralamat di Dusun Krajan 1 RT 007 RW 002.

Menurut keterangan korban, kedatangannya ke rumah Triana telah dilaporkan sebelumnya kepada pihak terkait untuk menghindari kesalahpahaman.

Berita Lainnya  Heboh Polisi Tabrak Lari, Diteriaki Warga, Mobil Nyebur ke Kali

Namun, sesampainya di lokasi, suasana berubah tegang ketika Hamdan mencoba membicarakan soal kepastian pembayaran.

Diduga suami nasabah, yang diketahui berinisial AS, tidak terima dengan kedatangan korban. Secara tiba-tiba, AS merampas handphone milik Hamdan dan membantingnya ke tanah. Tak berhenti di situ, pelaku juga menampar pipi kiri korban.

Situasi memanas saat dua orang teman anak pelaku ikut memegangi tangan Hamdan, sementara anak pelaku yang namanya belum diketahui memukul wajah korban sebanyak tiga kali dengan tangan mengepal. Aksi pengeroyokan ini baru berhenti setelah tetangga sekitar datang melerai.

Berita Lainnya  Sopir Mengantuk, Artis Sinetron Diva Siregar Alami Kecelakaan di Tol Jagorawi

Akibat kejadian tersebut, Hamdan mengalami luka memar di area wajah dan pelipis kiri. Merasa dirugikan, korban langsung melaporkan insiden ini ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum.

Kapolsek Klari melalui laporan resmi menyatakan bahwa kasus ini tengah dalam proses penyelidikan. Laporan teregister dalam Laporan Polisi Nomor: LP/GAR/B/-121/V/2025/SPK.SEK KLAR/POLRES KARAWANG/POLDA JABAR tertanggal 29 Mei 2025.

Pihak PT. Kredit Plus belum memberikan pernyataan resmi, namun sumber internal menyebutkan bahwa perusahaan akan memberikan pendampingan hukum kepada korban.

Berita Lainnya  Longsor Bandung Barat, 41 Jenazah Teridentifikasi, 25 Korban Masih Belum Ditemukan

Kejadian ini menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi petugas lapangan yang menjalankan tugas sesuai prosedur, sekaligus mengingatkan masyarakat agar menyelesaikan persoalan kredit secara bijak dan tidak main hakim sendiri.***

 

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Kasus Penganiayaan Balita, Bupati Aep Minta Pelaku Jangan Dikasih Ampun

KARAWANG - Sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinannya, Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh melakukan intervensi langsung terhadap kasus dugaan penganiayaan balita yang masih berusia 2,5...

Ditawari Jadi Wantimpres, Jokowi : “Saya di Solo saja!”

JAKARTA - Isu reshuffle kabinet jilid 5 yang disebut-sebut akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (6/2/2026), kembali memantik spekulasi politik. Di tengah kabar tersebut,...

Tegas! Bupati Aep Larang Operasi THM hingga Perjudian Selama Ramadhan

KARAWANG - Guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang mengeluarkan kebijakan penutupan Tempat Hiburan...

Maksud Hati Cuma Ingin Redam Tangisan, Seorang Ibu di Subang Tak Sengaja Malah Bunuh Anaknya

SUBANG - K (29), seorang ibu tiba-tiba menyerahkan diri ke Mapolsek Subang - Jawa Barat, setelah ia mengaku tidak sengaja membunuh anaknya yang baru...

Polisi Tetapkan 2 Tersangka dalam Peristiwa ‘Miras Oplosan Maut’

SUBANG - Polres Subang menetapkan dua tersangka dalam kasus dan peristiwa 'miras oplosan maut' yang merenggut 9 nyawa. Kasus ini bermula pada Minggu (8/2/2026), yaitu...

Peristiwa

CAPTURE

Berita Pilihan

Pemerintahan

spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Pendidikan

- Advertisement -spot_img

INDEKS

HUKUM

KONTROVERSI