Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menghentikan sementara pembangunan proyek pusat data AI (AI Data Center) milik BDx Data Centres di Jatiluhur, Purwakarta, karena dokumen AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum rampung, Senin (28/9/2026).
Saat melakukan peninjauan dan bertanya langsung kepada konsultan perizinan, diketahui bahwa pembangunan sudah berjalan. Padahal dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) masih berproses dan PBG belum terbit.
KDM meminta agar aktivitas pembangunan dihentikan sementara waktu hingga seluruh perizinan resmi diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
Diketahui, proyek senilai Rp3,5 triliun berkapasitas total 640 MW ini juga disorot terkait proyeksi penggunaan pasokan air yang besar untuk sistem pendingin, yang dikhawatirkan dapat berdampak pada alokasi air bersih warga dan petani sekitar.

Diberitakan sebelumnya, KDM ikut meresmikan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Proyek senilai sekitar Rp3,5 triliun itu diproyeksikan menjadi salah satu pusat data AI terbesar di Indonesia dengan kapasitas akhir mencapai 640 MW dan enam gedung yang dibangun bertahap.
Di tengah optimisme investasi tersebut, perhatian publik justru mengarah pada kebutuhan air proyek yang disebut bisa mencapai puluhan ribu meter kubik per hari saat seluruh fasilitas beroperasi.
Pusat data itu dibangun sekitar lima kilometer dari kawasan Waduk Jatiluhur, salah satu sumber air terpenting di Jawa Barat.
Tahap pertama berupa Gedung 1 berkapasitas 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Untuk menopang operasionalnya, proyek tersebut juga memperoleh alokasi pasokan listrik sebesar 845 MVA dari PLN.
Selain kebutuhan energi yang besar, sistem komputasi AI di kompleks itu akan menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling yang membutuhkan pasokan air untuk proses pendinginan server.
Angka kebutuhan air itulah yang kini menjadi sorotan. Pada tahap awal operasional, kebutuhan air diperkirakan mencapai sekitar 6.000 meter kubik per hari. Ketika seluruh kompleks beroperasi penuh, kebutuhan tersebut disebut dapat meningkat menjadi sekitar 33.000 hingga 36.000 meter kubik per hari.
Jumlah itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pasokan air masyarakat dan sektor pertanian yang selama ini bergantung pada sistem air dari kawasan Jatiluhur.***

