SETIAP memasuki bulan Agustus dan September, masyarakat kita selalu riuh merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kabupaten Karawang. Namun, di balik perayaan itu, ada satu narasi sejarah yang harus kita luruskan bersama. Selama ini, sejarah kita terlalu berpatokan pada sudut pandang Kerajaan Mataram Islam (Mataramsentris).
Kita terlanjur terdoktrin narasi bahwa Karawang baru “hidup” dan punya peradaban sejak tahun 1633, saat Sultan Agung dari Jawa Tengah mengirim pasukan dan melantik Raden Adipati Singaperbangsa sebagai Bupati pertama. Narasi ini keliru besar dan membuat Karawang seolah-olah hanya hutan rawa belantara yang kemudian menjadi lumbung padi perbekalan perang setelah Arya surengrono Babad Alas dan membuka lahan pertanian.
Faktanya, jauh sebelum Mataram berdiri, Karawang adalah pusat peradaban mandiri dan kota maritim yang sangat disegani di Nusantara.
Menurut mendiang budayawan besar Ridwan Saidi, nama Karawang sendiri bukan berasal dari kata ka-rawa-an (daerah berawa), melainkan serapan dari istilah internasional “Caravan” yang berarti kafilah dagang lintas samudera. Ridwan Saidi menegaskan bahwa pusat bandar perdagangan internasional legendaris yang dinamakan Jayakarta sebenarnya berada di wilayah maritim Karawang.
Catatan penjelajah Portugis Tomé Pires dalam buku Suma Oriental juga menjadi bukti kuat bahwa pelabuhan Karawang merupakan salah satu gerbang ekonomi utama milik Kerajaan Sunda Pajajaran yang sangat makmur.
Aktivitas perdagangan internasional ini ditopang oleh Sungai Citarum Purba yang berfungsi sebagai “jalan tol air” penghubung daerah pedalaman dengan Laut Jawa. Komoditas hasil bumi dikirim dari hulu melalui Dermaga Talibaju yang berada di wilayah Cikaobandung, Jatiluhur, kemudian mengalir ke hilir menuju Pelabuhan Tanjungpura di Karawang sebagai gudang utama lada dan beras kerajaan Pajajaran.
Jejak kejayaan bahari ini masih membekas pada nama-nama tempat (toponimi) hari ini. Nama Tanjungpura merujuk pada benteng pengawas sungai, sedangkan daerah bernama “Pangkalan” dulunya adalah tempat perahu-perahu purba menambatkan jangkarnya.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, akar peradaban Karawang sudah dimulai sejak zaman prasejarah melalui Kebudayaan Buni di Situs Kebon Cau, Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta. Wilayah delta ini lalu berkembang menjadi pusat Kerajaan Tarumanagara. Bukti fisiknya adalah Kompleks Percandian Batujaya dan Cibuaya. Struktur candi bata merah seperti Candi Jiwa di Batujaya terbukti secara ilmiah berusia jauh lebih tua daripada Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Legalitas wilayah Karawang sebagai tanah suci yang dilindungi hukum juga tercatat resmi dalam Prasasti Kabantenan yang dikeluarkan langsung oleh Maha Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), serta termuat dalam peta perjalanan Ameng Layaran, Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik.
Sebagai wilayah kedaulatan Sunda Pajajaran, Karawang juga dibentengi secara militer. Di bagian selatan, ada perbukitan Kuta Tandingan yang berfungsi sebagai pos pertahanan pasukan kerajaan.
Sementara di sepanjang aliran Sungai Citarum, Babad Indramayu mengabadikan kisah heroisme ksatria utama Sunda bernama Kidang Pananjung (Kibagus Sidum) yang berjuang menjaga tanah airnya dari desakan pasukan Raden Arya Wiralodra dari arah timur (wilayah kerajaan Demak) pada tahun 1527. Sungai Citarum di Karawang menjadi garis pembatas suci yang mempertahankan harga diri tatar Sunda.
Dengan memahami rangkaian sejarah yang panjang ini, kita akan sadar bahwa Karawang adalah tanah para petarung sejak dahulu kala. Maka dari itu, peristiwa besar menjelang kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah kebetulan geografis yang acak.
Aksi para pemuda yang mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, serta kedatangan tokoh revolusioner Tan Malaka yang transit di Cikampek pada September 1945 (pasca-Peristiwa Lapangan Ikada) untuk memberikan pencerahan politik bagi pemuda setempat, adalah bukti nyata bahwa Karawang selalu menjadi motor penggerak kedaulatan.
Keberanian merumuskan nasib Republik di pinggiran Sungai Citarum lahir dari gen petarung purba yang sudah mengalir di tanah Karawang ini selama ribuan tahun.
Meluruskan sejarah di momen Hari Jadi Karawang dan HUT RI ini sangat penting agar generasi muda tidak lagi minder dengan identitasnya, melainkan bangga berdiri di atas tanah kota kuno Karawang yang melegenda di Nusantara.
Sampurasun!
Penulis ;
Ono Sutajaya
Pemerhati sejarah dan budaya










