KARAWANG – Menutup kegiatan di luar kedinasan jelang hari lebaran, Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh mengajak para anak yatim piatu untuk belanja baju lebaran di salah satu mall. Momen ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para anak yatim piatu asal Kecamatan Klari tersebut.
“Alhamdulillah, sore ini berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim piatu yang kita
rawat dan bina di Klari. Kami ajak berbelanja baju, celana dan sendal untuk kebutuhan lebaran yang sebentar lagi tiba,” tutur Bupati Aep, melalui status instagram @aep_syaepulohse , yang sudah dikonfirmasi Opiniplus.com.
Diungkapkannya, makna baju lebaran bukan sekadar memilih warna dan ukuran, tapi memilih kebahagiaan untuk mereka yang
jarang merasakannya. Hal inilah yang seharusnya menjadi motivasi bagi setiap ‘muslim mampu’ untuk membahagiakan anak yatim piatu di setiap momentum perayaan lebaran.
“Melihat senyum anak-anak yatim piatu saat mencoba baju baru, seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan sederhana bisa jadi sangat berarti,” ungkapnya.
“Di hari kemenangan nanti, semoga mereka juga bisa merasakan hangatnya kebersamaan dan indahnya berbagi.
Karena sejatinya, lebaran bukan hanya tentang apa yang kita pakai, tapi tentang siapa yang kita bahagiakan” kata Kanda Jiep (sapaan akrab Bupati Aep), yang diketahui sebagai calon Anggota Kehormatan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Karawang.
Santuni Ratusan Yatim Piatu dan Jompo di Kampung Halaman
Selain mengajak anak yatim piatu belanja baju lebaran di mall, Kanda Jiep juga terpantau menyantuni ratusan anak yatim piatu dan jompo di kampung halamannya.
Bertempat di Aula Desa Anggadita Kecamatan Klari, sebanyak 514 jompo dan 188 anak yatim piatu mendapatkan santunan, Rabu (18/3/2026) sore.
“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk saling peduli dan berbagi. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban dan membawa kebahagiaan,” tuturnya.

Disampaikan Kanda Jiep, Desa Anggadita memiliki makna khusus dalam hidupnya. Ia tumbuh dan besar di desa tersebut, sehingga kegiatan ini menjadi momen emosional sekaligus bentuk rasa syukur dan pengabdian kepada kampung halaman.
“Anggadita bukan hanya tempat saya dilahirkan, tetapi juga tempat saya belajar banyak hal tentang kehidupan. Kegiatan ini menjadi cara saya untuk kembali dan berbagi dengan masyarakat,” tambahnya.***










