Minggu, Maret 29, 2026
spot_img

Dedi Mulyadi : Duit PKH Dipakai Buat Bayar Bank Emok

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti maraknya masyarakat menengah ke bawah yang terjerat utang, sehingga mengakibatkan ketergantungan pada bantuan pemerintah.

Dia mengatakan, setiap hari beban ekonomi yang terus menumpuk, mulai dari kebutuhan pokok hingga biaya pendidikan anak, menjadi tekanan utama dalam rumah tangga, terutama bagi keluarga dengan anak usia sekolah.

Pengeluaran rutin kerap melebihi pendapatan, mendorong mereka terpaksa berutang, mulai dari bank emok, bank keliling, hingga pinjaman online (pinjol).

“Problemnya apa? Satu, jajan anaknya tidak pernah berhenti setiap hari. Dua, ketika outing class, dia memaksakan diri. Ketiga, ketika study tour, mereka memaksakan diri. Empat, ketika perpisahan, memaksakan diri,” ujar Dedi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/6/2025).

Berita Lainnya  Bupati Karawang Ajak Warga Meriahkan Malam Takbiran dengan 'Festival Bedug Ngadulag'

Dedi Mulyadi mengaku, dari hasil analisis data yang diketahuinya, pergerakan uang di Jabar yang berasal dari rentenir, bank emok, dan lainnya, mayoritas lahir dari komunitas ibu-ibu di rukun tetangga (RT).

Mereka adalah kaki tangan dari peredaran uang gelap tersebut dengan bunga yang sangat tinggi.

Menurut dia, persoalan kaum menengah ke bawah di Jabar ini semakin problematik ketika diberikan bantuan sosial (bansos) melalui Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi ujungnya tidak dijadikan modal.

Berita Lainnya  Wakapolda Jabar Sidak Pospam Mudik di Purwakarta

“Duit PKH dipakai buat bayar bank emok, muncul lagi lewat bantuan ekonomi pinjaman modal, uangnya akan selalu habis,” kata Dedi.

Dedi menyimpulkan, untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mengurangi beban ekonominya, maka diperlukan empat hal, yakni membebaskan kaum menengah ke bawah dari biaya pendidikan, biaya pengobatan, biaya listrik, dan memberikan jaminan hari tua yang memadai.

“Ekosistem pendidikan saat ini melahirkan kekacauan yang membuat beban ekonomi memaksa orangtua untuk mencari jalan pintas,” ucapnya.

Berita Lainnya  Baznas Bekasi Salurkan Bantuan 'Fii Sabilillah' untuk Seribu Guru Ngaji dan Imam Masjid

“Karena itu, melarang study tour, melarang perpisahan, atau wisuda sekolah adalah upayanya meretas jalan agar warga Jabar terbebas dari beban ekonomi dunia pendidikan,” tuturnya.***

Sumber : Kompas

 

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi opiniplus.com dan dapat mengalami pembaruan..
Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

#Tag Populer

Top News

SC Muskab KADIN Jawab Isu ‘Cawe-cawe’, Bupati Aep : Semua Calon Orang-orang Terbaik dan Berintegritas

KARAWANG - Perhelatan calon ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Karawang mulai menuai sorotan publik. Hal ini berawal karena adanya dugaan 'cawe-cawe' pejabat...

Dedi Mulyadi Geram Lihat Gapura Kumuh Penuh Sampah dan Banyak PKL

SUBANG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), kembali menunjukkan aksi tegasnya saat memantau kondisi gapura perbatasan antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat...

Polisi Selidiki Penemuan Jasad Bayi di Aliran Kali Pacing – Bekasi

BEKASI - Petugas kepolisian menyelidiki kasus penemuan jasad bayi berjenis kelamin laki-laki di aliran Kali Pacing, Desa Waringin Jaya, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa...

Profil 3 Calon Ketua KADIN Karawang, Berebut Restu Bupati Aep

KARAWANG - Perhelatan pemilihan ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Karawang pada Muskab ke-VIII yang akan digelar di Mercure Hotel Karawang pada 15...

Kapolda Jabar Cek Kesiapan Arus Balik di Rest Area Tol Cipali

SUBANG – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Rudi Setiawan melakukan pengecekan langsung kesiapan arus balik Idul Fitri 1447 H/2026 M di sejumlah rest area...

Hukum

CAPTURE

Berita Pilihan

spot_img

Peristiwa

spot_img
spot_img

Kriminal

spot_img
spot_img

Politik

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img
spot_img

INDEKS

Pemerintahan

Pendidikan