Senin, September 21, 2026
spot_img

Anggota DPR Gerindra Minta Gaji Guru Tidak Dibentukan dengan MBG

JAKARTA – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, meminta agar anggaran untuk guru dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dibenturkan.

“Saya ingin mengatakan ini dengan terang, membandingkan anggaran MBG dengan gaji guru adalah kekeliruan kategoris. Itu seperti membandingkan hak anak dan hak orang tua,” ujar Azis dalam keterangannya, Senin (16/2/3026).

Menurutnya, kedua hal itu merupakan fondasi untuk sumber daya manusia (SDM) yang harus dibangun bersama.

“Mengadu keduanya berarti merusak fondasi rumah yang sedang kita bangun bersama,” ujar dia.

Azis menjelaskan, pendidikan telah lama menjadi mandat konstitusional, dengan alokasi minimal 20 persen APBN yang dikelola melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dan berbagai lembaga terkait.

Anggota Komisi II DPR RI itu menyebut angka-angka tersebut bukan sekadar statistik fiskal, namun itu adalah pernyataan politik bahwa masa depan bangsa tidak boleh dinegosiasikan.

Berita Lainnya  Stafsus Menang Turun Tangan Selesaikan Masalah Pembubaran Tempat Ibadah Jemaat GKPI di Tangerang

Dia juga menyebut guru adalah jantung dari pendidikan.

“Namun kita juga harus jujur membaca struktur anggaran tersebut. Sebagian besar terserap untuk belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan guru. Ini bukan sesuatu yang keliru, guru adalah jantung pendidikan,” ucapnya.

Selain itu, ia menilai tanpa kesejahteraan guru yang layak, akan sulit mengharapkan dedikasi yang berkelanjutan. Akan tetapi, kesejahteraan juga perlu diiringi dengan perbaikan infrastruktur khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Indonesia.

“Tetapi kesejahteraan saja tidak cukup. Distribusi guru masih timpang. Pelatihan belum sepenuhnya berbasis praktik terbaik. Infrastruktur di banyak wilayah 3T masih menyisakan ruang kelas rusak, sanitasi minim, dan akses internet terbatas,” paparnya.

Di sisi lain, Azis juga tak bisa memungkiri adanya persoalan gizi anak yang tidak bisa diabaikan.

Berita Lainnya  Prabowo Percaya Diri Disegani Pimpinan Dunia : "Mungkin Mereka Takut Sama Saya"

Menurutnya, anak yang kekurangan gizi akan tumbuh lebih pendek dan berisiko kehilangan sebagian potensi kognitifnya. Oleh karenanya, MBG menemukan landasan moral dan rasionalnya.

Ia melanjutkan, sikap yang mempertentangkan MBG dan pendidikan justru menunjukkan kegagalan memahami ekosistem pembangunan manusia.

“Tubuh dan pikiran bukan dua entitas yang bisa dipisahkan dalam desain kebijakan publik. Guru terbaik sekalipun akan menghadapi batas jika muridnya datang ke kelas dengan energi yang terkuras oleh lapar,” ucap Azis.

“Sebaliknya, anak yang kenyang tetapi tidak dibimbing oleh guru kompeten juga akan kehilangan arah,” sambung dia.

Tiga hal untuk melahirkan SDM unggul Lebih lanjut, politikus Partai Gerindra ini menyarankan tiga hal yang harus dilakukan secara bersama jika sungguh ingin melahirkan SDM unggul.

Pertama, terkait reformulasi anggaran pendidikan berbasis hasil belajar. Sebab, alokasi tidak cukup berhenti pada input administratif, tetapi harus dikaitkan dengan peningkatan literasi, numerasi, dan kompetensi di era saat ini.

Berita Lainnya  Febrie Adriansyah: "Presiden Dapat Masukan yang Salah soal Perkara Saya"

Kedua, penguatan profesi guru melalui seleksi meritokratis, pelatihan berkelanjutan, evaluasi yang adil, dan distribusi yang merata hingga ke wilayah terpencil.

Ketiga, implementasi MBG yang akuntabel, transparan, dan berbasis standar gizi terukur, sekaligus memberdayakan ekonomi lokal agar menciptakan efek pengganda.

“Saya percaya, membangun manusia adalah pekerjaan yang sunyi. Ia tidak selalu menghasilkan tepuk tangan instan. Ia memerlukan konsistensi, tata kelola yang bersih, dan kesadaran kolektif bahwa kualitas SDM tidak lahir dari kebijakan yang saling menegasikan,” imbuhnya.***

Sumber : Kompas.com

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Awalnya Garang Sambil Bawa Parang, Ujung-ujungnya Minta Maaf

Kasus pembubaran ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang berakhir damai setelah pelaku pemuda bersenjata tajam menyampaikan permohonan maaf...

Ibu Guru ini Didatangi Pejabat Kampar, Setelah Viralkan Bangunan Sekolah Berdinding Triplek

Pada Rabu, 16 September 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar langsung turun ke lokasi untuk meninjau kondisi Kelas Jarak Jauh UPT SDN 007 Desa Sungai...

Kapal Ikan China Tabrak Kapal Kargo di Perairan Singapura, 8 Orang Dilaporkan Hilang

Kapal ikan berbendera China, Luqing Yuanyu 108, bertabrakan dengan kapal kargo berbendera Panama bernama First Margaux di perairan dekat Singapura pada Minggu, 20 September...

Heboh ‘Mata Air Keramat’ di Gunung Sindur, Warga Ambil Air hingga Berdoa

Warga di Kampung Kareo, Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, dihebohkan oleh Mata Air Keramat Kareo yang airnya mendadak berubah warna menjadi merah...

Stafsus Menang Turun Tangan Selesaikan Masalah Pembubaran Tempat Ibadah Jemaat GKPI di Tangerang

Ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Kampung Periuk, Desa Mekarsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibubarkan sekelompok warga pada Minggu (20/9/2026). Peristiwa tersebut...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan