Kamis, Juli 9, 2026
spot_img

Satu Persatu Mal di Kota Bekasi Gulung Tikar

KOTA BEKASI – Dulu jadi tempat favorit warga untuk berbelanja dan bersantai, kini banyak mal di Bekasi yang nasibnya kian suram. Dari Borobudur Plaza di Bekasi Timur hingga Grand Mall Bekasi di kawasan Harapan Mulya, satu per satu pusat perbelanjaan itu tutup.

Fenomena ini tak luput dari perhatian Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. Ia menilai, sepinya mal bukan semata karena lesunya ekonomi atau daya beli masyarakat yang turun.

“Kalau kita lihat kan sebetulnya bukan karena sekadar ekonomi dan daya beli, tapi kan kemudian juga (pengelola) mal-nya yang harus berbenah diri,” ujar Tri di Kantor Pemkot Bekasi, Senin (13/10/2025).

Menurut Tri, di era dengan banyak pilihan hiburan dan belanja digital, inovasi menjadi kunci bertahan hidup.

“Karena bagaimana pun juga mal-nya yang harus berbenah diri, karena bagaimana pun juga banyak pilihan-pilihan. Terkait dengan tingkat kenyamanan kemudian style. Jadi artinya harus ada inovasi yang kemudian dimunculkan dari pengelola agar tetap berjalan dengan baik,” kata dia.

Borobudur Plaza: Mal lawas yang “mati” perlahan

Borobudur Plaza di Jalan Ir. H. Juanda, Bekasi Timur, pernah jadi primadona 1990-an. Namun kini, bangunannya terbengkalai dan jarang dibuka.

Seorang warga, Safrizal (50), menyebut mal itu kini hanya beroperasi menjelang Lebaran. “Kalau buka setiap hari sih udah enggak ya, tutup. Dia paling kalau jelang Idul Fitri, Lebaran, nah itu buka,” kata Safrizal, Sabtu (11/10/2025).

Safrizal menduga, ketatnya persaingan dan maraknya toko daring membuat Borobudur Plaza kehilangan napas.

“Mungkin karena persaingan usaha sudah ketat. Online kan lebih murah,” ujarnya.

Kondisi fisik bangunan kini memperlihatkan kemerosotan yang dalam.

Cat oranye dan merahnya memudar, dinding retak, serta pintu masuk yang dikunci rapat. Di area parkir, rerumputan liar tumbuh dan sampah berserakan.

Beberapa orang bahkan memanfaatkan halaman mal untuk beristirahat atau tidur.

Kompas.com sudah berupaya menghubungi pihak pengelola Borobudur Plaza mengenai tutupnya mal. Namun, hingga kini belum ada penjelasan soal itu.

Grand Mall Bekasi: Ikon yang padam

Tak jauh berbeda, Grand Mall Bekasi yang sempat jadi ikon belanja warga timur Jakarta kini senyap tanpa kehidupan.

Berdiri dengan konsep family mall, tempat ini pernah jadi magnet warga untuk berbelanja, makan, dan menonton film.

Kini, semua pintu terkunci, lorong gelap tanpa penerangan, dan papan bertuliskan “dijual” atau “disewakan” terpasang di mana-mana.

Sebuah restoran cepat saji di samping pintu utama bahkan sudah menurunkan spanduk perpisahan.

“Terima kasih sudah mensupport kami selama ini. Bila ingin mengunjungi outlet kami, silakan ke KFC Summarecon Mall Bekasi atau KFC Harapan Indah,” demikian tulisan tersebut.

Menurut Icha (20), penjaga salah satu ruko di sekitar mal, Grand Mall sudah lama kehilangan pengunjung.

“Enggak ada pengunjung yang ke sini, toko-toko juga enggak ada yang buka,” katanya.

Warga lain, Vina (18), menambahkan bahwa suasana ramai hanya datang dari ruko luar mal yang masih beroperasi.

Pihak pengelola pun membenarkan kabar penutupan itu.

Sufala Handri, Senior Head Department Marketing Communication Grand Mall Bekasi, menyebut operasional mal resmi dihentikan sementara sejak 1 Januari 2025.

“Memang untuk operasional Grand Mall Bekasi, area mal atau ritelnya ditutup sementara sesuai keputusan manajemen sejak 1 Januari 2025,” ujarnya.

Keputusan itu diambil karena tekanan ekonomi yang membuat banyak tenant angkat kaki.

“Karena memang di dalam mal itu banyak kepemilikan. Para tenant juga memilih tutup sementara saat ini. Mungkin balik lagi karena faktor ekonomi dan pertimbangan cost,” kata Sufala.

Fenomena tutupnya mal di Bekasi mencerminkan perubahan besar dalam perilaku masyarakat.

Belanja online, maraknya kafe independen, serta hadirnya pusat hiburan baru di luar mal membuat daya tarik gedung-gedung lama itu memudar.***

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2025/10/13/14235281/satu-per-satu-mal-di-bekasi-gulung-tikar?page=2.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

Khawatir Ganggu Nilai Pluralisme, Tokoh Masyarakat ini Tak Setuju Jika Nama Jawa Barat Diganti dengan Tatar Sunda

KARAWANG - H. Toto Suripto, tokoh masyarakat Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengaku tidak setuju jika nama Provinsi Jawa Barat dirubah menjadi Tatar Sunda. Dikatakan Toto,...

Soal Usulan Pergantian Nama Jawa Barat, Seluruh Fraksi DPRD Jabar Beri ‘Lampu Hijau’

BANDUNG - Wacana pergantian nama Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi Tatar Sunda memasuki babak baru setelah seluruh fraksi di DPRD resmi memberikan lampu hijau...

Dugaan Pungli Pasar Bantargebang, Kejari Kota Bekasi Segera Periksa Kepala Disdagperin

KOTA BEKASI – Penyidikan kasus dugaan pungutan liar (pungli) pengadaan dan pengelolaan fasilitas Pasar Bantargebang terus terus berjalan. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bekasi kini...

Dulu Puji-puji dan Berlindung di Ketiak Dedi Mulyadi, Sekarang Lurah Jujun Serang Balik

KARAWANG - Siapa yang tidak tahu kedekatan antara Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) dengan Lurah Jujun atau Kades Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur,...

Dedi Mulyadi Beri Sanksi Om Zein, Renovasi 10 Rumah Janda Pakai Uang Pribadi dan Sekolahkan Anaknya

BANDUNG - Sambil menunggu sanksi yang akan diberikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) juga memanggil Bupati Purwakarta, Saepul...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan