Minggu, September 20, 2026
spot_img

Meluruskan Narasi Sejarah, Karawang Adalah Pusat Peradaban Bukan Sekadar Rintasan Kerajaan Mataram

SETIAP memasuki bulan Agustus dan September, masyarakat kita selalu riuh merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kabupaten Karawang. Namun, di balik perayaan itu, ada satu narasi sejarah yang harus kita luruskan bersama. Selama ini, sejarah kita terlalu berpatokan pada sudut pandang Kerajaan Mataram Islam (Mataramsentris).

Kita  terlanjur terdoktrin narasi bahwa Karawang baru “hidup” dan punya peradaban sejak tahun 1633, saat Sultan Agung dari Jawa Tengah mengirim pasukan dan melantik Raden Adipati Singaperbangsa sebagai Bupati pertama. Narasi ini keliru besar dan membuat Karawang seolah-olah hanya hutan rawa belantara yang kemudian menjadi lumbung padi perbekalan perang setelah Arya surengrono Babad Alas dan membuka lahan pertanian.

Faktanya, jauh sebelum Mataram berdiri, Karawang adalah pusat peradaban mandiri dan kota maritim yang sangat disegani di Nusantara.

Menurut mendiang budayawan besar Ridwan Saidi, nama Karawang sendiri bukan berasal dari kata ka-rawa-an (daerah berawa), melainkan serapan dari istilah internasional “Caravan” yang berarti kafilah dagang lintas samudera. Ridwan Saidi menegaskan bahwa pusat bandar perdagangan internasional legendaris yang dinamakan Jayakarta sebenarnya berada di wilayah maritim Karawang.

Berita Lainnya  Publik Masih Penasaran Alasan Purbaya Dicopot dari Posisi Menkeu

Catatan penjelajah Portugis Tomé Pires dalam buku Suma Oriental juga menjadi bukti kuat bahwa pelabuhan Karawang merupakan salah satu gerbang ekonomi utama milik Kerajaan Sunda Pajajaran yang sangat makmur.

Aktivitas perdagangan internasional ini ditopang oleh Sungai Citarum Purba yang berfungsi sebagai “jalan tol air” penghubung daerah pedalaman dengan Laut Jawa. Komoditas hasil bumi dikirim dari hulu melalui Dermaga Talibaju yang berada di wilayah Cikaobandung, Jatiluhur, kemudian mengalir ke hilir menuju Pelabuhan Tanjungpura di Karawang sebagai gudang utama lada dan beras kerajaan Pajajaran.

Jejak kejayaan bahari ini masih membekas pada nama-nama tempat (toponimi) hari ini. Nama Tanjungpura merujuk pada benteng pengawas sungai, sedangkan daerah bernama “Pangkalan” dulunya adalah tempat perahu-perahu purba menambatkan jangkarnya.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, akar peradaban Karawang sudah dimulai sejak zaman prasejarah melalui Kebudayaan Buni di Situs Kebon Cau, Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta. Wilayah delta ini lalu berkembang menjadi pusat Kerajaan Tarumanagara. Bukti fisiknya adalah Kompleks Percandian Batujaya dan Cibuaya. Struktur candi bata merah seperti Candi Jiwa di Batujaya terbukti secara ilmiah berusia jauh lebih tua daripada Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Legalitas wilayah Karawang sebagai tanah suci yang dilindungi hukum juga tercatat resmi dalam Prasasti Kabantenan yang dikeluarkan langsung oleh Maha Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), serta termuat dalam peta perjalanan Ameng Layaran, Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik.

Sebagai wilayah kedaulatan Sunda Pajajaran, Karawang juga dibentengi secara militer. Di bagian selatan, ada perbukitan Kuta Tandingan yang berfungsi sebagai pos pertahanan pasukan kerajaan.

Sementara di sepanjang aliran Sungai Citarum, Babad Indramayu mengabadikan kisah heroisme ksatria utama Sunda bernama Kidang Pananjung (Kibagus Sidum)  yang berjuang menjaga tanah airnya dari desakan pasukan Raden Arya Wiralodra dari arah timur (wilayah kerajaan Demak) pada tahun 1527. Sungai Citarum di Karawang menjadi garis pembatas suci yang mempertahankan harga diri tatar Sunda.

Dengan memahami rangkaian sejarah yang panjang ini, kita akan sadar bahwa Karawang adalah tanah para petarung sejak dahulu kala. Maka dari itu, peristiwa besar menjelang kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah kebetulan geografis yang acak.

Berita Lainnya  Publik Masih Penasaran Alasan Purbaya Dicopot dari Posisi Menkeu

Aksi para pemuda yang mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, serta kedatangan tokoh revolusioner Tan Malaka yang transit di Cikampek pada September 1945 (pasca-Peristiwa Lapangan Ikada) untuk memberikan pencerahan politik bagi pemuda setempat, adalah bukti nyata bahwa Karawang selalu menjadi motor penggerak kedaulatan.

Keberanian merumuskan nasib Republik di pinggiran Sungai Citarum lahir dari gen petarung purba yang sudah mengalir di tanah Karawang ini selama ribuan tahun.

Meluruskan sejarah di momen Hari Jadi Karawang dan HUT RI ini sangat penting agar generasi muda tidak lagi minder dengan identitasnya, melainkan bangga berdiri di atas tanah kota kuno Karawang yang melegenda di Nusantara.

Sampurasun!

Penulis ;

Ono Sutajaya
Pemerhati sejarah dan budaya

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Andre Taulany dan Amanda Rigby Sah Jadi Pasangan Suami-Istri

Andre Taulany dan Amanda Rigby sah menjadi pasangan suami istri (pasutri). Mereka melangsungkan pernikahan pada Minggu (20/9/2026). Prosesi akad nikah berlangsung dengan hangat dan khidmat...

KDM atau H. Jenal Aripin yang ‘Cuci Tangan’, Askun : “Kenapa Semua Jadi Merasa Paling Bersih?”

KARAWANG - Terkait siapakah sebenarnya yang sedang 'cuci tangan' dalam persoalan kerusakan Jalan Badami-Loji di Karawang Selatan akibat aktivitas truk bertonase muatan material tambang...

Wagub Kepulauan Bangka Belitung Kembali Bertugas Setelah Keluar dari Penjara, Wamendagri :”Saya Dalami Dulu ya!”

Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hellyana kembali menjalankan tugas pemerintahan setelah resmi bebas dari Lapas Perempuan Pangkalpinang. Hellyana mengatakan dirinya akan kembali menjalankan tugas sebagai...

Hendak Transaksi Senpi, TNI Ringkus Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo

Personel TNI mengamankan Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) OPM Kodap 35 Bintang Timur, Abdon Kisamdu di Bandara Nop Goliat, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan,...

Sempat Viral Diduga Ketahuan Selingkuh dengan Polisi di Dalam Mobil, Jaksa Cantik Franca Moniqa Dilantik Naik Jabatan

Jaksa Franca Moniqa Sayogi yang sebelumnya viral terkait dugaan perselingkuhan dengan anggota polisi di Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kini bertugas di Kejaksaan...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan