Selasa, September 15, 2026
spot_img

‘Satu Sekolah Satu Dapur’, Solusi Keracunan MBG

KARAWANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah pusat adalah kebijakan strategis untuk mendukung tumbuh kembang anak bangsa serta menekan angka stunting. Namun dalam praktik di lapangan, muncul berbagai persoalan serius yang tidak boleh diabaikan, terutama terkait kualitas makanan, pola distribusi, dan akuntabilitas penyelenggaraan.

Permasalahan di lapangan banyak pendor dadakan dan kuota semu, banyak dapur penyedia makanan muncul secara dadakan hanya untuk mengejar kuota proyek, tanpa standar kelayakan dan tanggung jawab jangka panjang.

Akibatnya, mutu makanan tidak sejalan dengan prinsip gizi seimbang yang menjadi tujuan utama program. Selain itu bahan makanan asal-asalan.

Pengadaan bahan makanan kerap tidak melalui proses seleksi yang ketat. Demi mengejar keuntungan, bahan yang digunakan sering kali tidak segar, bahkan tidak layak konsumsi.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Dalam persoalan lain adalah pendistribusian tidak tepat sasaran. Makanan yang ditimbun berjam-jam sebelum didistribusikan menimbulkan risiko besar, termasuk kejadian keracunan massal pada siswa di beberapa daerah. Ini jelas bertolak belakang dengan semangat program yang ingin melahirkan generasi sehat dan cerdas.

Maka dengan itu, Karawang Budgeting Control (KBC) mendorong agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh dan menerapkan sistem dapur melekat di sekolah dengan prinsip berikut ;

1. Integrasi Penuh dengan Sekolah

Setiap sekolah memiliki dapur sendiri yang dikelola langsung di lingkungan sekolah, bukan oleh pendor eksternal dadakan.

2. Standarisasi Nasional

Pemerintah harus menetapkan standar gizi, higienitas, dan proses masak yang seragam, dengan pengawasan dari pihak sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta komite sekolah, pengawasan kolektif
Guru, komite sekolah, dan orang tua dapat dilibatkan untuk memastikan kualitas makanan sesuai dengan standar gizi.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

3. Dampak Ganda Ekonomi Lokal

Dengan dapur melekat, bahan makanan bisa dipasok langsung dari petani lokal, nelayan, dan UMKM sekitar sekolah. Hal ini tidak hanya menjamin kesegaran bahan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

KBC menilai, program makan gratis tidak boleh sekadar menjadi proyek politik atau seremonial, melainkan harus menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas generasi bangsa. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh atas kejadian.

Berita Lainnya  Pendaki Semeru Hilang, Ketika Aturan Keselamatan Diabaikan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Keracunan dan rendahnya kualitas makanan audit sistem distribusi yang rawan penyalahgunaan, maka penerapan pilot project “Satu Sekolah Satu Dapur” disetiap daerah sebagai model percontohan.

KBC menegaskan, program MBG adalah gagasan mulia yang harus diselamatkan dengan tata kelola yang transparan, profesional, dan berpihak pada anak-anak sebagai penerima manfaat utama.

Satu Sekolah Satu Dapur adalah solusi konkret yang tidak hanya menjamin kesehatan siswa, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat di tingkat lokal.

Ditulis :
Ricky Mulyana
Direktur Eksekutif KBC

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Berawal dari ‘Heureuy’, Pejabat Dishub Sukabumi Lecehkan Siswi PKL, Berakhir Dijemput Polisi

SUKABUMI - Seorang oknum pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sukabumi berinisial TIP yang diduga melakukan pelecehan terhadap siswi Praktik Kerja Lapangan (PKL) telah dijemput...

Tegas! Pemprov Jabar Tutup Aktivitas Pertambangan PT. MPB di Karawang Selatan

KARAWANG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menutup aktivitas pertambangan PT. Mas Putih Belitung  (anak perusahaan PT. Jui Shin Indonesia), yang tidak mematuhi ketentuan...

Singgung Soal ‘Ideologi Politik’, Kepala BGN Malah Salahkan Guru, Orang Tua Siswa, Wartawan hingga LSM yang ‘Ngeramein’ Keracunan MBG

JAKARTA - Meski total korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mencapai hampir 50 ribu orang yang tersebar di 36 provinsi di Indonesia,...

KDM Nyatakan Tidak Ada Pelecehan di Kasus Wabup Sumedang dengan Sekprinya, Netizen Tak Percaya : “Ekspresi Tidak Bisa Berbohong”

BANDUNG - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Wakil Bupati Sumedang, Muhammad Fajar Aldila terhadap sekretaris pribadinya berinisial RY dinyatakan 'clear' oleh Gubernur Jawa...

Disuruh Beli Mi Goreng Malah Mi Kuah, Prajurit TNI AU Meninggal Dianiaya Senior

JAKARTA - Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF), prajurit TNI AU di Magetan, Jawa Timur (Jatim), meninggal secara tak wajar setelah diduga dianiaya seniornya di...

Hukum

KPK Tangkap 17 Orang Terkait Pengurusan HGB di Kabupaten Bogor

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap 17 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Jabodetabek, pada Senin (14/9/2026). Beberapa di antaranya ada Direktur...

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan