PT. Tirta Investama membantah gunakan sumur bor air tanah sebagai sumber air produk Aqua yang dipasarkan kepada masyarakat.
Direktur Komunikasi Korporat Aqua, Vera Galuh Sugijanto bersikukuh sumber yang digunakan Aqua berasal dari air pegunungan. Ia menyebut, klaim Aqua bisa dibuktikan melalui studi geologi maupun hidrogeologi.
Namun demikian, klarifikasi Aqua ini seolah tidak mempan bagi warganet yang sudah terlanjur percaya dengan inspeksi mendadak (Sidak) Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu di salah satu pabrik Aqua Subang.
Dalam inspeksi itu, keterangan sumber air dari sumur bor dalam justru disampaikan oleh salah satu perwakilan perusahaan Aqua di Subang.
Berbanding terbalik dengan keterangan Vera Galuh yang mengklaim berasal dari air pegunungan sebagaimana saat menyambangi Kantor Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) di Jakarta, Selasa, 28 Oktober 2025 kemarin.
Klarifikasi pihak Aqua ini pun langsung dibanjiri komentar warganet. Salah satunya di unggahan video Instagram RMOL yang sudah dilihat lebih dari 58 ribu pengguna.
Tak sedikit warganet mempertanyakan inkonsistensi pernyataan dari pihak Aqua.
“Berasal dari air pegunungan tapi dibor. Au ah gelap,” tulis akun Al_miswar28 dikutip Rabu, 29 Oktober 2025.
“Tetap saja itu sih sumur bor, bu,” balas akun ferryfitriah.
“Selama kamu tinggal dekat gunung, kamu mau bikin sumur apa ngebor itu namanya air pegunungan guys,” sindir akun bagusproperty.
Sementara itu, ada pula warganet yang menantang balik pihak Aqua untuk membeberkan hasil riset yang menjadi dasar argumen Aqua menggunakan sumber air pegunungan.
“Bolehlah di-share hasil riset air bor sebagai air pegunungan?” ujar akun raven_mocker.
Sementara dilansir Kompas.com, Perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua menegaskan telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah di Jawa Barat melalui pembayaran pajak dan retribusi.
Meski begitu, pihak perusahaan tidak merinci nominal kontribusi yang diberikan ke pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota tempat mereka beroperasi.
“Mohon maaf, kami tidak dapat menyebutkan secara detail angka kontribusi tersebut. Namun, kontribusi Aqua terhadap APBD Jawa Barat diwujudkan dalam bentuk pembayaran pajak dan retribusi yang dilakukan sesuai dengan aturan nasional dan daerah tempat Aqua beroperasi,” ujar Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat WhatsApp, Kamis (30/10/2025).
Arif menjelaskan, seluruh proses pembayaran pajak dilakukan secara transparan dan diaudit oleh instansi pemerintah terkait.
“Proses tersebut dilakukan secara transparan dan diaudit oleh instansi pemerintah terkait,” katanya.
Ia menambahkan, Aqua berkomitmen menjalankan operasional sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku serta memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
Selain kontribusi ekonomi, Aqua juga berupaya memberikan manfaat sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar pabrik.
“Aqua berkomitmen agar keberadaan perusahaan membawa manfaat nyata, mulai dari akses air bersih, konservasi lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal,” ucap Arif.
Untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air, kata Arif, perusahaan menjalankan program konservasi sumber daya air Daerah Aliran Sungai (DAS) di berbagai wilayah operasional yang tersertifikasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Sejumlah program yang dijalankan antara lain penanaman lebih dari 2,6 juta pohon secara nasional, pembangunan sumur resapan dan rorak, serta pengelolaan keanekaragaman hayati di 17 area taman konservasi.
Selain itu, Aqua juga melaksanakan program WASH (Water Access, Sanitation, and Hygiene) yang telah memberi manfaat bagi lebih dari 500.000 penerima, serta menerapkan prinsip pertanian regeneratif, ekonomi sirkular, dan pengelolaan sampah.
“Kami juga aktif berdialog dan melibatkan masyarakat serta LSM untuk memastikan pengelolaan air yang adil, transparan, dan berkelanjutan melalui pendekatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” pungkas Arif.
Minta Kantor Pusat Aqua Pindah ke Jabar
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Barat, termasuk Aqua, agar membangun kantor pusatnya di provinsi tersebut.
“Gini loh perusahaan-perusahaan di Jawa Barat ini, kan kantor pusatnya semuanya di luar Jawa Barat. Kita nggak boleh nyebut tempat. Di luar Jawa Barat, nah di situ kalau kantor pusatnya di luar Jawa Barat, maka yang paling nyaman itu yang punya kantor pusat,” kata Dedi saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (29/10/2025).
Menurut Dedi, keberadaan kantor pusat di luar Jawa Barat membuat dana bagi hasil (DBH) justru mengalir ke daerah tempat kantor pusat berada, bukan ke daerah di mana aktivitas ekonomi dilakukan.
“Nah saya ingin kantor pusatnya di Jawa Barat dong, agar dana bagi hasilnya kembali ke masyarakat Jabar sebagai objek di mana usaha itu dilakukan,” ujarnya.
Sumber : RMOL.id – Kompas.com










