Rabu, Februari 11, 2026
spot_img

Benarkah Orang Sunda Sulit Jadi Presiden RI (Bag. 1)

Ya, namanya juga netizen. Belum apa-apa sudah berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi Presiden RI. Padahal masih banyak persoalan di tanah Pasundan yang harus diselesaikan ‘Bapak Aing’.

Mungkin karena sering melihat Dedi Mulyadi di media sosial yang dimana kerja-kerjanya dinilai sebagai pemimpin pro rakyat.

Tak banyak melakukan rapat atau kegiatan seremonial, rapat dan kegiatan gunting pita hanya cukup dilakukan sesekali. Selebihnya Dedi Mulyadi turun ke masyarakat untuk mengetahui secara langsung problem pembangunan di bawah.

Alhasil, secara tidak langsung akhirnya netizen terdoktrin rekayasa sosial dan opini publik. Sehingga akhirnya berkesimpulan jika : “Dedi Mulyadi Pantas Menjadi Presiden RI”.

Pertanyaanya, apakah Dedi Mulyadi mampu bersaing dengan Gibran, AHY, Cak Imin atau beberapa tokoh politik potensial lainnya di Pilpres mendatang?.

Terlebih, sejarah Pilpres di Indonesia mencatat bahwa : ORANG SUNDA SULIT MENJADI PRESIDEN. Dan satu-satunya orang sunda yang pernah sukses di Pilpres adalah Umar Wirahadikusumah. Dan itu pun bukan sebagai Presiden. Melainkan hanya sebagai wakil presiden.

Dilansir dari Republika, dari delapan presiden yang memimpin Indonesia, semuanya memiliki darah Jawa. Meski ada anggapan BJ Habibie jadi satu-satunya presiden dari luar etnis Jawa karena dianggap beretnis Gorontalo, pria yang dihormati warga Jerman tersebut menyebut ibunya asli orang Solo. Orang luar Jawa hanya mendapatkan ‘jatah sebagai wakil presiden, seperti Bung Hatta, Umar Wirahadikusumah, Adam Malik, Hamzah Haz, dan Jusuf Kalla.

Satu-satunya orang Sunda yang tercatat pernah menempati posisi Wakil Presiden Indonesia adalah Umar Wirahadikusumah. Pria kelahiran Sumedang tersebut merupakan Wapres ke-4 RI di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Pertanyaannya, mengapa tidak ada orang dari etnis Sunda yang menjadi presiden?

Berita Lainnya  79 Tahun HMI Tegaskan Kritik Konstruktif untuk 'Karawang Maju'

Mantan rektor Universitas Padjadjaran Prof Dr Gandjar Kurnia DEA pernah menjabarkan alasan mengapa Orang Sunda sulit menjadi Presiden. Menurut dia, terlalu jauh jika masyarakat Sunda menuntut menjadi Presiden Republik Indonesia. Sebab, pada kenyataannya, mereka belum memperlihatkan prestasi yang menonjol dalam memimpin wilayah sendiri.

“Gubernur Jabar orang Sunda, para bupati dan wali kota di Jabar umumnya juga orang Sunda. Tapi mengapa kita begini terus? Kondisi alam kita terus mengalami penurunan,” katanya dalam “focused group discussion” di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, seperti diberitakan Republika.

Dia sepakat dengan MAW Brouwer yang mengatakan Tuhan menciptakan tatar Parahyangan dalam keadaan tersenyum. Sebab, kawasan ini memang sangat indah dan subur. Namun, sayang, tatar Pasundan saat ini rusak parah.

“Hutan lindung di Jawa Barat hampir lenyap. Pada musim hujan, sebagian besar wilayah ini banjir. Sebaliknya, di musim kemarau, mereka tak memiliki simpanan air. Sungai yang besar tercemar, sedangkan sungai kecil tak lagi berbekas,” katanya.

Ia juga mengkritisi masyarakat di mana-mana membuang sampah ke selokan. Budaya bersih belum menjadi milik warga Pasundan.

“Parahnya, sawah di daerah Rancaekek seperti telaga warna. Saat tertentu, air sawah berwarna biru, di saat yang lain kuning, berikutnya, merah dan seterusnya. Semua warna partai ada di sawah di Rancaekek,” gurau Gandjar Kurnia.

Dalam paparannya bertema “Masyarakat Sunda dengan Alamnya” Gandjar mengemukakan, menuju masyarakat yang maju, adil dan makmur harus didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sementara alam lingkungan di Tatar Pasundan semakin tidak kondusif menciptakan situasi terbaik itu.

Berita Lainnya  79 Tahun HMI Tegaskan Kritik Konstruktif untuk 'Karawang Maju'

“Bisa jadi, kalau Albert Einstein lahir di Tatar Pasundan, ia bukan jadi ahli fisika dan jadi pemikir hebat, melainkan sekadar jadi tukang bikin peuyeum (tape). Sebab, besar kecilnya pemikiran seseorang sangat bergantung pada lingkungan sekitar yang menciptakannya,” kata Gandjar.

Rektor UPI periode 2005-2015, Prof Dr Sunaryo Kartadinata MPd mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, UPI terus menggali mutiara dalam jati diri masyarakat Sunda. Nilai tersebut dielaborasi untuk kemudian menjadi nilai bangsa dengan melakukan rekayasa sosial melalui pendidikan.

“Kita harus merumuskan tentang pendidikan kesundaan. Paling tidak, ke depan kita harus memiliki pola pikir tentang pendidikan kesundaan,” kata Sunaryo.

Dalam diskusi yang dipandu Prof Dr Aminudin Aziz tersebut, dia mengatakan, terdapat banyak nilai yang perlu digali, diinventarisasi ulang, dan kemudian diformulasikan, nilai yang bagus harus diperkokoh, sementara yang sudah ketinggalan zaman bisa disesuaikan, bahkan yang tidak relevan diganti.

“Banyak nilai Sunda yang menunjuk pada kebijakan lokal (local wisdom). Hal itu ditandai dengan adanya kemampuan bertahan dari budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasikan unsur budaya luar, memiliki kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, mempunyai kemampuan mengendalikan dan mampu memberi arah pada perkembangan budaya,” kata almarhum yang pernah menjabat sebagai Dubes Uzbeskistan tersebut.

Dalam kesempatan itu, dia memperlihatkan hasil penelitian yang menunjukkan orang tua (suami-istri) dengan etnik yang sama sebanyak 77,07 persen menggunakan bahasa ibu, sedangkan 22,97 persen menggunakan bahasa Indonesia. Sementara 22,92 suami-istri yang bukan satu suku Sunda justru menggunakan bahasa ibu sebanyak 81,81 persen dan 18,19 persen menggunakan bahasa Indonesia.

Berita Lainnya  79 Tahun HMI Tegaskan Kritik Konstruktif untuk 'Karawang Maju'

Sedangkan Dr Mikihiro Moriyama, guru besar tentang Indonesia Studies dari Nanzan University Jepang, saat itu mengungkapkan pandangan orang Belanda tentang masyarakat Sunda. Ia merujuk pada sebuah ensiklopedia (anonim) yang disusun orang Belanda awal abad ke-20 yang menyatakan, orang Sunda memiliki beberapa sifat yang dirasakan sangat menarik oleh banyak orang Eropa yang pernah tinggal bersama bangsa itu.

“Dia halus, sopan, suka menolong, ramah, dan menghindari pertengkaran dan perkelahian. Dia sederhana, tidak berlebih-lebihan, tenang, pendiam, pemalu, sopan, dalam pergaulan. Sudah barang tentu, ada pula sifat yang terselubung. Kesopanan dan sifatnya yang penurut sering menjadi sikap membudak dan mencari muka,” kata Mihikiro Moriyama.

Menurut dia, biasanya, orang sunda tidak mempunyai inisiatif, berhemat dianggap aneh baginya, seperti halnya menjunjung kebenaran. “Perjudian dan perbuatan asusila menimbulkan banyak korban di antara orang Sunda,” ujar Mikihiro Moriyama.

Ia juga mengungkapkan, tingkah laku para pimpinan terhadap orang kecil pada umumnya angkuh, khususnya pada zaman dahulu, sehingga dalam hal ini tak ada gambaran yang menyenangkan. Mikihiro menyatakan, nilai yang bagus pada masyarakat Sunda harus dipertahankan, sebaliknya nilai yang sudah ketinggalan harus ditinggalkan.

Bagaimana?, apakah Dedi Mulyadi mampu mencatat sejarah baru di Indonesia sebagai orang sunda pertama yang menjadi presiden?, atau hanya sekedar mampu di tingkat wakil presiden seperti Umar Wirahadikusumah. (Opini Redaksi)

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Noel Sebut ‘Parpol Tiga Huruf’ Terlibat Kasus Pemerasan yang Menjeratnya

JAKARTA - Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer alias Noel kini mengungkapkan bahwa partai politik (parpol) yang terlibat dalam kasus dugaan pemerasan pengurusan...

Pemprov Jabar Akhiri Moratorium, 47 Izin Tambang Kembali Boleh Beroperasi

BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) melunak dengan mengakhiri moratorium 47 ijin usaha pertambangan (IUP). Meski demikian, wilayah yang dipimpin Dedi Mulyadi (KDM)...

Terdampak Proyek Jalan Tol, Pemkab Bekasi Pastikan Relokasi SDN 03 Ciledug

BEKASI -  Pemerintah Kabupaten Bekasi menegaskan relokasi Sekolah Dasar Negeri 03 Ciledug Kecamatan Setu, yang terdampak Proyek Strategis Nasional pembangunan jalan tol telah memasuki...

Mediasi Buntu, Ormas GMPI Ancam Demo Kawasan Surya Cipta

KARAWANG - Mediasi Ormas Gerakan Militansi Pejuang Indonesia (GMPI) dengan pihak pengelola Kawasan Surya Cipta berujung buntu. Mediasi yang hanya dihadiri oleh manajer security...

Tolak Trans Beken, Sopir Angkot di Kota Bekasi Gelar Demonstrasi

KOTA BEKASI - Menolak kehadiran Trans Beken yang baru saja diluncurkan, ratusan sopir angkutan kota (angkot) di Kota Bekasi - Jawa Barat menggelar aksi...

Peristiwa

Sopir Mengantuk, Artis Sinetron Diva Siregar Alami Kecelakaan di Tol Jagorawi

BOGOR - Sopir diduga mengantuk, artis sinetron Diva Siregar mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi di wilayah Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, sekitar pukul 17.00 WIB, pada Sabtu (7/2/2026). Mobil...

CAPTURE

Berita Pilihan

Pemerintahan

spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Pendidikan

- Advertisement -spot_img

INDEKS

HUKUM

KONTROVERSI